Rabu, 07 Januari 2025.  Hari Biasa Sesudah Penampakan Tuhan. Surat Pertama Rasul Yohanes 4:11-18; Markus 6:45-52.

Oleh: Rd.Fidelis Dua.

SAUDARI dan saudara yang terkasih. Kita hidup di dunia yang menuntut memberi lebih dari yang mampu kita tanggung, mencintai lebih dari yang kita rasakan, terbuka meski hati bergetar. Kita kerap menahan diri karena takut ditolak, takut gagal, takut salah melangkah.

Tetapi Rasul Yohanes menantang kita: “Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yakni kalau kita mempunyai keberanian yang penuh iman… Di dalam kasih tidak ada ketakutan.” Bayangkan! Kasih yang sempurna bukan untuk yang lemah atau takut, tetapi untuk yang berani. Kasih itu menuntut keberanian yang melampaui rasa takut, keberanian yang membuat kita hadir bagi sesama, meski banyak tantangan.

Lihatlah Yesus di atas air. Para murid terkejut, mereka berteriak, mereka melihat hantu dan bukankah itulah kita ketika badai datang? Masalah datang, kesedihan menumpuk, dunia menakutkan, dan kita melihat bayangan ketakutan, bukan wajah-Nya. Namun Yesus hadir! Ia berjalan di tengah badai, meneguhkan langkah kita, mengingatkan bahwa kasih-Nya tidak pernah goyah.

Paus Fransiskus berkata, “ kasih menuntut keberanian untuk menyentuh kehidupan lain dengan kelembutan nyata.” Kasih sejati bukan kata manis, bukan teori, tetapi tindakan yang menembus ketakutan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian) Bukan Sekadar Mengasihi, Melainkan Menghadiahkan Hidup

Maka kita dipanggil untuk melangkah. Memberi tanpa hitung-hitung, mengasihi tanpa syarat, hadir meski hati ragu. Ketakutan bisa menjadi keberanian, kesedihan menjadi pengharapan, keterasingan menjadi kehadiran.

Paus Benediktus XVI menegaskan, “kita tidak dapat mengasihi secara benar tanpa mengakui kelemahan kita sendiri dan kelemahan dunia.” Pengakuan itu membuka jalan bagi kasih yang sempurna.

Mari kita renungkan, di tengah dunia yang gemetar oleh ketakutan dan kebingungan, apakah kita cukup berani mengasihi? Cukup berani memberi? Tuhan menantang kita untuk tidak diam, untuk melangkah ke perahu kehidupan dengan iman, dan menatap sesama dengan mata yang penuh keberanian. Karena di dalam kasih, kita menemukan hidup yang sejati, damai yang tidak goyah, dan sukacita yang tak tergantikan.

Kasih itu bukan pilihan. Kasih itu adalah keberanian untuk hadir. Dan, mereka yang berani, sesungguhnya sudah menapaki langkah pertama menuju Allah yang sempurna dalam kasih.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian) Kerajaan yang Mendekat di Tengah Pilihan Hidup

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

”Kasih sejati bukan kata manis yang nyaman didengar, tetapi keberanian yang menembus ketakutan dan hadir bagi sesama meski banyak tantangan.”

”Mereka yang berani mengasihi sesungguhnya menapaki jalan menuju Allah yang sempurna, di mana damai dan sukacita tidak tergoyahkan oleh badai kehidupan.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan