Senin, 23 Maret 2026.  Hari Biasa Pekan V Prapaskah. Nubuat Daniel 13:1-9.15-17.19-30.33-62 (Singkat: 13:41c-62); Yohanes 8:1-11.

Oleh: Rd.Fidelis Dua.

SAUDARI dan saudara yang terkasih, kita hidup pada zaman di mana orang begitu cepat menilai dan menghakimi, sementara kejujuran untuk melihat diri sendiri sering kali dihindari. Kita mudah menunjuk kesalahan orang lain, tetapi sulit mengakui dosa dan kesalahan yang ada dalam hati kita sendiri.

Dalam bacaan pertama, dikisahkan tentang Susana yang hampir dihukum karena tuduhan palsu. Di tengah ketidakadilan itu, Allah membangkitkan Daniel untuk menyingkapkan kebenaran dan menyelamatkan yang tidak bersalah.

Kisah ini menegaskan bahwa Allah tidak tinggal diam terhadap ketidakadilan, dan bahwa kebenaran pada akhirnya akan dinyatakan oleh Dia yang mengenal isi hati manusia.

Kebenaran yang disingkapkan Allah melalui Daniel itu mencapai kepenuhannya dalam diri Yesus, yang tidak hanya membela yang tertuduh, tetapi juga menyingkapkan hati setiap orang di hadapan-Nya.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Ketika Segalanya Seolah Selesai, Tuhan Justru Memulai

Saudari dan saudara yang terkasih, ada satu gerakan yang tampak kecil yang dilakukan Yesus, yakni membungkuk dan menulis di tanah. Di tengah keramaian orang yang sibuk menghakimi, Yesus justru membungkuk bukan mengangkat muka dan menghakimi.

Yesus membungkuk, mendekat ke tanah, ke debu, ke tempat asal manusia. Seakan Ia berkata tanpa kata: “Kamu semua berasal dari tanah yang sama.”

Tindakan ini bukan sekadar jeda. Ini adalah pewahyuan bahwa di hadapan dosa, Allah tidak pertama-tama menghakimi dengan nada suara yang tinggi, apa lagi berteriak, tetapi Allah diam dan merendahkan diri.

Yesus menulis bukan di batu, tetapi di tanah. Tulisan di tanah itu fana, mudah hilang, terhapus oleh angin atau langkah kaki.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Sabda yang Menyentuh dan Mengusik

Di sinilah pesannya bagi kita bahwa dosa yang dituduhkan manusia kepada sesama sering diukir seolah-olah permanen, tetapi di hadapan Allah selalu ada kemungkinan untuk dihapus. Apa yang manusia ingin abadikan sebagai hukuman, Allah justru tulis di tanah, sebagai tanda bahwa semuanya terbuka dan segera dihapus oleh belas kasih-Nya.

Namun sebelum belas kasih itu menyembuhkan, Yesus terlebih dahulu menyingkapkan kebenaran dalam hati setiap orang. Saat semua mata tertuju kepada perempuan itu, Yesus justru mengalihkan fokus.

Ia menulis, seakan memaksa setiap orang berhenti melihat kesalahan orang lain dan mulai melihat dirinya sendiri. Dan benar, satu per satu mereka pergi. Tidak ada yang dilempari batu, tetapi semua “terbaca” tentang dosa sendiri. Tanpa menyebut nama, tanpa menunjuk, Yesus membuat hati mereka terbuka.

Inilah jalan menuju Prapaskah yang lebih dalam. Kita sering datang kepada Tuhan dengan daftar dosa orang lain, bukan dosa kita sendiri. Kita siap melempar, setidaknya dalam hati dengan menghakimi orang lain.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Saat Kebenaran Mengusik; Berani Berkaca, Berani Berubah

Tetapi Yesus tidak memakai cara berpikir itu. Ia membungkuk, menulis, dan menunggu. Ia memberi ruang bagi kesadaran, bukan mempercepat penghukuman.

Menjelang misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya, kita diundang belajar dari gerakan ini. Beranikah kita membiarkan Yesus “menulis” sesuatu di tanah hati kita tentang dosa kita sendiri? Sesuatu yang mungkin tidak Ia ucapkan, tetapi pelan-pelan membuka kebenaran tentang diri kita?

Dengan demikian, lewat tulisan sunyi yang hanya bisa dibaca oleh hati yang mau berhenti, menunduk, dan jujur, kita menjadi lebih sadar, lebih insaf, dan berani bertobat. “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Petikan BUSA-H untuk kita: 

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Diam yang Taat, Hati yang Percaya

”Kadang Tuhan tidak langsung menegur dengan kata-kata, tetapi mengajak kita diam agar hati kita sendiri yang jujur berbicara.”

”Apa yang kita ukir permanen sebagai kesalahan, Tuhan tulis di tanah agar bisa dihapus oleh belas kasih-Nya.”

”Saat kita berhenti menghakimi dan mulai menunduk, di situlah pertobatan yang sejati mulai tumbuh.”

Tuhan memberkati kita.#rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan