BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian): Mengikuti Tuhan Tanpa Menggenggam Jala
Senin, 12 Januari 2026. Hari Biasa Pekan I. Kitab Pertama Samuel 1:1-8; Markus 1:14-20
Oleh: Rd.Fidelis Dua.
SAUDARI dan saudara terkasih, kita kembali memasuki masa biasa. Hidup beriman selama masa biasa berarti setia berjalan bersama Tuhan dalam keseharian yang sederhana, penuh kepercayaan dan ketaatan. Namun justru dalam kesederhanaan itulah kesetiaan diuji, ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan dan Tuhan seakan hadir dalam kesunyian.
Hati pun dipenuhi tanya tentang arah perjalanan hidup ini. Usaha telah sungguh dicoba, doa telah tekun dipanjatkan, tetapi harapan terasa tertunda dan jawaban seolah belum tiba. Di sinilah iman dimurnikan dalam diam dan kesabaran. Realitas inilah yang dialami Hana yang menangis karena rahimnya tertutup, dan juga para nelayan yang bergulat dengan rutinitas hidup tanpa arah baru.
Kitab Samuel memperlihatkan Hana yang datang ke hadapan Tuhan dengan hati remuk, bukan dengan kata-kata indah, melainkan dengan kejujuran total. Ia tidak menyalahkan siapa pun, tidak melarikan diri, tetapi membawa seluruh hidupnya ke hadapan Allah. Allah tidak segera mengubah situasi, tetapi lebih dulu mengubah hati.
Hana belajar bahwa nilai hidupnya tidak ditentukan oleh pandangan orang lain, melainkan oleh kesetiaannya di hadapan Tuhan. Dalam pengalaman banyak orang, saat doa terasa jenuh dan hasil belum tampak, justru di situlah iman dimurnikan dan harapan diperdalam.
Injil Markus membawa kita pada suara yang menyapa lembut dengan penuh kuasa dan harapan. “Waktunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat.” Ini bukan ancaman, melainkan undangan untuk berbalik arah dan mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Allah.Ia tidak menunggu kita menjadi sempurna baru memanggil. Ia justru datang mendekat dan menyapa kita apa adanya.
Yesus memanggil para nelayan yang sedang bekerja dalam keseharian yang biasa. Tidak ada persiapan panjang, tidak ada jaminan kenyamanan. Mereka meninggalkan jala, bukan karena hidup mereka buruk, melainkan karena ada panggilan yang lebih besar. Jala itu bisa berarti rasa aman, kebiasaan lama, atau ketakutan untuk berubah. Banyak orang ingin mengikuti Yesus, tetapi tetap menggenggam jala masing-masing.
Karena undangan itu begitu nyata, tanggapan kita pun tidak bisa ditunda. Maka diperlukan pertobatan. Pertobatan di sini bukan sekadar menyesal, melainkan keberanian untuk mengubah arah hidup. Percaya kepada Dia yang memanggil berarti mempercayakan seluruh masa depan, meski hasil akhirnya belum kita ketahui.
Karena itu, dalam panggilan kita masing-masing, dalam keluarga, dalam hidup membiara, dalam pekerjaan, dan dalam pelayanan, kita diajak untuk tidak terus menggenggam jala kita sendiri. Kita dipanggil untuk berani melepaskan, sebab Yesus terus berkata “Ikutlah Aku.” Ia tidak menjanjikan jalan yang mudah, tetapi menjanjikan hidup yang bermakna. Dari nelayan biasa lahirlah penjala manusia. Dari doa Hana, perempuan yang diremehkan, lahirlah rencana Allah yang besar.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian): Sukacita Orang yang Tidak Merebut, Tetapi Menerima
Saudara-saudari, Tuhan melihat air mata yang tidak terlihat orang lain dan mendengar doa yang keluar dari hati paling dalam. Ia juga memanggil kita untuk melangkah, meninggalkan jala yang menahan, dan berjalan bersama-Nya. Ketika kita berani percaya dan mengikuti, Allah bekerja bukan hanya mengubah keadaan, tetapi membentuk hidup kita menjadi sarana keselamatan bagi banyak orang.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Iman sejati tidak selalu lahir dari jawaban yang cepat, melainkan dari keberanian untuk tetap setia ketika Tuhan seakan diam.”
”Saat kita berani melepaskan jala dan melangkah mengikuti-Nya, Allah mengubah kesederhanaan hidup kita menjadi jalan keselamatan bagi banyak orang.”
Tuhan memberkati kita.





