BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Membangun Damai di Tengah Dunia yang Runtuh
Minggu, 16 November 2025. Hari Minggu Biasa XXXIII. Maleakhi 4:1-2a; 2 Tesalonika 3:7-12; Lukas 21:5-19.
Oleh: Rd. Fidelis Dua.
SAUDARA-saudari terkasih dalam Kristus. Kita tentu memiliki kekaguman ketika melihat atau memandang sesuatu yang indah dan megah. Kita kagum pada bangunan-bangunan tinggi yang menjulang, pada kemajuan teknologi yang menakjubkan, pada prestasi manusia yang seolah tanpa batas.
Dalam kekaguman itu, kita merasa dunia ini begitu maju, begitu luar biasa, seakan tidak ada yang mustahil dicapai oleh manusia modern. Namun, di balik kekaguman itu, ada kenyataan yang pelan-pelan mengusik hati kita. Dunia memang maju, tetapi nilai-nilai banyak yang bergeser; ilmu pengetahuan berkembang pesat, tetapi kebijaksanaan semakin langka. Kebenaran dipertanyakan, moralitas menjadi relatif, dan iman sering dipinggirkan oleh gemerlap teknologi serta arus pragmatisme.
Banyak orang hidup seperti sedang mengejar bayangan: bekerja tanpa henti, berpacu dan berlari, sibuk mencari popularitas, uang, dan kekuasaan tetapi perlahan kehilangan kedamaian hati. Orang lupa membangun hati yang tenang, lupa bahwa kedamaian hati justru adalah sumber dari kebahagiaan sejati, yang memberi makna bagi seluruh jerih payah manusia.
Injil Lukas hari ini menggema di tengah kenyataan itu. Ketika para murid Yesus sedang berdiri di pelataran Bait Allah, mereka pun terpesona oleh kemegahan bangunan suci itu—tembok batu yang kokoh, ukiran indah, dan persembahan yang berkilau.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Hening yang Membuka Jalan Rahmat
Tetapi Yesus menatap lebih dalam dari sekadar keindahan lahiriah itu. Ia menatap hati manusia yang sering menaruh harapan pada hal-hal yang fana, lalu berkata dengan tegas: “Tidak satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”
Yesus ingin mengguncang kesadaran mereka dan juga kita bahwa tidak ada satu pun di dunia ini yang kekal selain kedamaian dan kebenaran Allah. Dunia bisa berubah, gedung bisa runtuh, teknologi bisa usang, tetapi kedamaian sejati harus diperjuangkan dan ditegakkan setiap hari. Sebab tanpa damai, segala kemajuan hanyalah topeng yang rapuh.
Karena itu, Yesus mengingatkan kita untuk berhenti hidup dalam permusuhan. Hentikanlah pertikaian, dendam, dan kebencian yang memecah belah. Sebab setiap pribadi dipanggil menjadi jembatan bagi perdamaian, bukan tembok yang memisahkan sesama. Jangan sampai tangan yang seharusnya menyalurkan kasih, justru menjadi alat untuk melukai.
Kata-kata Yesus bukanlah untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membangunkan kita dari rasa aman yang palsu. Rasa aman yang sering dibangun di atas kesombongan, ambisi, dan egoisme. Ia ingin mengingatkan bahwa segala yang kita bangun tanpa dasar kedamaian yang kokoh akan roboh ketika badai datang.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kepekaan Rohani: Jalan Menuju Hadirat Allah
Artinya, bila hidup kita tidak berakar pada kasih dan damai sejati, pada kesetiaan kepada Allah, maka ketika penderitaan dan krisis melanda, semuanya akan runtuh. Karena itu, Yesus menutup peringatannya dengan sebuah janji pengharapan: “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”
Ia tidak hanya memperingatkan, tetapi juga menunjukkan jalan keselamatan, yaitu jalan ketekunan dalam iman dan kedamaian. Sebab hidup yang kuat bukanlah hidup tanpa badai, melainkan hidup yang tetap tenang di tengah badai.
Dalam kenyataan hidup sekarang, banyak orang merasa “aman” karena memiliki segalanya tetapi ketika badai datang dalam bentuk penyakit, konflik, atau krisis moral, orang mudah runtuh, karena dasar hidupnya bukan damai sejati, melainkan kesombongan yang fana.
Sebaliknya, orang sederhana yang berhati damai, seperti seorang ibu yang tetap berdoa dalam kesusahan, seorang guru yang tetap mengajar dengan tulus meski gaji kecil, seorang petani yang tetap bersyukur walau gagal panen. Mereka tampak lemah di mata dunia, tetapi kuat di hadapan Allah. Sebab hidup mereka bertumpu pada damai yang lahir dari iman dan ketekunan. Itulah yang dimaksud Yesus: “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kerajaan Allah Ada Di Antaramu
Pesan ini sejalan dengan nubuat Nabi Maleakhi dalam bacaan pertama hari ini. Nabi Maleakhi berbicara tentang “hari Tuhan” — hari penghakiman, ketika segala kesombongan dan kejahatan akan dibakar seperti jerami, tetapi bagi orang yang takut akan nama Tuhan, akan terbit “matahari kebenaran yang membawa kesembuhan pada sayapnya.”
Inilah dua wajah dari hari Tuhan: api yang menghanguskan bagi yang congkak, tetapi juga api yang menyembuhkan bagi yang setia. Artinya, Allah yang sama yang mengadili juga adalah Allah yang menyembuhkan. Api Tuhan bukan hanya membakar yang jahat, tetapi juga memurnikan yang benar.
Saudara-saudari terkasih. Pesan Nabi Maleakhi sangat relevan di zaman kita. Dunia kini dipenuhi banyak “api”: api kebencian, api iri hati, api hoaks, dan api fitnah yang mudah membakar hati manusia. Banyak orang menikmati “api kesombongan,” merasa hebat karena memiliki banyak dan merasa benar karena opini.
Namun semua itu tidak bertahan di hadapan “api Tuhan,” yang menguji isi hati, bukan tampilan luar. Maka pertanyaan untuk kita: Api apa yang sedang kita pelihara dalam hati: api kesombongan, atau api kasih? Sebab kalau yang menyala di hati kita adalah api kasih, maka api itu tidak membakar, melainkan menghangatkan dan menyembuhkan. Api kasih itulah yang membuat hidup semakin damai bukan hanya damai di dalam hati, tetapi juga damai yang nyata dalam tindakan sehari-hari.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kesetiaan yang Menyatukan
Dan, di sinilah pesan Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika menemukan maknanya. Paulus berbicara dengan sangat realistis. Ia menegur mereka yang hidup tanpa tanggung jawab, yang hanya menunggu tanpa bekerja, yang sibuk berbicara tetapi malas berbuat.
Ia berkata tegas: “Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Perkataan ini bukan tentang kekerasan hati Paulus, melainkan tentang kejujuran dalam iman. Iman sejati tidak membuat kita pasif atau malas, melainkan mendorong kita untuk bekerja dengan tekun dan melayani dengan kasih.
Dalam dunia yang serba cepat dan instan seperti sekarang, pesan Paulus ini semakin relevan. Banyak orang ingin hasil tanpa proses, ingin berkat tanpa usaha, ingin damai tanpa pengorbanan. Tetapi iman Kristiani tidak mengenal jalan pintas. Damai sejati harus diperjuangkan dalam kerja, dalam kesetiaan, dalam tanggung jawab, dan dalam kasih yang nyata.
Paus Fransiskus pernah berkata, “Kesetiaan bukanlah bertahan tanpa arah, tetapi tetap berjalan dalam pengharapan, meski tidak semua jalan terlihat jelas.” Hidup kita memang tidak selalu pasti; kadang api cobaan datang, kadang gedung impian runtuh. Namun di tengah semua itu, Tuhan berkata, “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”
Itulah kekuatan orang beriman: tidak menyerah meski diguncang, tidak takut meski terbakar, dan tidak kehilangan kasih meski segalanya runtuh. Maka, marilah kita belajar menjadi orang-orang yang setia bukan hanya ketika hidup berjalan mulus, tetapi terutama ketika segalanya diuji.
BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Potongan Jubah Kasih: Membalut Luka, Menyingkap Wajah Allah
Sebab setia dalam badai adalah bukti bahwa kita tidak hanya mencintai berkat Allah, tetapi mencintai Allah sendiri. Jadilah pribadi-pribadi yang kuat bertahan dalam iman, bekerja dengan kasih, dan menyalakan api kedamaian di mana pun kita berada.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
“Damai sejati tidak lahir dari keadaan yang aman, tetapi dari hati yang tetap memilih kasih ketika segala sesuatu di luar sedang runtuh.”
“Ketika fondasi hidup lain goyah, hanya ketekunan dalam imanlah yang menjadikan kita berdiri bukan karena kita kuat, tetapi karena Allah menegakkan kita dari dalam.”
Tuhan memberkati kita.





