Minggu, 25 Oktober 2026. Hari Minggu Biasa XXX. Keluaran 22:21-27; 1 Tesalonika 1:5c-10; Matius 22:34-40.

OLEH: Fidelis Dua

SAUDARA-saudari terkasih dalam Kristus, Santo Agustinus pernah berkata, “Kasihilah, dan lakukanlah apa yang kau kehendaki.”

Ungkapan ini bukan berarti kita bebas melakukan apa saja, melainkan bahwa hati yang sungguh dipenuhi kasih akan menuntun kita untuk melakukan yang baik. Namun, dalam kenyataan sehari-hari, kasih yang kita ucapkan belum selalu menjadi kasih yang kita lakukan.

Kita bisa begitu rajin berdoa, tetapi masih sulit memberikan perhatian kepada orang yang sangat membutuhkan. Kita bisa begitu khusyuk di hadapan altar, tetapi masih mudah bersikap acuh tak acuh terhadap sesama yang sedang menanggung beban berat.

Iman kita tampak hidup dalam ibadat, tetapi kadang kehilangan kehangatannya dalam perjumpaan sehari-hari. Karena itu, sabda Tuhan pada hari Minggu ini mengajak kita memeriksa kembali keaslian kasih kita. Sebab kasih kepada Allah tidak cukup diucapkan dengan bibir, tetapi harus dapat dirasakan oleh orang lain melalui cara kita hidup.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kesabaran Tuhan Bukan Izin untuk Menunda Pertobatan

Dalam bacaan pertama, Allah berbicara dengan sangat tegas melalui Kitab Keluaran. Orang asing tidak boleh ditindas, janda dan anak yatim tidak boleh diperlakukan sewenang-wenang, dan orang miskin tidak boleh diperas. Bahkan ketika orang miskin berseru kepada-Nya, Allah berjanji akan mendengarkan, “Sebab Aku ini pengasih” (Kel. 22:27).

Betapa indah sekaligus menantangnya sabda ini! Allah tidak hanya hadir dalam doa orang yang saleh, tetapi juga mendengarkan tangisan mereka yang diperlakukan tidak adil. Karena itu, kasih tidak boleh berhenti pada rasa iba. Kasih harus menjadi keberanian untuk memperlakukan setiap orang secara manusiawi.

Di tengah kehidupan sekarang, ketika orang mudah dinilai dari jabatan, kekayaan, penampilan, dan jumlah pengikut di media sosial, Tuhan mengingatkan bahwa martabat manusia tidak pernah ditentukan oleh semua itu.

Seorang pekerja kecil yang diperlakukan dengan hormat, seorang lansia yang tidak diabaikan, atau seorang miskin yang didengarkan dengan sungguh-sungguh, semuanya menjadi tanda bahwa kasih Allah masih bekerja di tengah dunia saat ini.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Membaca Tanda Zaman dengan Mata Iman di Tengah Dunia yang Gaduh

Pesan itu dipertegas Yesus dalam Injil hari ini. Ketika seorang ahli Taurat bertanya tentang hukum yang terutama, Yesus menjawab bahwa kita harus mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri (Mat. 22:37-39).

Yesus tidak memisahkan kasih kepada Allah dari kasih kepada manusia. Keduanya seperti dua sisi dari satu kehidupan iman. Kita tidak mungkin mengaku mencintai Allah yang tidak kelihatan, sementara menutup hati terhadap penderitaan manusia yang ada di depan mata.

Kasih kepada Allah menemukan wujudnya dalam kasih kepada sesama, dan kasih kepada sesama memperoleh kekuatannya dari Allah. Maka, ukuran kasih bukan terutama seberapa indah kata-kata kita, melainkan seberapa besar kehadiran kita membawa kebaikan.

Di rumah, kasih tampak ketika kita mau mendengarkan tanpa sibuk dengan telepon genggam. Di tempat kerja, kasih tampak ketika kita jujur dan tidak mengambil keuntungan dari kelemahan orang lain. Sebab kasih yang sejati tidak sibuk mencari perhatian, tetapi membuat orang lain merasa diperhatikan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Api Kristus Menghangatkan Hati, Bukan Membakar Persaudaraan

Akhirnya, saudara-saudari terkasih, Rasul Paulus dalam bacaan kedua memuji jemaat Tesalonika karena mereka menerima firman di tengah berbagai penderitaan dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Iman mereka tidak berhenti pada kata-kata, tetapi menjadi teladan bagi banyak orang (1Tes. 1:6-8).

Inilah panggilan kita sebagai umat Kristiani. Jangan sampai kita dikenal sebagai orang yang pandai berbicara tentang kasih, tetapi sulit menghadirkan kasih dalam kehidupan nyata. Dunia hari ini tidak kekurangan kata-kata indah tentang kebaikan. Yang sering kurang adalah orang-orang yang sungguh mau melakukannya.

Karena itu, marilah kita pulang dari perayaan Ekaristi ini dengan satu tekad sederhana. Biarlah ada orang yang merasa lebih dihargai karena sikap kita, lebih dikuatkan karena kehadiran kita, dan lebih berani menjalani hidup karena perhatian kita.

Sebab iman yang hidup bukan hanya membuat kita semakin dekat dengan Allah, tetapi juga membuat sesama merasakan bahwa Allah sungguh dekat dengan mereka. Itulah makna sabda Tuhan hari ini, “Sebab Aku ini pengasih.” Semoga kasih Allah yang kita rayakan di altar menjadi kasih yang nyata dalam kehidupan kita.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tangan Penuh Berkat, Hati Kosong Kasih!

Saudara-saudari terkasih, kita sering baru menyadari betapa berharganya seseorang ketika kesempatan untuk menikmati kebersamaan dengannya telah berlalu. Padahal, Tuhan memberi kita kesempatan setiap hari untuk menghadirkan kasih melalui perhatian, kepedulian, dan kehadiran yang tulus.

Jangan menunggu kehilangan untuk mulai menghargai. Jangan menunggu perpisahan untuk menunjukkan kasih. Karena itu, ketika kita pulang nanti, bawalah satu tekad dalam hati. Selama Tuhan masih memberi kita waktu untuk bersama, jangan pernah menunda untuk mengasihi.

Petikan BUSA-H #25/10/2026

“Kasih kepada Allah tidak cukup diucapkan dengan bibir, tetapi harus dirasakan oleh sesama melalui cara kita hidup.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kokoh dalam Kristus, Menyala dalam Iman

“Kasih sejati tidak sibuk mencari perhatian, tetapi selalu berusaha membuat orang lain merasa diperhatikan.”

“Iman yang hidup bukan hanya mendekatkan kita kepada Allah, tetapi juga membuat sesama merasakan kehadiran-Nya melalui kasih kita.”

“Jangan menunggu kehilangan untuk mulai menghargai, dan jangan menunggu perpisahan untuk menunjukkan kasih.”

Tuhan memberkati kita#rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan