BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Memberi yang Wajib, Menghidupi yang Benar
Selasa, 02 Juni 2026. Hari Biasa Pekan IX. 2 Petrus 3:12-15a.17-18; Markus 12:13-17
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARA-saudari yang terkasih. Ketika mendengar kata pajak, tidak sedikit orang langsung merasakan keberatan, bahkan kekecewaan. Bagi sebagian orang, pajak bukan lagi dipandang sebagai bentuk partisipasi warga negara untuk membangun kehidupan bersama, melainkan sebagai beban yang terasa semakin berat.
Tidak jarang muncul pertanyaan dalam hati, “Mengapa saya harus memberikan hasil jerih payah saya kepada pihak yang tidak ikut merasakan susah payah perjuangan saya?”
Perasaan seperti itu pernah muncul dalam sebuah video yang sempat ramai diperbincangkan di media sosial. Seorang ibu mengungkapkan kegelisahannya karena harus membayar pajak atas usaha yang dibangunnya dari nol. Ia merasa bahwa usaha itu lahir dari kerja keras, pengorbanan, bahkan utang yang harus ditanggung sendiri. Ketika usahanya mulai berkembang, negara hadir untuk meminta bagian melalui pajak.
Terlepas dari setuju atau tidak dengan pendapatnya, suara itu sesungguhnya mewakili kegelisahan banyak orang yang berjuang keras dalam hidup dan bertanya tentang makna kewajiban serta keadilan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Menjadi Pengelola atau Pemilik?
Kegelisahan yang serupa sebenarnya juga muncul dalam Injil hari ini. Yesus ditanya tentang kewajiban membayar pajak kepada Kaisar. Pertanyaan itu bukan sekadar persoalan ekonomi atau politik, melainkan jebakan yang dirancang untuk menjatuhkannya.
Namun, Yesus tidak terperangkap. Ia menjawab dengan kebijaksanaan yang melampaui perdebatan saat itu, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah.”
Melalui jawaban itu, Yesus tidak sedang memisahkan kehidupan duniawi dari kehidupan rohani. Sebaliknya, Ia mengajarkan integritas hidup. Menjadi murid Kristus berarti mampu menjalankan tanggung jawab sebagai warga masyarakat sekaligus tetap setia kepada Allah.
Ada kewajiban yang harus kita tunaikan kepada negara, tetapi ada juga tanggung jawab yang lebih mendasar kepada Tuhan, yakni mempersembahkan hidup yang jujur, benar, dan penuh kasih.
Baca juga:BUSA-H ( Butiran Sabda Allah-Harian) Inti Tritunggal: Bukan Angka, Melainkan Relasi Kasih
Bacaan pertama semakin menegaskan panggilan itu. Rasul Petrus mengajak umat untuk hidup kudus dan saleh. Kekudusan tidak hanya tampak dalam doa dan ibadat, tetapi juga dalam cara kita menjalankan tanggung jawab sehari-hari.
Menjadi warga negara yang baik, berlaku jujur, menghormati aturan yang adil, serta tidak terlibat dalam tipu daya dan ketidakbenaran merupakan bagian dari kesaksian iman. Sebab orang beriman dipanggil bukan hanya untuk hidup benar di hadapan Allah, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk menjaga keseimbangan hidup. Kita dipanggil bekerja dan berjuang dengan sungguh-sungguh di dunia ini, tetapi jangan sampai kehilangan arah menuju Allah.
Kita dipanggil menjadi warga negara yang bertanggung jawab, namun sekaligus murid Kristus yang setia. Sebab yang paling penting bukan hanya apa yang kita berikan kepada negara, melainkan apakah kita telah memberikan hati dan hidup kita kepada Tuhan yang menjadi sumber segala sesuatu.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Biarkan Hatimu Menjadi Hambar
Petikan BUSA-H untuk kita #02/06/26:
”Tidak sulit memberikan sebagian milik kita kepada Tuhan; yang jauh lebih sulit adalah membiarkan seluruh hidup kita menjadi milik-Nya.”
”Kejujuran dan tanggung jawab bukan hanya tanda warga negara yang baik, tetapi juga tanda murid Kristus yang dewasa dalam iman.”
”Jangan sampai tangan kita sibuk bekerja di dunia, tetapi hati kita kehilangan arah menuju Tuhan.”
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@





