BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Allah Sumber Relasi yang Memerdekakan
Minggu, 7 September 2025. Hari Minggu Biasa XXIII Hari Minggu Kitab Suci Nasional
Kitab Kebijaksanaan 9:13-18; Filemon 9b-10.12-17; Lukas 14:25-33.
OleH; RD.Fidelis Dua.
SAUDARI dari dan saudara terkasih. Kta hidup di zaman yang begitu kompleks. Dunia bergerak cepat: orang sibuk mengejar target, terhanyut dalam rutinitas, sibuk mengumpulkan materi, atau larut dalam pesona teknologi dan media sosial. Ironisnya, meskipun begitu banyak kemajuan yang kita capai, relasi kita justru sering rapuh: keluarga yang renggang, persahabatan yang mudah putus, dan solidaritas sosial yang semakin menipis.
Banyak orang merasa sendirian di tengah keramaian, lelah di tengah kelimpahan, dan kosong di balik pencapaian yang gemilang. Pertanyaannya: di manakah kita menaruh dasar hidup kita? Siapa yang sungguh menjadi pusat relasi kita?
Bacaan pertama dari Kitab Kebijaksanaan (9:13-18) mengingatkan kita akan keterbatasan manusia. “Manusia manakah dapat mengenal rencana Allah? Pikiran segala makhluk fana adalah hina.”
Betapa sering kita merasa mampu mengatur hidup dengan kepintaran kita, namun akhirnya buntu, salah arah, dan kehilangan makna. Hikmat sejati bukan berasal dari otak cerdas atau rencana besar manusia, melainkan dari Allah sendiri.
Baca juga: BUSA-H ( Butiran Sabda Allah-Harian). Damai yang Membebaskan Lebih Utama dari Sekadar Aturan
Tanpa tuntunan Roh Kudus, kita mudah terikat pada hal-hal fana, dan relasi kita dengan Allah maupun sesama menjadi kering. Kitab Kebijaksanaan mengajak kita rendah hati: membuka diri bagi hikmat Allah, supaya relasi hidup kita dipulihkan dan dituntun sesuai kehendak-Nya.
Lebih lanjut, Surat Rasul Paulus kepada Filemon (9b-10.12-17), menyingkapkan wajah kasih yang sangat indah. Paulus tidak memaksa Filemon untuk menerima Onesimus, seorang budak yang pernah lari darinya. Paulus meminta bukan dengan kekuasaan, tetapi dengan kasih:
“Aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang baik itu kaulakukan bukan karena terpaksa, melainkan dengan sukarela.”
Di sini kita melihat inti dari relasi Kristiani: bukan relasi kuasa, bukan keterpaksaan, tetapi kasih yang membebaskan. Relasi yang sejati dibangun atas dasar kerelaan, pengampunan, dan penerimaan. Bukankah inilah yang sering hilang dalam relasi kita?
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Jangan Hidup Biasa-Biasa Saja
Kita lebih mudah menuntut, memaksa, dan menghakimi, daripada rela menerima dengan kasih. Paulus menunjukkan bahwa Injil tidak hanya mengubah hati pribadi, tetapi juga memperbarui relasi sosial: dari majikan-budak menjadi saudara seiman.
Lalu Injil hari ini, memberi syarat yang mengejutkan bagi murid Kristus: “Barangsiapa tidak melepaskan diri dari segala miliknya, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”
Syarat ini bukan sekadar soal harta benda, tetapi juga ego, ambisi, gengsi, bahkan relasi yang mengikat kita secara salah. Yesus mengajak kita melihat kembali: adakah hal-hal yang membuat kita sulit menjadikan Allah sebagai pusat hidup kita? Adakah kepentingan diri, rasa takut, atau keterikatan duniawi yang membelenggu langkah kita?
Murid Kristus dipanggil untuk bebas tetapi bebas bukan untuk seenaknya, melainkan bebas untuk mengasihi dengan tulus, bebas untuk memberi diri tanpa pamrih, bebas untuk membangun relasi yang sehat dengan Allah dan sesama.
Saudari dan saudara terkasih, kita tengah memasuki Bulan Kitab Suci Nasional dengan tema, “Allah Sumber Pembaruan Relasi Dalam Hidup.”
Dalam terang Sabda Allah, kita diajak untuk membarui setiap relasi dalam hidup sehari-hari. Allah menganugerahkan hikmat agar kita tidak tersesat dalam relasi yang membelenggu atau mengikat, melainkan membangun ikatan yang memerdekakan.
Allah sendiri yang mendamaikan kita, sebagaimana Paulus mendamaikan Filemon dan Onesimus, agar relasi yang retak dipulihkan kembali. Maka, syarat yang diwartakan Yesus untuk menjadi murid-Nya menjadi sangat jelas: berani melepaskan diri dari segala keterikatan, supaya kasih Allah sungguh menguasai dan mengarahkan hidup kita.
Untuk itu kita perlu introspeksi diri sembari bertanya dalam hati: Apakah relasi kita dengan Allah sungguh hidup, atau hanya rutinitas doa tanpa makna? Apakah relasi kita dengan sesama sungguh membawa damai, atau justru penuh luka karena gengsi dan ego? Apakah kita berani melepaskan hal-hal yang membelenggu, agar Allah menjadi pusat relasi kita?
Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Iman yang Bertindak, Doa yang Menjadi Nafas Aksi
Saudari dan saudara terkasih, Hari Minggu Kitab Suci Nasional hari ini merupakan undangan untuk membuka Kitab Suci, tetapi juga membuka hati. Allah ingin memperbarui relasi kita: dengan-Nya, dengan sesama, dan dengan dunia.
Relasi yang dibangun bukan dengan keterpaksaan, melainkan dengan kasih; bukan dengan kuasa, tetapi dengan kerendahan hati; bukan dengan belenggu, melainkan dengan kebebasan Roh Kudus.
Marilah kita pulang dengan tekad baru: menjadikan Allah sebagai sumber segala relasi, agar keluarga kita dipenuhi damai, persaudaraan kita dipenuhi kasih, dan hidup kita menjadi saksi Injil di tengah dunia yang haus akan pembaruan dan perdamaian.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
“Relasi sejati tidak dibangun oleh kuasa atau keterpaksaan, tetapi oleh kasih yang membebaskan dan kerelaan hati.”
“Ketika kita berani melepaskan keterikatan duniawi, Allah menjadi pusat relasi kita, dan kasih-Nya mengalir untuk memulihkan setiap relasi dalam hidup kita.”
Tuhan memberkati kita semua.
Editor: Eugenius Moa





