Selasa, 22 September 2026. Hari Biasa Pekan XXV. Kitab Amsal 21:1-6.10-13; Lukas 8:19-21.

Oleh: RD. Fidelis Dua. 

SAUDARA-saudari terkasih, kita mungkin pernah berkata, “Saya sudah tahu. Saya benar.” Kita tahu bahwa harus sabar, tetapi di rumah justru orang terdekat yang paling sering menerima kemarahan kita.

Kita tahu bahwa harus jujur, tetapi ketika kejujuran mulai merugikan kepentingan kita, kita mulai mencari pembenaran. Ternyata ada jarak antara mengetahui yang baik dan melakukan yang baik.

Kitab Amsal hari ini mengingatkan bahwa “setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri.” Inilah persoalannya. Kita mudah merasa bahwa pikiran kitalah yang paling benar, keputusan kitalah yang paling tepat. Bahkan kesalahan pun dapat kita beri alasan supaya tampak benar.

Tetapi Tuhan tidak berhenti pada apa yang tampak benar di mata kita. Tuhan menguji hati. Sebab ada perbedaan antara hidup benar dan membenarkan hidup kita sendiri. Kita bisa merasa benar karena pandai mencari pembenaran, bahkan merasa benar karena dibenarkan orang lain.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dari Meja Mana Kita Harus Berdiri?

Tetapi hati yang sungguh benar adalah hati yang mau diuji, dikoreksi, dan diluruskan oleh Tuhan. Hati yang benar adalah hati yang terpaut pada Sabda-Nya.

Lalu, seperti apakah hati yang sungguh terpaut pada Sabda itu? Injil hari ini memberikan jawabannya dengan sangat sederhana. Ketika diberitahu bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya berada di luar dan ingin menemui-Nya, Yesus berkata, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakannya.”

Yesus tentu tidak sedang merendahkan Maria, ibu-Nya. Justru Maria adalah teladan seorang beriman yang mendengarkan Sabda dan menyerahkan hidup kepada kehendak Allah. Tetapi melalui jawaban itu Yesus membuka sesuatu yang sangat indah. Ia membuka sebuah keluarga baru yang melampaui hubungan darah.

Kita dapat menjadi dekat dengan-Nya. Kita dapat menjadi keluarga-Nya. Jalannya adalah mendengarkan Sabda dan melaksanakannya.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kemurahan Tuhan Lebih Besar daripada Perhitungan Kita

Perhatikan, Yesus menyatukan dua hal yang sering kita pisahkan. Mendengar dan melakukan. Sebab Sabda tidak diberikan hanya untuk memenuhi kepala, tetapi untuk menyentuh hati, lalu mendapatkan tangan dan kaki dalam kehidupan kita.

Sabda yang sungguh didengar akan menjadi kehidupan. Ia tampak ketika seorang suami menahan kata yang dapat melukai, seorang istri tetap merawat kasih di tengah kelelahan. Orang tua menyediakan hati untuk mendengarkan anaknya. Seseorang berani meminta maaf meskipun gengsinya terluka, dan kita tidak menutup mata terhadap orang yang membutuhkan pertolongan. Di situlah Sabda tidak lagi hanya kita dengar. Sabda mulai hidup di dalam diri kita.

Maka hari ini kita dapat bertanya kepada diri sendiri, Sabda Tuhan mana yang sudah sering saya dengar tetapi belum sungguh saya lakukan? Mungkin kita tidak membutuhkan lebih banyak kata, tetapi keberanian untuk melakukan satu Sabda yang sebenarnya sudah kita ketahui.

Sebab menjadi murid Kristus bukanlah soal seberapa banyak Sabda yang kita ketahui, melainkan seberapa jauh kita membiarkan Sabda itu membentuk hidup kita. Di sanalah hubungan kita dengan Kristus menjadi nyata. Bukan hanya di gereja, tetapi juga di meja makan keluarga, di tempat kerja, di jalan, di telepon genggam kita, dalam cara kita berbicara, mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, dan menggunakan apa yang kita miliki.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Setia dalam Proses, Bertumbuh dalam Ketekunan

Karena itu, hari ini pilihlah satu Sabda yang menyentuh hati, lalu biarkan Sabda itu menjadi satu tindakan konkret. Jika Sabda mengajak mengampuni, mulailah berdamai. Jika Sabda mengajak peduli, hampirilah seseorang yang membutuhkan pertolongan. Jika Sabda menegur ketidakjujuran, beranilah meluruskan yang salah.

Kita tidak harus melakukan sesuatu yang besar. Mulailah dari satu Sabda dan satu tindakan. Sebab Sabda Tuhan baru sungguh kita dengarkan ketika Sabda itu mulai menjadi kehidupan kita.

Saya mengakhiri dengan sebuah pantun:

Perahu berlayar menuju seberang,
Ditiup angin melebarkan layar.
Pandanglah hati, jangan merasa menang,
Biarkan Sabda menuntun hidup benar.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Berhenti Berjalan Bersama Kristus

Petikan BUSA-H #22/09/2026

”Merasa benar membuat kita sibuk mencari pembenaran, tetapi hidup benar membuat kita berani membiarkan Tuhan mengoreksi dan meluruskan hati.”

”Sabda Tuhan tidak hanya ingin singgah di telinga dan memenuhi pikiran, tetapi turun ke hati, lalu mendapatkan tangan dan kaki dalam kehidupan kita.”

“Kedekatan dengan Tuhan tidak diukur dari seberapa banyak Sabda yang kita ketahui, tetapi dari seberapa jauh Sabda itu mengubah cara kita mencintai dan memperlakukan sesama.”

”Kita tidak harus memulai dengan sesuatu yang besar, tetapi mulailah dengan satu Sabda dan satu tindakan, sebab Sabda yang sungguh didengarkan akan menjadi kehidupan.”

Tuhan memberkati kita#rd.fd@

Komentar

1 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan