Senin, 5 Januari 2026.  Hari Biasa Sesudah Penampakan Tuhan. Surat Pertama Rasul Yohanes 3:22-4:6; Matius 4:12-17.23-25.

Oleh: Rd.Fidelis Dua

Saudari dan saudara terkasih, tidak sedikit orang merasa tahu apa yang diinginkan, tetapi ragu akan apa yang sungguh dibutuhkan. Kita hidup di tengah banyak pilihan, namun kerap kehilangan kepekaan untuk membedakan mana yang benar-benar memberi hidup dan mana yang hanya memikat sesaat. Dalam kegelisahan batin seperti inilah Sabda Tuhan berbicara dengan terang dan ketegasan, mengajak kita berhenti mengejar sekadar keinginan, dan mulai mendengarkan kebenaran yang menyelamatkan, yakni kebenaran yang tinggal dan berakar dalam Kristus.

Dalam Surat Pertama Rasul Yohanes kita mendengar sebuah janji yang kuat sekaligus menuntut tanggung jawab iman. “ Apa saja yang kita minta dari Allah, kita peroleh daripada-Nya, sebab kita menuruti perintah-Nya dan melakukan apa yang berkenan kepada-Nya.” Yohanes tidak sedang menawarkan iman yang magis, seolah Allah hanyalah pemenuh keinginan manusia. Ia sedang menegaskan sebuah relasi. Permohonan yang didengarkan lahir dari hidup yang tinggal dalam Kristus.

Dan inti perintah itu sederhana namun radikal, yakni percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan hidup dalam kasih. Ketika iman dan kasih berjalan bersama, doa tidak lagi menjadi daftar tuntutan, melainkan penyerahan diri, di mana seluruh hidup dan kebutuhan kita dipercayakan kepada Allah, bukan sekadar keinginan-keinginan sesaat.

Namun Yohanes juga realistis. Ia memperingatkan, ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah. Tidak semua yang berbicara tentang Tuhan sungguh berasal dari Tuhan. Ada roh zaman yang membungkus diri dengan bahasa rohani tetapi menjauhkan manusia dari kebenaran dan kasih.

Baca juga:BUSA-H ( Butiran Sabda Allah–Harian) Ketika Sabda Tingggal, Iman Pasti Bertahan

Paus Benediktus XVI pernah mengingatkan bahwa iman Kristen bukan perasaan religius semata, melainkan perjumpaan dengan Kebenaran yang memiliki wajah, yakni Yesus Kristus. Maka iman yang dewasa menuntut kejernihan budi dan kejujuran hati, agar kita tidak mudah hanyut oleh arus yang ramai tetapi kosong.

Injil Matius menghadirkan Yesus yang melangkah ke Galilea dan memulai pewartaan-Nya dengan seruan yang menggetarkan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.” Seruan ini bukan ancaman, melainkan undangan. Seruan pertobatan itu menemukan wujud nyatanya ketika Allah sendiri datang sebagai Terang yang mendekat dan menyapa manusia dalam situasi hidup yang paling gelap.

Bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat Terang yang besar. Terang itu bukan sekadar ajaran, melainkan pribadi yang hadir, mengajar, menyembuhkan, dan memulihkan martabat manusia. Yesus tidak hanya berbicara di rumah ibadat; Ia masuk ke dalam realitas hidup, menjamah penyakit, kelemahan, dan merajut kembali mereka yang terpinggirkan.

Di sinilah Sabda Tuhan menyentuh dan menantang hidup kita. Pertobatan bukan sekadar meninggalkan dosa-dosa lama, melainkan keberanian membiarkan terang Kristus menata ulang cara berpikir, membentuk sikap batin, dan menuntun pilihan hidup. Seorang pekerja yang menolak jalan pintas yang tidak jujur, orang tua yang setia membangun dialog di tengah kesibukan, kaum muda yang berani melawan arus demi kebenaran, di situlah Kerajaan Allah menjadi dekat dan nyata dalam hidup sehari-hari.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian) Memulai Tahun Bersama Maria, Ruang Kehadiran Allah 

Paus Fransiskus mengingatkan bahwa iman yang sejati selalu bergerak keluar, menyembuhkan, dan menyalakan harapan. Terang Kristus tidak mematikan realitas hidup, melainkan meneranginya, memurnikannya, dan mengarahkannya pada kepenuhan kasih.

Saudari dan saudara terkasih, marilah kita semakin percaya dengan utuh, menguji segala sesuatu dengan kebijaksanaan iman, dan bertobat dengan langkah-langkah yang nyata. Ketika kita tinggal dalam Kristus, doa menjadi hidup, iman menjadi terang, dan dunia merasakan bahwa Kerajaan Allah sungguh sudah dekat. Dengan demikian, kita dimampukan untuk memilih bukan sekadar apa yang kita inginkan, melainkan apa yang sungguh kita butuhkan, yakni hidup yang semakin dekat dengan Kristus yang menyelamatkan.

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

”Tidak semua yang kita inginkan memberi hidup, tetapi hanya Kristus yang kita butuhkan mampu menyelamatkan.”

”Dunia mengajarkan kita mengejar keinginan, tetapi Injil mengajak kita memilih kebutuhan yang menyelamatkan.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan