Minggu, 27 Juli 2025. Hari Minggu Biasa XVII. Kitab Kejadian 18:20-33; Kolose 2:12-14; Lukas 11:1-13.

Oleh: RD.Fidelis Dua

DI sebuah desa kecil, seorang nenek setiap malam duduk di tepi ranjang cucunya, membacakan doa Bapa Kami dengan suara lembut. Bukan karena cucunya belum hafal, tapi karena si nenek tahu: dalam setiap kata doa itu, tersimpan harapan, perlindungan, dan cinta yang tak lekang oleh waktu. Ia tahu bahwa lebih dari sekadar kata, doa adalah warisan iman. Seperti kasih kakek dan nenek kepada cucunya, demikian juga kasih Allah kepada kita: tenang, lembut, setia, dan tak tergoyahkan meski hidup tak selalu mudah.

Saudari-saudara terkasih. Hari ini Sabda Tuhan mengajarkan kita tentang kuasa doa dan wajah Allah yang penuh kasih. Dalam bacaan pertama dari Kitab Kejadian, kita melihat Abraham berdoa bagi Sodom. Tapi bukan doa yang biasa. Ia “berdebat” dengan Tuhan, memohon agar kota itu tidak dihancurkan demi beberapa orang benar. Ia memohon dengan berani namun rendah hati: “Janganlah kiranya Tuhan murka kalau aku berkata sekali lagi…”

Doa Abraham lahir dari hati yang peduli dan percaya bahwa Tuhan adalah adil sekaligus pengasih. Ia menunjukkan bahwa doa bukan sekadar memohon, tetapi berdiri di antara Allah dan dunia dengan hati yang mengasihi.

Dalam surat kepada jemaat di Kolose, Paulus mengingatkan bahwa kita semua dahulu mati dalam dosa, tapi kini dihidupkan kembali oleh kasih Kristus. Ia tidak hanya mengampuni, tetapi menghapus seluruh surat utang dosa kita. Itulah bukti bahwa Tuhan mendengar jeritan hati kita bahkan sebelum kita bersuara. Dan, pengampunan itu adalah buah dari salib, buah dari doa Yesus sendiri di taman Getsemani dan di kayu salib.

Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Warisan Iman yang Tak Pernah Padam

Lalu Injil Lukas membawa kita ke inti, yakni Yesus mengajarkan doa “Bapa Kami.” Tapi lebih dari sekadar rumusan doa, Yesus menunjukkan wajah Allah sebagai Bapa. Bapa yang tak mungkin memberikan batu saat kita minta roti, yang tak mungkin memberi kalajengking saat kita minta telur. Jika kita, manusia yang tidak sempurna ini, tahu memberikan yang baik kepada anak-anak kita, apalagi Bapa kita yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus, sumber hidup dan kekuatan sejati, kepada siapa saja yang memintanya.

Saudari-saudara terkasih. Doa bukan soal kata yang indah. Doa adalah hubungan. Doa adalah keberanian Abraham, iman Paulus, dan kepercayaan Yesus kepada Bapa-Nya. Doa adalah anak yang lapar mengetuk pintu hati Bapanya, bukan untuk dilayani, tetapi karena tahu bahwa hanya di sana ada hidup.

Dan, hari ini kita juga merayakan Hari Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia. Mendiang Paus Fransiskus menegaskan: “Kakek-nenek adalah akar yang memberi kita kekuatan dan arah; dari merekalah kita belajar mengenali suara Tuhan dalam keheningan hidup.”

Betapa sering para kakek dan nenek kita, dalam doa yang tak terdengar dan kasih yang tersembunyi, telah menjadi saksi kesetiaan Allah dalam keluarga kita. Seperti Abraham yang berdoa bagi bangsanya, mereka berdoa bagi anak cucu. Seperti Paulus yang menderita untuk jemaat, mereka menderita dalam sunyi agar keluarga bertahan. Dan seperti Yesus yang mengajarkan doa, mereka menunjukkan jalan hidup yang benar dalam kasih, kesabaran, dan pengampunan.

Baca Juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian); Yakobus dan Kita: Ada Apa di Balik Cawan?

Karena itu pada perayaan ini, kita diajak supaya jangan ragu berdoa, meski hidup belum berubah. Jangan takut bertanya, karena Tuhan tidak murka kepada hati yang jujur. Dan jangan lupa: Allah adalah Bapa yang peduli, yang tahu apa yang terbaik, bahkan sebelum kita tahu cara memintanya.

Mari kita belajar dari mereka yang mendahului kita dalam iman: dari Abraham yang tak lelah memohon, dari Paulus yang tidak takut memikul salib, dari Yesus yang mengajarkan kita menyapa Allah sebagai “Bapa”, dan dari para kakek-nenek kita, yang meski lemah, tetap teguh sebagai akar kasih dalam keluarga. Jangan berhenti mengetuk. Jangan lelah berharap. Jangan takut berdoa. Sebab kasih Allah selalu menjawab, walau tidak selalu dengan cara yang kita harapkan.

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

”Doa yang sungguh adalah warisan terdalam, bukan hanya kata-kata kepada Tuhan, tetapi juga cinta yang menuntun generasi untuk terus mengenal dan beriman kepada Dia.”

Baca Juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Tuhan Terus Berbicara: Apakah Hatimu Mendengar?

” Allah tak pernah lelah mendengar suara yang jujur, meski lirih, meski hanya bisikan seuntai kata dalam doa di malam hening.”

Pantun Butiran Sabda Allah hari ini:

Bunga melati harum semerbak,

Disiram pagi terasa segar.

Bapa Kami yang ada di surga,

Desiran kasih yang tak pernah pudar.

Langit senja berwarna ungu,

Burung pulang ke sarangnya tenang.

Lanjut sejenak berdoa syahdu,

Berserah hati dalam kasih yang lapang.

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan