Jumat, 5 Desember 2025.  Hari Biasa Pekan I Adven. Kitab Yesaya 29:17-24; Matius 9:27-31.

Oleh; Rd.Fidelis Dua

SAUDARI-saudara terkasih, bila kita sejenak menyimak realitas di sekitar kita, tampak begitu banyak orang yang mulai letih untuk berharap karena yang diharapkan tak kunjung tampak. Maka mereka memilih sibuk menambal bagian-bagian diri yang retak, namun belum tentu berani mengakui dosa dan kelemahan sendiri.

Hidup pun terasa seperti berjalan dalam kabut: melihat, tetapi buta menangkap makna; mendengar, tetapi tidak mendengarkan sampai menyentuh kedalaman.

Di tengah fenomena seperti inilah Sabda Tuhan hari ini berbicara begitu kuat menawarkan janji pemulihan dan kemampuan untuk melihat kembali dengan lebih fokus.

Nabi Yesaya menubuatkan bahwa akan tiba saatnya “yang tuli akan mendengar,” “mata orang buta akan melihat,” dan “orang yang rendah hati akan bersukacita karena Tuhan.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dua Rumah, Satu Badai; Pilihan yang Menentukan Segalanya

Ini bukan sekadar gambaran fisik, tetapi lukisan pemulihan batin. Tuli adalah hati yang enggan mendengar kebenaran. Buta adalah batin yang kehilangan arah dan kepekaan. Dan, rendah hati adalah orang yang berani mengakui dosa serta kelemahan, dan dengan jujur mengakui bahwa ia membutuhkan kerahiman Allah.

Nubuat ini mengungkapkan bahwa tidak ada situasi, luka, atau dosa yang terlalu rusak untuk dipulihkan Allah, selama kita memberi ruang bagi-Nya untuk menyentuh bagian-bagian hidup yang selama ini kita tutupi dan kita anggap terlalu rapuh. Banyak orang cenderung membungkus erat kerapuhan dan dosanya bahkan baru menyadarinya ketika orang lain menyinggungnya.

Paus Fransiskus pernah mengingatkan: “Tuhan tidak pernah lelah memulihkan yang retak dalam diri kita; yang penting kita tidak lelah datang kepada-Nya.” Karena itu, bangunlah kembali harapanmu. Biarkan Tuhan masuk melalui celah-celah paling rapuh dalam hidupmu, sebab Ia tidak berhenti bekerja untuk memulihkan, menguatkan, dan membentuk kembali hati yang mau kembali kepada-Nya.

Inilah yang dilakukan dua orang buta yang mengikuti Yesus sambil berseru: “Kasihanilah kami, Anak Daud!” Menarik bahwa mereka tidak melihat, tetapi tetap mengikuti. Mereka tidak menyaksikan tanda-Nya, tetapi percaya pada Pribadi-Nya.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Adven Menumbuhkan Tunas Kecil untuk Hati yang Baru

Di sinilah inti iman diperlihatkan: berjalan walau hasilnya belum tampak; berseru walau jawabannya belum terdengar; percaya sebelum bukti tiba.

Ketika Yesus bertanya, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” itu bukan pertanyaan untuk menguji, tetapi undangan untuk membuka ruang kepercayaan yang lebih dalam dalam hati mereka. Dan, ketika Yesus menyentuh mata mereka, Injil menegaskan: “Terjadilah menurut imanmu.”

Mukjizat itu sesungguhnya tidak dimulai dari sentuhan Yesus, tetapi dari keyakinan yang berani berseru, keyakinan yang jujur mengakui kebutuhan mereka: “Kasihanilah kami.” Itu adalah kyrie eleison : tangisan hati yang sadar akan kelemahan dirinya dan menyerahkannya kepada belas kasih Allah.

Melihat, dalam terang bacaan ini, bukan hanya soal mata yang terbuka, tetapi budi yang tercerahkan dan hati yang mau diintrospeksi. Melihat berarti berani mengenali dosa, menerima kerapuhan diri, dan mengambil langkah pertobatan. Orang yang “melihat” adalah orang yang sadar bahwa ia membutuhkan Tuhan dan karena itu berjalan kepada-Nya, meski langkahnya masih dibalut ketidakpastian.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Terang yang Tidak Padam: Berlajar Berharap dari para Martir Aceh

Untuk itu mari biarkan Tuhan memulihkan cara kita melihat. Sekaranglah saatnya Tuhan mengembalikan penglihatan kita: melihat kembali arah jalan hidup yang benar, melihat ulang apa yang benar-benar penting, melihat dengan jernih kasih Allah dalam pergumulan kita.

Barangkali selama ini kita melihat hidup dengan kaca mata kelelahan, kekecewaan, atau selalu merasa kurang. Mulailah melihat untuk mengubah kelelahan menjadi kekuatan, mengubah kegelapan menjadi terang, dan mengubah harapan kecil menjadi sukacita yang teguh, mengubah dosa menjadi keselamatan.

Petikan Butiran Sabda hari ini:

“Melihat dengan benar bukan soal tajamnya mata, tetapi jernihnya hati yang berani mengakui kerapuhan dan membuka ruang bagi Tuhan untuk memulihkan.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Adven dan Revolusi Hati: Berjaga dalam Terang, Melangkah dengan Harapan

“Iman tidak menunggu terang sebelum melangkah; iman justru berjalan di tengah kabut, karena percaya bahwa Tuhan sedang menuntun.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan