Senin, 10 Agustus 2026. Pesta St. Laurensius, Diakon dan Martir. 2 Korintus 9:6-10; Yohanes 12:24-26.

Oleh: RD.Fidelis Dua

SAUDARI-saudara terkasih, pernahkah kita melihat sebutir benih sebelum ditanam? Kecil, kering, dan tidak menarik. Kalau benin itu bisa bicara, mungkin ia berkata, “Jangan kubur saya! Gelap dan sesak!”

Kita mungkin tertawa, tetapi bukankah kita sering seperti itu? Kita ingin bahagia tanpa berkorban, ingin keluarga dan komunitas harmonis, tetapi gengsi meminta maaf, ingin Gereja dan dunia menjadi lebih baik tetapi berharap orang lain yang berbuat.

Hari ini Yesus berkata, “Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”

Inilah paradoks Injil: yang terus menggenggam hanya tinggal sendiri, tetapi yang berani memberikan diri akan menghasilkan buah.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Saat Kristus Memimpin, Badai Kehilangan Kuasanya

Paulus menegaskan pesan yang sama: siapa yang menabur sedikit akan menuai sedikit, dan siapa yang menabur banyak akan menuai banyak.

Namun, ini bukan ajaran “memberi supaya cepat kaya” atau transaksi dengan Tuhan. Kita memberi bukan karena terpaksa, melainkan dengan hati yang bebas dan penuh kasih.

St. Laurensius menghidupi Sabda ini sampai tuntas. Sebagai diakon di Roma, ia melayani orang-orang miskin. Ketika penguasa menuntut harta Gereja, menurut tradisi, Laurensius justru menunjukkan orang-orang miskin dan menderita sebagai harta sejati Gereja.

Pada akhirnya, ia memberikan bukan hanya harta, tetapi hidupnya sendiri. Laurensius menjadi seperti biji gandum: jatuh, mati, dan menghasilkan buah yang tetap hidup sampai hari ini.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jeritan Iman yang Mencari Allah

Saudari-saudara terkasih, persoalan kita sering bukan karena tidak mempunyai sesuatu untuk diberikan, tetapi karena takut kehilangan apa yang kita miliki. Padahal, “memberi” dalam Injil jauh lebih luas daripada uang atau materi.

Kita memberi ketika mau mendengarkan sesama, menggunakan media sosial untuk membawa harapan, dan berani mati terhadap ego. Dunia sering berkata, “Kumpulkan! Miliki! Tampilkan! Amankan dirimu!” Injil justru berkata, “Berikanlah dirimu!” Maka pertanyaannya: Apakah iman kita sudah menjadi pemberian bagi sesama?

St. Laurensius mengingatkan bahwa kekayaan sejati Gereja bukanlah gedung, jabatan, atau kemegahan, melainkan manusia yang dikasihi Allah, terutama mereka yang kecil, miskin, dan terlupakan.

Karena itu, mari menanam Sabda hari ini melalui tiga tindakan sederhana. Pertama , lepaskan satu hal: gengsi, kesombongan, atau egoisme. Kedua , berikan satu hal: waktu, perhatian, rezeki, atau pengampunan kepada sesama. Ketiga , lakukan satu kebaikan dalam keheningan. Tidak perlu difoto atau masuk story, sebab Tuhan melihat setiap benih kasih yang kita tanam.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Kehilangan yang Kekal Demi yang Sementara

Saudari-saudara, mungkin saat ini hidup kita seperti benih yang terkubur: ekonomi sulit, pekerjaan berat, masalah belum selesai, sakit belum sembuh, atau masa depan belum jelas.

Jangan mengira Tuhan meninggalkan kita. Tanah yang gelap pun dapat menjadi tempat Allah menumbuhkan kehidupan baru. Kristus melewati salib menuju kebangkitan; St. Laurensius melewati kemartiran menuju kemuliaan.

Maka jangan takut menjadi biji gandum. Jangan takut kehilangan demi kasih. Matilah terhadap ego, berikanlah diri dalam kasih, dan percayalah di tangan Tuhan, hidup yang diberikan tidak pernah sia-sia, tetapi akan menghasilkan buah.

Petikan BUSA-H #10/08/2026 

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tabor Bukan Tujuan Akhir

🌾 “Jangan takut menjadi biji gandum: jatuhlah dalam pelayanan, matilah terhadap ego, dan biarkan Tuhan membuat hidupmu berbuah.”

❤️ “Dunia berkata, “Kumpulkan, miliki, dan amankan dirimu!” Injil berkata, “Berikanlah dirimu!” Sebab hidup yang dibagikan dalam kasih tidak pernah sia-sia.”

🌱 “Ketika hidup terasa seperti benih yang terkubur dalam gelap, jangan mengira Tuhan meninggalkanmu; bisa jadi, di sanalah Tuhan sedang menumbuhkan kehidupan baru.”

✨ “Iman bukan hanya tentang apa yang kita percaya, tetapi tentang seberapa jauh hidup kita menjadi pemberian bagi sesama terutama bagi mereka yang kecil dan terlupakan.”

Tuhan memberkati kita. #rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan