Rabu, 18 Maret 2026. Hari Biasa Pekan IV Prapaskah. Kitab Yesaya 49:8-15; Yohanes 5:17-30

Oleh: Rd. Fidelis Dua

PADA masa Prapaskah, selain doa, puasa, dan beramal, Gereja juga mengajak umat melakukan aksi nyata yang sering kita sebut kerja puasa. Di kampung saya ada kebiasaan yang indah: setiap hari Jumat Prapaskah umat berkumpul dan bekerja bersama untuk kepentingan umum.

Ada yang membersihkan lingkungan, memperbaiki fasilitas bersama, menata halaman gereja, atau membantu pekerjaan yang berguna bagi banyak orang.

Sekilas kegiatan ini tampak sederhana. Tidak ada yang spektakuler. Tidak ada yang luar biasa. Namun justru di dalam kesederhanaan itu tersimpan makna rohani yang dalam.

Kegiatan seperti ini mengingatkan kita pada sabda Yesus dalam Injil hari ini: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Terlalu Lama di Kolam yang Sama

Kata-kata ini membuka cara pandang baru tentang Allah. Allah bukan Pribadi yang jauh dan hanya bertindak pada saat-saat besar. Ia bukan Allah yang hadir hanya ketika mukjizat terjadi atau ketika hidup berjalan lancar. Yesus menegaskan bahwa Allah terus bekerja, tanpa henti, tanpa cuti, dan tanpa pernah lelah memelihara kehidupan manusia.

Karena itu, jika Allah sendiri terus bekerja demi keselamatan manusia, maka iman kita juga tidak boleh berhenti pada doa dan ibadat saja. Iman perlu menjelma menjadi tindakan. Doa yang kita ucapkan perlu terlihat dalam kerja nyata.

Puasa yang kita jalani seharusnya melahirkan kepedulian terhadap sesama. Dalam terang itu, kerja puasa bukan sekadar kegiatan sosial atau tradisi tahunan. Kerja puasa adalah cara sederhana bagi kita untuk ikut ambil bagian dalam karya Allah yang terus berlangsung di dunia.

Nabi Yesaya dalam bacaan pertama menegaskan kasih Allah yang tak pernah berhenti bekerja bagi umat-Nya: “Dapatkah seorang ibu melupakan bayinya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tuhan Selalu Memberi yang Baru

Gambaran ini sangat kuat. Kasih seorang ibu dikenal sebagai kasih yang paling tulus. Namun Tuhan berkata bahwa kasih-Nya bahkan lebih besar dari itu. Artinya, ketika manusia merasa ditinggalkan atau ketika hidup terasa sunyi, Allah sebenarnya tidak pernah berhenti hadir. Ia tetap bekerja dalam cara yang sering kali tidak kita pahami. Allah bekerja dalam proses yang sunyi.

Kita hidup di zaman yang menyukai hasil cepat. Kita ingin masalah selesai segera, doa dijawab segera, dan hidup berubah seketika. Namun karya Allah sering berjalan seperti benih yang tumbuh di dalam tanah. Dari luar seolah tidak terjadi apa-apa, tetapi di dalamnya kehidupan sedang berkembang.

Kadang Tuhan bekerja justru melalui hal-hal yang tidak kita sukai: penantian yang panjang, kegagalan yang membuat kita belajar rendah hati, atau situasi yang memaksa kita belajar percaya. Pada saat-saat seperti itu, kita mudah berpikir bahwa Tuhan tidak hadir.

Padahal justru melalui proses itulah Tuhan sedang membentuk hati kita. Karena itu Prapaskah sebenarnya adalah masa latihan rohani. Kita belajar memperlambat langkah, berhenti sejenak dari kesibukan, dan mulai menyadari bahwa Tuhan tetap bekerja jauh sebelum kita bekerja.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Bukan Kesombongan Melainkan Kerendahan Hati

Maka hari ini kita juga diajak melihat kembali cara kita bekerja. Apakah pekerjaan kita sungguh membawa kebaikan bagi orang lain? Ataukah kita bekerja hanya untuk mengejar target dan keuntungan bagi diri sendiri?

Iman kita mengajak supaya kita bekerja demi bonum commune, demi kebaikan bersama. Sebab itu kita tidak boleh cepat puas dan tidak boleh merasa lelah. Kita boleh gass terus untuk karya kasih yang selalu terbuka luas.

Dengan ini sebenarnya kita sedang memberi kesaksian sederhana bahwa Allah yang kita imani adalah Allah yang bekerja. Dan, sebagai murid-murid-Nya, kita pun dipanggil untuk ikut bekerja demi kehidupan sesama.

Dengan demikian, kerja puasa bukan hanya menjadi kegiatan tahunan. Ia menjadi tanda bahwa kasih Allah tidak berhenti di altar, tetapi terus bergerak dalam kehidupan nyata. Sebab seperti kata Yesus, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Bukan Kesombongan Melainkan Kerendahan Hati

Dan, pada masa Prapaskah ini kita pun dapat berujar dengan sikap hati yang baru: “Tuhan, biarlah aku ikut bekerja bersama-Mu sampai akhir hayatku.”

Petikan BUSA-H ini:

”Allah tidak pernah berhenti bekerja bagi kita; karena itu kita tak boleh lelah untuk memperlihatkan tangan yang mau bekerja bagi sesama.”

”Sering kali Tuhan berkarya dalam proses yang sunyi; ketika kita merasa tidak ada yang terjadi, sebenarnya Ia sedang menumbuhkan kehidupan di dalam hati kita.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Menata Hati, Menghidupi Kasih

”Kerja kasih yang sederhana bagi kebaikan bersama adalah cara paling nyata untuk ikut ambil bagian dalam karya Allah di dunia.”

Tuhan memberkati kita.#rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan