Selasa, 28 April 2026. Hari Biasa Pekan IV Paskah. Kisah Para Rasul 11:19-26; Yohanes 10:22-30

Oleh:Rd.Fidelis Dua

Cahaya senja meredup perlahan,
Langkah ragu di persimpangan jalan,
Jika hati terus diliputi keraguan,
Bagaimana iman menemukan pegangan?

Angin malam berbisik pelan,
Menyentuh hati yang mencari arah,
Bimbang datang bukan karena Tuhan,
Melainkan hati yang belum berserah.

SAUDARI dan saudara terkasih. Setiap hari kita dihadapkan pada berbagai pilihan yang tampak menjanjikan, namun tidak semuanya membawa kita pada kebenaran yang pasti. Begitu banyak suara silih berganti memenuhi pikiran dan hati kita, sehingga dalam hiruk-pikuk itu, hati kita kerap menjadi gelisah, ingin mencari arah, tetapi tidak menemukan kepastian; mau terus melangkah, tetapi tanpa keyakinan yang kokoh.

Tidak jarang kita merasa berjalan, namun sesungguhnya tersesat dalam kebimbangan, karena iman belum sungguh berakar dalam hati. Akibatnya, kita keliru dan salah dalam bertindak.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kasih Sang Gembala Tanpa Batas, Mengapa Hati Kita Masih Terbatas? 

Dalam bacaan pertama, kita melihat bagaimana para murid tidak lagi membatasi pewartaan hanya kepada kelompok tertentu, tetapi dengan berani menjangkau orang-orang Yunani dan memberitakan bahwa Yesus adalah Tuhan.

Langkah ini lahir dari iman yang hidup dan keyakinan yang teguh bahwa kebenaran tidak untuk disimpan, melainkan untuk diwartakan. Iman sejati selalu mendorong kita keluar dari kenyamanan diri, berani membuka diri, dan menghadirkan kabar keselamatan, bahkan di tengah tantangan. Sebab iman yang hidup tidak tinggal diam, tetapi bergerak, menjangkau, dan menghidupkan.

Dalam Injil, orang-orang bertanya kepada Yesus dengan nada mendesak, “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan?” Pertanyaan ini mencerminkan hati manusia yang menginginkan kepastian, tetapi sering kali enggan untuk sungguh percaya.

Yesus menegaskan bahwa karya dan tindakan-Nya telah menjadi kesaksian yang jelas, namun mereka tidak percaya karena tidak sungguh menjadi bagian dari kawanan-Nya.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jadilah Injil yang Hidup: Berakar dalam Kebenaran, Siap Diutus

Di sini kita melihat bahwa kebimbangan bukan karena Tuhan tidak jelas, melainkan karena hati belum terbuka dan belum sepenuhnya percaya. Karena itu, kita dipanggil untuk membuka hati, membangun relasi yang dekat dengan Tuhan, dan belajar peka mendengarkan suara-Nya.

Dari relasi itulah kita diteguhkan sebagai murid dan diutus untuk mewartakan Kabar Baik keselamatan. Maka, marilah kita tetap berfokus pada Tuhan dalam setiap karya, sambil menyadari bahwa segala buah yang dihasilkan bukanlah karena kehebatan kita, melainkan karena kasih karunia-Nya yang bekerja dalam diri kita.

Sebab itu, saudari dan saudara terkasih, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita keluar dari kebimbangan menuju iman yang teguh. Seperti para murid, kita dipanggil untuk berani bersaksi dan mewartakan Kristus dengan keyakinan. Dan seperti yang diajarkan Yesus, kita diajak untuk sungguh menjadi domba yang mengenal suara Gembala dan setia mengikuti-Nya.

Ketika kita hidup dalam iman yang pasti dan relasi yang dekat dengan Tuhan, kita tidak lagi dikuasai keraguan, melainkan berjalan dengan arah yang jelas, membawa terang dan harapan bagi sesama.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tubuh dan Darah Kristus: Energi Kasih yang Mengubah

Petikan BUSA-H untuk kita:

”Hati yang terus menunda untuk percaya akan tetap terjebak dalam kabut keraguan; tetapi iman yang diputuskan dengan berani akan membuka jalan yang terang.”

”Kebimbangan tidak pernah melahirkan kesaksian; hanya hati yang percaya sepenuhnya yang berani berdiri dan menyatakan kebenaran.”

”Saat iman berakar dalam hati, kita tidak lagi mencari kepastian dari dunia, sebab kita telah menemukan arah dalam suara Tuhan yang setia menuntun.”

Tuhan memberkati kita.#rd.fd@

Editor: Eginius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan