BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Hanna dan Seni Menunggu Allah di Tengah Dunia yang Bergegas
Selasa, 30 Desember 2025. Hari Keenam dalam Oktaf Natal. 1 Yohanes 2:12-17; Lukas 2:36-40.
Oleh: Rd.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih. Manusia zaman ini hidup di tengah arus yang deras. Banyak orang dikejar oleh pencapaian, citra diri, pengakuan, dan kenikmatan sesaat. Nilai seseorang sering diukur dari apa yang dimiliki, apa yang dipamerkan, dan seberapa cepat ia diakui.
Dalam hiruk-pikuk seperti itu, hati mudah terbelah. Di satu sisi ingin dekat dengan Allah, di sisi lain terikat pada dunia yang menawarkan rasa aman palsu. Iman kerap hidup dalam kondisi dilematis, doa berjalan bersama kegelisahan, dan Natal yang baru dirayakan belum sungguh mengubah arah hidup.
Dalam terang inilah Rasul Yohanes berbicara dengan tegas dan jujur. Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Yohanes tidak sedang menolak dunia sebagai ciptaan Allah, melainkan mengingatkan tentang dunia sebagai sistem nilai yang menjauhkan manusia dari kehendak Bapa.
Keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup bukan sekadar godaan luar, melainkan kecenderungan batin yang membuat kita hidup untuk diri sendiri. Yohanes menegaskan bahwa dunia dengan segala keinginannya sedang melenyap, sedangkan orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya. Di sini iman diuji. Apakah kita hidup untuk yang sementara atau berakar pada yang kekal.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Iman yang Menjadi Terang dalam Kasih
Sabda ini menemukan wajah konkretnya dalam Injil melalui sosok Hanna. Seorang janda lanjut usia yang tidak pernah meninggalkan Bait Allah. Ia tidak dikenal karena prestasi besar atau suara lantang, melainkan karena kesetiaan yang diam. Siang dan malam ia beribadah dengan berpuasa dan berdoa.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, Hanna mengajarkan bahwa menunggu Allah bukanlah sikap pasif, melainkan kesetiaan yang aktif. Ia tidak mengejar dunia, tetapi membuka hidupnya bagi kehendak Allah. Karena itulah ia mampu mengenali Sang Penyelamat ketika banyak orang lain melewatkannya.
Injil kemudian menegaskan bahwa Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya. Pertumbuhan Yesus tidak digambarkan melalui kekuasaan atau kemegahan, melainkan melalui kedalaman relasi dengan Allah dan kehidupan yang selaras dengan kehendak-Nya.
Natal dengan demikian bukan hanya perayaan kelahiran, melainkan undangan untuk bertumbuh. Bertumbuh dalam kebijaksanaan, dalam kebebasan dari kelekatan yang menipu, dan dalam kasih karunia yang membentuk hati.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Dari Keluarga Nazaret ke Rumah Kita
Saudari dan saudara terkasih, dunia menjanjikan banyak hal, tetapi hanya Allah yang mampu memberi makna yang bertahan. Dunia memang dapat memikat dengan gemerlap dan janji keberhasilan, namun tidak pernah sungguh memuaskan kerinduan terdalam hati manusia.
Hati menjadi gelisah ketika terikat pada yang fana, dan menemukan kedamaian ketika berani hidup sederhana, terarah, dan berakar pada Allah. Hanna menjadi saksi bahwa hidup yang tampaknya kecil dan tersembunyi justru dapat menjadi ruang perjumpaan besar dengan Allah.
Maka, marilah masa ini kita bertanya dengan jujur. Apa yang lebih kita kasihi, kehendak Allah atau keinginan diri. Apakah kita memberi ruang bagi doa yang setia seperti Hanna atau membiarkan hidup sepenuhnya ditentukan oleh ritme dunia.
Natal tidak meminta kita meninggalkan dunia, tetapi membebaskan hati agar tidak diperbudak olehnya. Ketika kita memilih melakukan kehendak Allah dalam hal-hal sederhana, setia dalam doa, jujur dalam relasi, dan rendah hati dalam hidup, di sanalah kasih Bapa tinggal dalam diri kita.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Natal: Iman yang Menjelma dari Kata Menjadi Kasih
Semoga terang Natal menolong kita melepaskan yang sementara, agar hidup kita berakar pada yang kekal, dan bersama Kristus kita bertumbuh menjadi manusia yang kuat, bijaksana, dan penuh kasih karunia Allah.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Dunia dapat memikat mata dan telinga, tetapi hanya Allah yang mampu menenangkan hati dan meneguhkan arah hidup manusia.”
”Hidup yang berakar pada kehendak Allah mungkin tampak kecil di mata dunia, tetapi di sinilah kita bertumbuh menjadi kuat, bijaksana, dan penuh kasih karunia.”
Tuhan memberkati kita.




