BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kepekaan Rohani: Jalan Menuju Hadirat Allah

Keindahan Danau Kelimutu di Taman Nasional Kelimutu, Kabupaten Ende, Pulau Flores. (istimewa)

Jumat, 14 November 2025. Hari Biasa Pekan XXXII. Kitab Kebijaksanaan 13:1-9; Lukas 17:26-37

Oleh: Rd.Fidelis Dua.

PERNAKAH kita berhenti sejenak di tengah hiruk pikuk aktivitas dan menyadari betapa indahnya ciptaan di sekitar kita? Matahari yang terbit, angin yang lembut, wajah orang yang kita cintai. Semua itu sering berlalu tanpa kita sadari. Kita begitu sibuk mengejar banyak hal sampai lupa memandang ke arah Sang Pencipta yang menghadirkan segala sesuatu itu.

Filsuf Søren Kierkegaard pernah berkata, “Hidup hanya dapat dipahami dengan melihat ke belakang, tetapi harus dijalani dengan menatap ke depan.” Sayangnya, banyak orang menatap ke depan tanpa pernah menoleh ke arah Allah yang berjalan bersamanya.

Kitab Kebijaksanaan hari ini menegur kita dengan lembut: manusia sering memuji keindahan alam, mengagumi matahari, bulan, dan bintang, tetapi gagal melihat Sang Pencipta di baliknya. Itulah bentuk kebutaan rohani: mengagumi ciptaan, tapi melupakan Pencipta.

Penulis kitab Kebijaksanaan seakan ingin berkata: kagumlah pada ciptaan, tapi jangan berhenti di sana; biarlah kekaguman itu menuntun kita menuju Sang Sumber Keindahan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kerajaan Allah Ada Di Antaramu

Yesus dalam Injil Lukas mengingatkan hal yang serupa dengan gaya yang lebih tajam. Ia berbicara tentang zaman Nuh dan Lot. Orang-orang makan, minum, bekerja, menikah, semua tampak normal, tetapi mereka tidak peka bahwa saat penentuan sudah dekat. Hidup mereka berjalan tanpa kesadaran akan Allah. Di sini Yesus tidak menolak kegiatan manusiawi, tetapi Ia menegur hati yang tidak berjaga, hati yang kehilangan rasa gentar dan kagum akan kehadiran Tuhan.

Saudari-saudara terkasih, beriman bukan soal tahu banyak tentang Allah, tetapi hidup dengan kesadaran akan Dia yang hadir di setiap detik kehidupan.

Paus Fransiskus pernah berkata, “ Masalah terbesar orang beriman bukan karena Allah jauh, tetapi karena kita berhenti mencari-Nya dalam hal-hal kecil.” Artinya Allah sebenarnya selalu dekat dan hadir dalam keseharian kita, namun kita sering gagal merasakan-Nya karena hati kita terlalu sibuk untuk menemukan-Nya dalam hal-hal sederhana.

Misalnya, seseorang yang terus-terus berdoa meminta bantuan dan berkat Tuhan, tetapi lupa bersyukur atas napas hidup setiap pagi, atau orang yang menunggu tanda besar dari mujizat besar dari Tuhan tapi tidak melihat kasih Allah dalam senyum anak kecil, kepedulian tetangga, atau tangan sahabat yang menolong.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kesetiaan yang Menyatukan

Maka hari ini kita diajak untuk menyalakan kembali kepekaan rohani agar kita tidak hanya mengenal tanda-tanda zaman, tetapi juga mengenal suara Allah dalam kesederhanaan hari-hari kita, seperti saat hati tergerak menolong tanpa diminta, saat kita terdiam sejenak sebelum menghakimi, atau ketika kita merasakan damai dalam doa singkat di tengah kesibukan.

Hidup yang didasarkan pada kepekaan rohani akan menuntun kita melihat kehadiran Allah dalam setiap peristiwa, merasakan kasih-Nya dalam hal-hal kecil, dan bertindak dengan hati yang dipenuhi belas kasih, bukan sekadar dengan logika atau kebiasaan.

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

“Kepekaan rohani bukan tentang melihat sesuatu yang luar biasa, tetapi tentang mengenali yang ilahi dalam hal-hal yang biasa.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Potongan Jubah Kasih: Membalut Luka, Menyingkap Wajah Allah 

”Siapa yang mengenal Allah dalam kesunyian, takkan takut menghadapi kebisingan hidup.”

”Kehadiran Tuhan tidak perlu dicari di langit, sebab Ia sudah lama menunggu di dalam hati yang mau mendengar Sabda-Nya.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan