BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Nama yang Lahir dari Kehendak Allah
Rabu, 24 Juni 2026. Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis.Kitab Yesaya 49:1-6; Kisah Para Rasul 13:22-26; Lukas 1:57-66.80.
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih, ada banyak anak yang lahir ke dunia, tetapi tidak semua bertumbuh dengan kesadaran mengapa mereka dilahirkan. Ada yang menghabiskan hidup untuk mencari jati diri. Ada yang sibuk mengejar banyak hal, tetapi tidak pernah menemukan arah terdalam hidupnya.
Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis mengajak kita merenungkan sebuah pertanyaan yang sangat penting: apakah hidup ini sedang dijalani sekadar mengikuti arus, atau sungguh dibuka bagi panggilan Allah yang sedang digenapi?
Di tengah dunia yang sering membentuk identitas berdasarkan prestasi, popularitas, dan pengakuan, Sabda Tuhan hari ini mengingatkan bahwa setiap hidup pertama-tama lahir dari kehendak Allah.
Dalam bacaan pertama, Nabi Yesaya mengungkapkan sebuah rahasia panggilan yang sangat indah. “Tuhan telah memanggil aku sejak dari kandungan.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Mutiara yang Tidak Boleh Hilang
Menarik bahwa panggilan mendahului karya. Allah lebih dahulu mengenal dan memanggil sebelum seseorang melakukan sesuatu bagi-Nya. Bahkan Yesaya mendengar sebuah tugas yang melampaui dirinya sendiri, “Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.”
Terang tidak hidup untuk dirinya sendiri. Terang hadir agar orang lain menemukan jalan. Inilah ciri setiap panggilan yang berasal dari Allah. Panggilan bukan sarana untuk membuat diri menjadi besar, melainkan jalan agar kasih Allah menjangkau lebih banyak orang.
Dunia saat ini dipenuhi banyak cahaya yang memikat perhatian, tetapi sering kekurangan terang yang menuntun arah. Allah tidak memanggil kita untuk menjadi pusat perhatian, melainkan menjadi terang yang menunjukkan kehadiran-Nya.
Bacaan kedua memperlihatkan keindahan lain dalam diri Yohanes Pembaptis. Santo Paulus mengutip kesaksian Yohanes, “Aku bukanlah Dia yang kamu sangka.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Antara Balok dan Selumbar
Kalimat ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung kerendahan hati yang luar biasa. Banyak orang berjuang agar dirinya dikenal.
Yohanes justru bahagia karena Kristus dikenal. Banyak orang ingin menjadi tujuan. Yohanes memilih menjadi penunjuk jalan.
Bahkan ia berkata bahwa membuka kasut Kristus pun ia tidak layak. Inilah kebesaran yang sering terlupakan. Orang yang sungguh dekat dengan Allah tidak sibuk membesarkan dirinya. Ia merasa cukup bila hidupnya membantu orang lain menemukan Tuhan.
Dalam dunia yang gemar membangun citra diri, Yohanes mengajarkan bahwa hidup mencapai keindahannya bukan saat semua mata tertuju kepada kita, melainkan saat melalui hidup kita banyak orang mulai memandang Kristus.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Kehilangan Dirimu Sendiri
Injil hari ini mencapai puncaknya pada saat kelahiran Yohanes. Semua orang mengira anak itu akan mengikuti tradisi keluarga dan menerima nama ayahnya. Namun Elisabet dan Zakharia berkata, “Ia harus dinamai Yohanes.”
Nama itu bukan pilihan keluarga, melainkan kehendak Allah. Yohanes berarti “Allah berbelaskasih.” Menarik bahwa sebelum Yohanes berbicara kepada dunia, namanya sudah lebih dahulu menjadi pewartaan. Hidupnya menjadi pesan bahkan sebelum ia berkhotbah. Lalu orang-orang bertanya, “Menjadi apakah anak ini nanti?”
Pertanyaan itu muncul bukan karena Yohanes melakukan sesuatu yang hebat, melainkan karena mereka melihat tangan Tuhan menyertainya. Di sinilah letak rahasia pertumbuhan rohani. Injil mencatat, “Anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya.”
Bukan pertama-tama kuat pengaruhnya, kuat kedudukannya, atau kuat namanya, melainkan kuat rohnya. Yohanes bertumbuh dalam padang gurun, tempat kesunyian, pembentukan, dan kedekatan dengan Allah.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Harta Hati,Pelita Hidup
Dunia sering mengagungkan panggung, tetapi Allah kerap membentuk para utusan-Nya dalam kesunyian. Sebelum menjadi suara yang mengguncang bangsa, Yohanes terlebih dahulu menjadi hati yang mendengarkan Allah.
Saudari dan saudara terkasih, Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis mengajak kita melihat hidup dengan cara yang baru. Mungkin pertanyaan terpenting bukanlah “Apa yang sudah kita capai?”, melainkan “Untuk apa Allah menghadirkan kita di dunia ini?”
Yohanes tidak hidup untuk dirinya sendiri. Ia menjadi terang yang menunjuk kepada Terang Sejati. Ia tidak mencari kemuliaan pribadi. Ia mempersiapkan jalan bagi Kristus. Dan itulah kebesaran sejati.
Hari ini marilah kita memohon rahmat agar hidup kita pun menjadi seperti Yohanes. Tidak perlu menjadi yang paling terkenal. Tidak perlu menjadi yang paling dikagumi.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Doa: Ruang Relasi, Bukan Transaksi
Cukuplah bila melalui kata-kata, pekerjaan, pelayanan, dan kesetiaan kita, orang lain semakin dekat kepada Tuhan.
Sebab hidup yang paling berhasil bukanlah hidup yang membuat nama kita dikenang banyak orang, melainkan hidup yang membantu banyak orang mengenal nama Tuhan.
Petikan BUSA-H untuk kita #24/06/26@:
“Terang tidak hidup untuk dirinya sendiri; ia hadir agar orang lain menemukan jalan menuju Allah.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Menjaga Hati agar Tetap Menjadi Rumah Kasih
“Kebesaran Yohanes bukan terletak pada namanya yang dikenal, melainkan pada kerelaannya menunjuk kepada Kristus.”
“Allah sering membentuk para utusan-Nya bukan di atas panggung, melainkan dalam padang gurun kesunyian.”
“Hidup menemukan maknanya bukan saat kita menjadi pusat perhatian, melainkan saat melalui diri kita orang lain menemukan Tuhan.”
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@




