Selasa, 06 Januari 2026. Hari Biasa Sesudah Penampakan Tuhan. Surat Pertama Rasul Yohanes 4:7-10; Markus 6:34-44.

Oleh: Rd.Fidelis Dua.

SAUDARI dan saudara terkasih, banyak orang hidup di tengah relasi yang padat, namun hati tetap terasa kosong karena kekurangan kasih. Kasih kerap diucapkan, tetapi sulit diwujudkan, dan memberi sebagai buah kasih sering kali masih diukur dengan untung dan rugi.

Kita rindu dikasihi, tetapi takut mengasihi lebih dahulu; kita berharap diperhatikan, tetapi mudah menutup mata terhadap kebutuhan sesama. Dalam situasi batin seperti inilah Sabda Tuhan berbicara dengan daya yang membangkitkan, mengoreksi, dan mengarahkan kembali hidup kita kepada makna kasih yang sejati.

Rasul Yohanes menegaskan dengan sederhana namun mengguncang bahwa kasih berasal dari Allah. Setiap orang yang mengasihi lahir dari Allah dan mengenal Allah. Sebaliknya barangsiapa tidak mengasihi ia tidak mengenal Allah.

Ini bukan penilaian moral yang dangkal, melainkan pengakuan iman yang mendasar. Allah tidak hanya memiliki kasih, Allah adalah kasih. Dan kasih itu tidak dimulai dari usaha manusia, melainkan dari inisiatif Allah sendiri. Inilah kasih itu, bukan kita yang lebih dahulu mengasihi Allah, tetapi Allah yang lebih dahulu mengasihi kita dan mengutus Anak-Nya supaya kita hidup oleh-Nya. Kasih Kristiani bukan perasaan spontan, melainkan partisipasi dalam kasih Allah yang rela memberi diri.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian) Kerajaan yang Mendekat di Tengah Pilihan Hidup

Kasih Allah itu menjadi nyata dalam Injil ketika Yesus melihat orang banyak dan tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia tidak terganggu oleh banyaknya orang, tidak menjauh karena kelelahan, tidak menunda dengan alasan waktu. Ia melihat mereka seperti domba tanpa gembala. Maka Ia mengajar, menyembuhkan, dan akhirnya memberi makan. Dan di situlah Yesus mengucapkan kata yang menantang para murid, kamu yang harus memberi mereka makan. Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk tidak sekadar mengagumi belas kasih, tetapi ikut terlibat di dalamnya.

Paus Benediktus XVI pernah mengatakan bahwa kasih bukan ide, melainkan peristiwa. Kasih menjadi nyata ketika seseorang berani memberi apa yang ia miliki, meski tampak kecil. Lima roti dan dua ikan tidak mencukupi bila disimpan, tetapi menjadi berlimpah ketika diserahkan. Di sinilah logika Injil bekerja. Kasih bertambah ketika dibagikan. Hidup diselamatkan ketika dihadiahkan.

Pengalaman ini dekat dengan hidup kita. Orang tua yang tetap setia mencurahkan waktu meski lelah. Seorang pekerja yang mau berbagi perhatian kepada rekan yang terpinggirkan. Kaum muda yang memilih peduli daripada acuh. Dalam tindakan sederhana seperti itu kasih Allah menjelma. Karena kasih sejati selalu bergerak keluar, mencari, dan memulihkan.

Saudari dan saudara terkasih, Sabda Tuhan hari ini mengundang kita untuk percaya bahwa kita mampu mengasihi karena kita lebih dahulu dikasihi Allah. Kita diutus bukan hanya untuk menerima, tetapi juga memberi. Ketika kita menyerahkan apa yang ada pada kita kepada Kristus, Ia mengubahnya menjadi berkat bagi banyak orang.

Baca juga:BUSA-H ( Butiran Sabda Allah–Harian) Ketika Sabda Tingggal, Iman Pasti Bertahan

Semoga Ekaristi yang kita rayakan menyalakan kembali hati yang penuh belas kasih, agar hidup kita menjadi roti yang dipecah dan dibagikan, sehingga dunia mengenal Allah yang adalah kasih. Kasih bukan terletak pada besar dan banyaknya yang kita miliki, melainkan pada keberanian untuk memberi lebih dahulu, sebab dalam memberi bersama Kristus, kasih tidak pernah berkurang, tetapi justru melahirkan kehidupan.

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

”Kasih tidak diukur dari seberapa banyak yang kita simpan, melainkan dari seberapa tulus kita berani menyerahkan apa yang ada pada kita kepada Allah dan sesama.”

”Ketika kasih berhenti dihitung dan mulai dibagikan, yang sedikit menjadi cukup, yang lemah dipulihkan, dan yang lapar menemukan harapan.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan