MAUMERE,dewadet.com-Perjuangan anggota Paskibraka nasional 2025 asal Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Paulus Gregorius Afrizal berjualan jagung bakar, nasi kuning hingga ojek sepeda motor mengantarnya  ke Istana Merdeka Jakarta mengibarkan bendera pusaka pada peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI memberi inspirasi dan empati  kepada banyak pihak di Tanah Air.

Presiden RI, Prabowo Subianto, Selasa 18 Agustus 2025 memberinya hadiah uang tunai Rp 50 juta. Sementara Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) menghadiahkan sebuah Ipad.

Besok pagi, Kamis 20 Agustus 2025, ibunda Afril, sapaan Gregorius Paulus Afrizal, Magdalena Yuliana akan tampil dalam wawancara eksklusif dengan salah satu stasiun televisi nasional.

“Saya diundang ke Jakarta. Hari ini (siang tadi) saya diantar Bapak Kapolres Sikka (AKBP Bambang Supeno) ke Bandara Frans Seda Maumere berangkat ke Kupang,”kata Magdalena, Rabu siang.

Baca juga: Paulus Gregorius Afrizal Bangga Wakili NTT Kibarkan Bendera Pusaka

“Nanti di Kupang, saya dijemput polisi melanjutkan keberangkatan ke Jakarta. Sampai Jakarta juga nanti diurus oleh polisi,” Magdalena menambahkan.

Ia mengatakan, semua akomodasi dari Maumere sampai Jakarta dan kembali dari Jakarta ke Maumere pada Jumat dini hari, 21 Agustus 2025 telah disediakan. Tapi, keberangkatan Magdalena ke Jakarta belum diketahui oleh Afril yang masih menjalani beberapa kegiatan lain sebelum kembali ke Kupang.

“Tadi  pagi (Rabu), Afril sempat telphon sampaikan  bahwa semua anggota Paskibraka ke Kantor BRI.  Katanya mau diberikan asuransi. Dia sampaikan akan pulang Jumat dini hari hari dari Jakarta,” kata Magdalena.

Baca juga: Presiden Prabowo Beri Hadiah Afril Rp 50 Juta, Sukses di Paskibraka Nasional 2025

Jual Kompor Minyak demi Paskibraka

Kehidupan ibunda Afril sangat berat semenjak ditinggalkan oleh suami. Ia harus  menjadi ‘single parent’ menghidupi enam orang anaknya bekerja serabutan demi sesuap nasi dan pendidikan. Ojek sepeda motor, jual jagung bakar, nasi kuning, nasi merah dan bakso tusuk.

Si sulung Afril, dan adiknya, Aditya bahkan sebebelum berangkat sekolah, mereka bangun dini hari mengolah bahan-bahan makanan untuk dijual oleh ibunya.

Bila ada waktu luang, tak sibuk dengan sekolah dan latihan bela diri, Afril jual nasi kuning dan nasi merah, sedangkan setiap malam minggu, Afril dan Aditya menjajakan jagung bakar di arena car free night Jalan El Tari Maumere.

Penghasilan mereka sangat pas-pasan, Magdalena mengutamakan pendidikan semua anak-anaknya menjadi modal masa depan mereka. Dia juga mendidik semua anak dengan displin, diantaranya memanfaatkan  waktu dan menggunakan handphone. Dia secara rutin memeriksa semua isi pesan di dalam handphone anaknya.

Baca juga: Magdalena Tahan Air Mata, Nonton Afril di Barisan Paskibraka Penurunan Bendera di Istana Merdeka

Sosok Afril, sulung dari enam bersaudara, kata Magdalena, sudah tunjukan disiplin dan kerja keras sejak di bangku SD membantu jual es dan bakso tusuk.  Pada saat  pandemi Covid-19  dan Magdalena terjangkit Covid, Afril dan Aditya diandalkan Magdalena menghidupi mereka sekeluarga.

Siswa kelas XI SMA Frater Maumere, diakui Magdalena juga sangat displin menggunkan waktu setiap hari untuk sekolah, belajar, latihan Karate,  ektrakurikuler di sekolah, membantunnya di rumah dan berdoa.

“Novena Tiga Salam Maeria tak pernah lepas. Pada saat pengumuman seleksi nasional kami berada di Kupang, Afril ada di Gereja Asumta. Dia tahu dia lulus ketika sedang doa di sana,” kisah Magdalena.

Magdalena mengakui, perjuangan Afril mengikuti seleksi nasional sangat berliku. Pada saat verifikasi kesehatan, salah satu item pemeriksaan lupa diberi tanda centang oleh petugas laboratorium kesehatan di Maumere, sehingga Afril harus periksa ulang.

Baca juga: Mama Afril Tak Berkedip Ingin Lihat Anaknya di Barisan Paskibraka di Istana Merdeka

Pemeriksaan ulang ini membutuhkan biaya Rp 175.000.  Magdalena tidak punya cukup uang terpaksa menjual kompor minyak tanah 30 sumbu yang selama ini digunakan unuk usaha makanan nasi kuning. Kompor tersebut dijual seharga Rp 700 ribu.

“Saya sampaikan ke Afril, mama tidak punya uang. Mama akan jual kompor kepada teman mama seorang guru bersedia beli Rp 700 ribu. Ketika pulanng sekolah, saya jemput di sekolah, saya sampaikan kompor sudah laku dan sore kita dokter periksa kesehatan,”cerita Magdalena.*

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan