BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kasih yang Berbuah di Surga
Senin, 03 November 2025. Hari Biasa Pekan XXXI. Roma 11:29-36; Lukas 14:12-14.
Oleh: Rd.Fidelis Dua.
SAUDARI-saudara terkasih, hidup saat ini sering diwarnai oleh cara berpikir untung dan rugi. Kita memberi karena berharap kembali, kita menolong karena ingin dikenang, kita bekerja karena ingin dihargai. Namun di balik perhitungan itu, kita sering kehilangan jiwa dari kasih itu sendiri, yakni kasih yang memberi tanpa menuntut, yang berkorban tanpa menghitung.
Rasul Paulus hari ini menegaskan sesuatu yang mengguncang hati kita: “Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya.” (Rm 11:29). Artinya, kasih Allah bukan transaksi; Ia tidak pernah menyesal mencintai kita, meski kita sering mengecewakan-Nya dengan ketigaksetiaan dan dosa-dosa kita.
Di hadapan kasih-Nya, kita semua hanyalah penerima anugerah. Semua berasal dari Allah, ada karena Allah, dan menuju kepada Allah. Maka satu kesadaran spiritual yang mesti ada dalam diri kita adalah tahu bahwa hidup kita bukan milik kita sendiri, tetapi arus kasih yang mengalir dari hati Tuhan.
Filsuf kontemporer Jean Vanier pernah menulis, “Kasih sejati dimulai ketika kita berhenti menuntut balasan.” Inilah makna Injil hari ini. Yesus menantang logika manusia yang mengundang mereka yang bisa membalas. Ia berkata: “Bila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang miskin, cacat, lumpuh, dan buta.” Mengapa? Karena di sanalah kasih menjadi murni, kasih yang tidak menunggu terima kasih, kasih yang tak bergantung pada posisi, kekuatan, atau balasan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kasih yang Melampaui Kematian
Mendiang Paus Fransiskus pernah mengingatkan, “Kasih yang sejati adalah kasih yang turun ke jalan, menyentuh luka-luka kemanusiaan.” Maka, kasih yang sejati bukan berhenti di altar, tetapi melangkah keluar dari altar. Bukan berhenti di doa, tetapi menjadi perbuatan.Ketika kita melayani yang miskin, menolong yang tertinggal, menyapa yang terluka saat itulah kita menyentuh wajah Allah sendiri.
Saudari-saudara, kasih Allah tidak pernah menyesal, tetapi sering kita yang menyesali bahwa kita tidak mengasihi lebih banyak. Hari ini, Tuhan memanggil kita untuk memperbarui cara kita mengasihi bukan karena nyaman, tetapi karena setia; bukan karena mampu, tetapi karena mau.
Inilah yang mesti kita percaya bahwa hanya kasih yang memberi tanpa syarat, yang akan menemukan kebahagiaan sejati dalam kebangkitan orang-orang benar. Ini pula jaminannya! Dan siapa di antara kita yang tidak rindu akan jaminan itu? Maka, marilah kita berjuang untuk terus mencintai meski tak dibalas, mengasihi meski tidak dihargai.
Sebab mencintai tanpa balasan adalah perjuangan seumur hidup. Dan ketika tiba saatnya kita berpulang, semoga kita ditemukan sedang sungguh-sungguh mencintai. Karena kasih yang sejati tidak berhenti di kubur, tetapi berbuah di surga.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Menjadi Kudus di Tengah Hidup yang Berliku
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
“Kasih sejati tidak pernah menyesal, sebab ia lahir dari hati Allah yang tak pernah berhenti mencintai.”
“Hidup menjadi indah bukan dihiasi apa yang kita miliki, tetapi karena kasih yang kita berikan; sebab kasih yang tulus akan berbuah di surga.”
Tuhan memberkati kita.





