JAKARTA,dewadet.com-Perselisihan di lingkaran terdekat Presiden Indonesia pernah terjadi di masa Orde Baru. Konflik itu melibatkan Asisten Pribadi (Aspri) Presiden, Ali Moertopo dengan Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), Jenderal Soemitro. Keduanya sama-sama memiliki pengaruh besar di sekitar Soeharto, tetapi berada di jalur kekuasaan yang berbeda.

Dikutip dari CNBC Indonesia, Ali Moertopo sejak 1968 menjadi salah satu Aspri dengan keleluasaan mengelola berbagai operasi intelijen dan operasi khusus (Opsus). Meski hanya berpangkat Mayor Jenderal atau bintang dua, pengaruhnya sangat besar karena menjadi salah satu orang kepercayaan utama Soeharto.

Sementara Soemitro menjabat Pangkopkamtib sejak 1971. Sebagai jenderal bintang empat, dia memegang kewenangan luas menjaga keamanan dan ketertiban nasional, termasuk menghadapi ancaman subversi dan pemberontakan.

Benturan antar keduanya mulai muncul dari 1971 karena wilayah kerja yang kerap bersinggungan. Soemitro menilai keberadaan Opsus yang dipimpin Ali Moertopo berpotensi menimbulkan tumpang tindih dengan lembaga intelijen lain.

“Dengan adanya Opsus, bisa terjadi konflik kepentingan antarintel, misalnya dengan Bakin atau Intel Kopkamtib, sehingga wilayah pekerjaan mereka overlapping. Kadang-kadang terjadi ketegangan yang sebenarnya tak perlu,” ujar Soemitro dalam biografinya Soemitro: Dari Panglima Mulawarman sampai Pangkopkamtib (1994).

Baca juga:Bendung Sutami di Mbay, Sosok Menteri Termiskin, Rumah Dicicil dan Tak Bisa Bayar Rumah Sakit

Di sisi lain, rekan dekat Ali Moertopo, Jusuf Wanandi dalam kesaksian berjudul Menyibak Tabir Orde Baru (2015) menilai, Soemitro juga berupaya memperluas pengaruh melebihi tugas formal yang dimiliki.

Dalam catatannya, pria kelahiran Probolinggo itu disebut kerap bertindak layaknya koordinator pemerintahan sehari-hari dan sering memanggil para menteri ke kantornya. Padahal, bukan bertindak sebagai presiden.

“Pada awal tahun 1970-an, dia bersikap bagaikan orang kepercayaan Soeharto untuk menjalankan roda pemerintahan dan sering memanggil menteri-menteri ke kantornya,” ungkap Jusuf Wanandi.

Besarnya pengaruh kedua tokoh itu sampai memunculkan kecurigaan di antara mereka. Masing-masing pihak diduga menaruh curiga bahwa lawannya memiliki ambisi politik lebih besar, bahkan berpotensi menjadi pesaing Soeharto.

Baca juga:Hari Lahir Pancasila Sempat Dilarang Diperingati di Masa Pemerintahan Orde Baru

Sementara kubu Ali menduga Soemitro ingin menyaingi presiden. Waktu itu beredar dokumen yang mengungkap keinginan Soemitro menjadi presiden. Begitu pula Soemitro yang pernah memperingatkan Ali Moertopo secara langsung.

“Jangan kamu mengadakan machtsvorming (pembentukan kekuatan) dengan tujuan untuk menjatuhkan dia (Soeharto). Kalau itu yang kamu lakukan, kamu akan berhadapan dengan saya,” tegas Soemitro. *

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan