BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Apa yang Sungguh Baru dalam Hidup Kita?
Kamis, 24 September 2026. Hari Biasa Pekan XXV. Kitab Pengkhotbah 1:2-11; Lukas 9:7-9.
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARA-saudari terkasih. Ada satu ironi dalam bacaan hari ini. Pengkhotbah berkata, “Tiada sesuatu yang baru di bawah matahari,” tetapi Injil menceritakan Herodes yang gelisah karena mendengar sesuatu yang tampaknya baru. Ada seorang bernama Yesus. Orang banyak membicarakan-Nya. Ada yang mengatakan Yohanes telah bangkit, ada yang mengatakan Elia telah muncul, ada pula yang mengatakan seorang nabi dahulu telah bangkit.
Herodes panik, tak tenang, tak nyaman. Ia sungguh terganggu. Itulah geliat hatinya. Ia penasaran dan ingin berjumpa dengan Yesus. Tetapi perhatikan, di tengah semua berita itu, Herodes justru tidak tahu siapa Yesus. Ia mempunyai banyak informasi tentang Yesus, tetapi tidak mengenal Yesus.
Bukankah ini juga paradoks zaman kita? Kita hidup di tengah banjir informasi, tetapi sering kekurangan makna. Mata terus melihat, telinga terus mendengar, tetapi hati tetap mencari jawaban.
Di situlah perkataan Pengkhotbah menjadi sangat aktual. Masalah manusia bukan karena tidak ada hal baru. Justru kita terus mengejar yang baru dengan harapan menemukan sesuatu yang akhirnya memuaskan hati.
Baca Juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kosongkan Tangan, Percayakan Hati
Berita berganti, tren berubah, jabatan berakhir, barang menjadi usang, popularitas pun lenyap. Yang baru segera menjadi lama, yang menarik segera kehilangan pesonanya, tetapi hati kembali mencari.
Barangkali inilah kelelahan manusia yang dilihat Pengkhotbah. Maka ia seperti sedang mengajukan pertanyaan yang tidak dapat kita hindari. Kalau semua yang kita kejar akhirnya menjadi usang, adakah sesuatu yang tidak sekadar baru, tetapi sungguh mampu membuat hidup kita menjadi baru?
Injil memberi jawaban yang mengejutkan. Di tengah segala sesuatu yang datang dan berlalu, muncullah Yesus. Herodes bertanya, “Siapa gerangan Dia ini?”
Pertanyaan itu penting, tetapi sekaligus tragis. Sebab Herodes baru saja berkata, “Yohanes kan telah kupenggal kepalanya.” Ia ingin melihat Yesus, tetapi sebelumnya telah membungkam Yohanes yang menyuarakan kebenaran.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dari Merasa Benar Menuju Hidup Benar
Jadi, persoalan Herodes bukan kurangnya tanda, melainkan apa yang ia lakukan ketika kebenaran datang menyentuh hidupnya. Herodes dapat memenggal kepala Yohanes, tetapi tidak dapat memenggal kebenaran yang disuarakan Yohanes. Ia dapat menyingkirkan Yohanes dari hadapannya, tetapi tidak dapat menyingkirkan kegelisahan dari hatinya.
Itulah kebenaran yang selalu aktual, yang bukan baru, tetapi dapat membuat hidup menjadi baru. Bukankah kita pun dapat mencari yang baru, pengalaman rohani baru, khotbah baru, bahkan jawaban baru dari Tuhan, sementara kebenaran yang sudah kita dengar belum kita hidupi?
Saudari dan saudara yang terkasih, kedua bacaan hari ini akhirnya bertemu pada satu titik. Pengkhotbah memperlihatkan manusia yang lelah karena terus mengejar yang baru. Herodes mendengar sesuatu yang baru tentang Yesus, tetapi hidupnya sendiri belum menjadi baru.
Dan di sinilah Kristus hadir bukan sekadar sebagai berita baru, melainkan sebagai Dia yang dapat memperbarui hidup kita. Maka sesungguhnya kita tidak selalu membutuhkan lebih banyak hal baru.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dari Meja Mana Kita Harus Berdiri?
Kita membutuhkan Kristus yang membuat cara kita melihat, mencintai, mengampuni, berharap, dan menjalani hidup menjadi baru. Sebab pada akhirnya, yang paling penting bukan apa yang baru di sekitar kita, tetapi apa yang menjadi baru di dalam diri kita karena berjumpa dengan-Nya.
Saya mengakhiri renungan ini dengan sebuah pantun:
Pagi cerah menyambut mentari,
Burung bernyanyi menyejukkan hati.
Banyak yang baru datang setiap hari,
Kristuslah yang membarui hati.
Petikan BUSA-H #24/09/2026
”Kita sering lelah bukan karena tidak menemukan yang baru, tetapi karena yang baru tidak pernah sanggup mengisi hati.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kemurahan Tuhan Lebih Besar daripada Perhitungan Kita
”Herodes dapat memenggal kepala Yohanes, tetapi tidak dapat memenggal kebenaran yang terus kembali mengusik hatinya dengan kegelisahan yang abadi.”
”Kita dapat mengetahui banyak hal tentang Yesus, namun mesti juga membiarkan Yesus mengubah satu hal baru dalam diri kita.”
”Iman bukanlah perjalanan mencari Tuhan yang selalu memberi sesuatu yang baru, melainkan perjumpaan dengan Kristus yang terus menjadikan hidup kita baru.”
Tuhan memberkati kita#rd.fd@
-
Ping-balik: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Antara Waktu Kita dan Waktu Tuhan – Dewadet





