BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Adven Menumbuhkan Tunas Kecil untuk Hati yang Baru
Selasa, 2 Desember 2025. Hari Biasa Pekan I Adven. Kitab Yesaya 11:1-10; Lukas 10:21-24.
Oleh: Rd.Fidelis Dua.
SAUDARI-saudara terkasih. Kita hidup di tengah arus berita, obrolan, dan gambaran yang memicu kecemasan. Orang super sibuk, padat aktivitas, tetapi kurang mendalam. Orang mencari tetapi tak tahu apa yang benar-benar dicari. Karena itu, pertanyaannya menjadi sangat penting: ke mana hati kita diarahkan pada masa Adven ini?
Nabi Yesaya hari ini menjawab dengan gambaran yang mengguncang sekaligus menguatkan: “Tunas akan keluar dari tunggul Isai.” Sebuah tunas kecil, tampak rapuh namun membawa Roh Tuhan: roh hikmat, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengetahuan, dan takut akan Tuhan.
Yesaya hendak berkata bahwa pemulihan tidak selalu datang dari hal besar, tetapi dari hati yang mulai kembali membuka ruang bagi Tuhan. Tunas itu kecil, tetapi mengubah segalanya. Dan lebih jauh, Yesaya melukiskan sebuah visi radikal: serigala tinggal bersama domba, macan tutul berbaring di samping anak kambing.
Ini bukan dongeng; ini adalah metafora dari hati manusia yang diperdamaikan, sisi buas dan sisi rapuh yang akhirnya hidup dalam harmoni ketika Roh Tuhan berkuasa. Dengan demikian, ketika hati diubah, relasi ikut diubah, dan cara kita memandang hidup pun diperbarui.
Bava juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Terang yang Tidak Padam: Berlajar Berharap dari para Martir Aceh
Injil Lukas menampilkan Yesus yang bersukacita dalam Roh Kudus. Ia memuji Bapa karena rahasia Kerajaan justru terbuka bagi mereka yang sederhana. Bukan bagi mereka yang merasa paling mengerti, tetapi bagi yang hatinya jernih. Dan, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat!” Artinya, kebahagiaan sejati bukan soal apa yang dimiliki, tetapi kemampuan melihat kehadiran Allah dalam perjalanan hidup yang biasa.
Saudari-saudara terkasih, masa Adven adalah masa mengembalikan hati kepada kejernihan itu. Kita diundang melihat bukan dengan mata yang penuh kecurigaan, tetapi dengan mata yang tahu bersyukur.
Mendiang Paus Fransiskus pernah mengatakan, “Iman tumbuh ketika kita membiarkan diri disentuh oleh kelembutan Allah.” Adven adalah masa membiarkan kelembutan itu menyentuh bagian hati yang keras, letih, atau penuh luka.
Maka ada beberapa pesan bacaan hari ini bagi kita: Pertama, biarkan tunas kecil itu tumbuh yakni keputusan kecil yang membuka ruang bagi Tuhan: memperlambat hati, menyisihkan waktu hening, melakukan kebaikan tanpa pujian, memilih damai daripada membalas. Perubahan besar selalu dimulai dari keputusan kecil yang setia.
Kedua, izinkan Roh Tuhan membentuk kita kembali. Roh hikmat untuk tidak terburu mengambil kesimpulan. Roh pengertian untuk membaca hidup dengan jernih. Roh nasihat untuk memilih jalan yang benar. Roh keperkasaan untuk menghadapi kecemasan. Roh pengetahuan untuk membedakan mana yang sejati dan mana yang semu. Roh takut akan Tuhan untuk menjaga hati tetap merendah.
Ketiga, jadilah orang sederhana menurut Injil bukan naif, tetapi jernih. Orang yang tidak membungkus diri dengan kepalsuan, tetapi berani datang kepada Tuhan apa adanya.
Saudari-saudara terkasih, Adven adalah masa di mana Tuhan menumbuhkan tunas harapan dalam tanah hati kita. Tunas itu akan bertumbuh bila kita memberi ruang, memberi waktu, dan memberi keheningan. Dan ketika tunas itu tumbuh, hidup tidak lagi digerakkan oleh ketakutan, melainkan oleh pengharapan.
Marilah kita memasuki masa Adven dengan hati yang diperbarui: membuka ruang bagi Tuhan, menamai kembali harapan kita, dan membiarkan terang-Nya menuntun setiap langkah kita. Semoga tunas kecil dari Allah itu menemukan akar yang dalam dalam hati kita.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Keteguhan Hati di Tengah Tekanan dan Kegelisahan
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
“Harapan tidak selalu datang dengan gebyar; kadang ia hadir sebagai tunas kecil yang tumbuh pelan-pelan di tanah hati yang mau percaya.”
“Kejernihan hati bukan dicapai dengan banyak mengetahui, tetapi dengan berani membuka ruang bagi Tuhan untuk berbicara dalam keheningan.”
Tuhan memberkati kita.
Editor: Eginius Moa





