Selasa, 19 Agustus 2025. Hari Biasa Pekan XX. Kitab Hakim-Hakim 6:11- 24a; Matius 19:23-30.

Oleh: RD.Fidelis Dua

SAUDARA  dan saudara yang terkasih. Keberanian terbesar dalam hidup adalah menaruh seluruh kepercayaan pada Tuhan ketika kita merasa lemah dan tak berdaya. Kekuatan Allah hadir bukan ketika kita merasa siap, tetapi justru saat kita terpuruk, karena pada saat itulah rahmat-Nya bekerja dengan dahsyat.

Di sinilah kita mesti yakin bahwa kekuatan sejati tidak berasal dari manusia, melainkan dari penyertaan Tuhan yang setia, yang mampu mengangkat yang lemah menjadi berani, dan yang sederhana menjadi pahlawan.

Demikianlah yang dapat kita dengar dari kisah Gideon. Gideon digambarkan ragu dan takut, merasa tak layak dan tidak mampu menghadapi musuh bangsa Israel. Namun, Allah menegaskan kehadiran-Nya, memberi tanda, dan meyakinkan bahwa Dialah yang akan bertindak.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa hidup beriman menuntut kesediaan untuk berserah, meski rasa takut, ketidakpastian, dan keterbatasan manusiawi begitu tampak. Kesetiaan kepada Tuhan berarti menerima panggilan-Nya dengan hati terbuka, membiarkan rahmat-Nya mengubah keraguan menjadi keberanian, dan mengalihkan fokus dari kekuatan diri sendiri ke kuasa Allah yang tak terbatas.

Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian)Pilihan Sejati: Kesetiaan kepada Tuhan di Tengah Godaan Dunia

Dalam Injil, Yesus menegaskan pentingnya menempatkan Allah sebagai prioritas tertinggi: “Susah bagi orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Kekayaan dan kenyamanan duniawi dapat menjadi penghalang, menahan hati dari kemurahan dan kepedulian kepada sesama.Yesus mengajak kita untuk melepaskan keterikatan dunia, menaruh kepercayaan sepenuhnya pada-Nya, dan mengikuti-Nya dengan sepenuh hati. Dalam konteks kehidupan modern, ini berarti menempatkan iman, kasih, dan integritas sebagai pusat keputusan, bukan ambisi, materi, atau status sosial semata.

Saudari dan saudara yang terkasih. Ada pesan yang berpadu dalam Sabda Allah hari ini, yakni keberanian untuk berserah dan mengikuti Tuhan, kesetiaan dalam melangkah meski lemah, dan keberanian melepaskan kepentingan pribadi demi mengutamakan kehendak Allah.

Sebagai umat beriman, kita dapat meneladani Gideon: menjadi berani di tengah keraguan; meneladani pemuda kaya: belajar melepaskan keterikatan duniawi untuk hidup yang sungguh-sungguh dalam kasih dan pelayanan.

Mari kita teguhkan hati untuk menanggapi panggilan Tuhan dengan keberanian dan ketulusan. Setiap keputusan yang diambil, setiap pelayanan yang dilakukan, dan setiap pengorbanan kecil yang kita berikan menjadi saksi hidup dari kuasa Allah yang menyertai. Dengan berserah kepada-Nya, kita akan menemukan kekuatan di tengah kelemahan, sukacita di tengah pengorbanan, dan harapan abadi dalam setiap langkah yang kita tempuh.

Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Seperti Anak-Anak: Menjadi Tulus dan Sederhana

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
“Keberanian sejati lahir bukan dari kekuatan diri sendiri, tetapi dari hati yang berserah sepenuhnya kepada Tuhan yang menuntun setiap langkah.”

“Ketika kita melepaskan keterikatan pada dunia, kita membuka ruang bagi rahmat-Nya untuk bebas memberikan yang terbaik dari diri kita untuk kemuliaan Tuhan dan kebahagiaan sesama.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan