Rabu, 12 November 2025. Peringatan Wajib St. Yosafat, Uskup dan Martir. Kitab Kebijaksanaan 6:2-11; Lukas 17:11-19.
Oleh: Rd.Fidelis Dua.
SAUDARI-saudara terkasih dalam Kristus. Pernahkah kita melihat sekelompok orang yang dulunya sangat akrab, kini terpecah hanya karena perbedaan kecil: pandangan, pilihan, atau gengsi? Begitu mudah kebersamaan yang indah berubah menjadi jarak yang memisahkan.
Saya pernah mendengar kisah dua sahabat lama yang bertengkar karena beda pendapat soal pelayanan gereja; yang satu akhirnya pergi, yang lain tetap tinggal, dan keduanya saling diam sampai bertahun-tahun. Padahal dulu, mereka berdoa bersama, menangis bersama, dan melayani Tuhan bersama.
Inilah gambaran nyata dari hati manusia yang kehilangan arah ketika kesetiaan tidak lagi menjadi dasar hidup bersama.
Kitab Kebijaksanaan hari ini memperingatkan para pemimpin dan semua yang berpengaruh: “Kekuasaan diberikan kepadamu oleh Tuhan… Maka hendaklah kamu memerintah dengan bijaksana.” (Keb 6:3–4).
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Potongan Jubah Kasih: Membalut Luka, Menyingkap Wajah Allah
Pesan ini bukan hanya untuk penguasa, tetapi untuk setiap orang yang diberi tanggung jawab di rumah, di komunitas, di Gereja, di sekolah, di kantor, dan di pemerintahan. Kekuasaan tanpa kebijaksanaan akan melahirkan perpecahan; tanggung jawab tanpa kerendahan hati akan melahirkan kesewenang-wenangan.
Roh Kudus mengingatkan kita bahwa kebijaksanaan sejati tidak lahir dari kehebatan, melainkan dari kedekatan dengan Allah.
Filsuf Thomas Merton pernah berkata, “Kesatuan tidak dapat dibangun di atas ambisi manusia, tetapi di atas kerendahan hati yang mau mendengarkan dengan kesetiaan.” Artinya kesatuan sejati hanya lahir dari kerendahan hati dan kesetiaan untuk saling mendengarkan, bukan dari ambisi untuk menang sendiri atau menguasai.
Dan itulah yang tampak dalam hidup St. Yosafat, seorang uskup yang berjuang keras untuk mempersatukan umat yang terpecah antara Gereja Timur dan Barat. Ia tidak memilih jalan kekuasaan, melainkan jalan salib. Ia mengorbankan hidupnya demi kesatuan Gereja, karena ia tahu: persekutuan yang sejati selalu menuntut pengorbanan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Keteladanan: Bahasa Kasih yang Paling Kuat
Dalam Injil hari ini, Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta, tetapi hanya satu yang kembali kepada-Nya. Perhatikan, Yesus tidak hanya menyembuhkan tubuh mereka, Ia memulihkan relasi mereka. Penyakit kusta pada masa itu bukan hanya luka fisik, tetapi pemisahan sosial—mereka dikucilkan, dijauhkan dari komunitas.
Dengan menyembuhkan mereka, Yesus sebenarnya sedang mengembalikan mereka ke dalam persekutuan. Namun sembilan orang pergi tanpa kembali; mereka menerima rahmat, tetapi tidak memelihara relasi dengan Sang Pemberi rahmat.
Saudari-saudara, betapa mudah kita menikmati berkat Tuhan, tetapi lupa membangun kembali relasi kasih yang setia dengan-Nya dan dengan sesama. Kita ingin disembuhkan, tetapi enggan untuk dipersatukan. Kita mencari mukjizat, tetapi tidak mau membangun kesetiaan. Dan di sinilah pesan Yesus menjadi sangat relevan: iman sejati bukan hanya percaya, tetapi juga tinggal dalam persekutuan kasih yang setia dengan Allah dan dengan saudari-saudara kita.
Paus Fransiskus pernah menegaskan, “Perpecahan di antara orang beriman bukanlah skandal karena perbedaan, tetapi karena hati yang tidak lagi mau berdamai.” Artinya perpecahan terjadi bukan karena kita berbeda, tetapi karena hati kita menolak untuk berdamai dan membiarkan kasih Allah mempersatukan kembali yang terpisah.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kita adalah Rumah Allah yang Hidup
Saudari-saudara terkasih. Kita tidak semua dipanggil menjadi martir seperti St. Yosafat, tetapi kita semua dipanggil menjadi penjaga kesatuan di rumah, di paroki, di tempat kerja, di antara orang yang kita cintai.
Kesetiaan dalam hal kecil, kesediaan untuk mendengarkan, kerendahan hati untuk mengalah itulah bentuk kecil dari salib yang kita pikul setiap hari. Maka hari ini, marilah kita berdoa semoga Tuhan memberi kita hati yang setia, bijaksana, dan damai agar dalam hidup kita, kasih menjadi bahasa yang menyatukan, bukan luka yang memisahkan.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Kesatuan bukan dibangun oleh banyak kata, tetapi oleh hati yang tetap setia ketika yang lain memilih pergi.”
”Mereka yang berani setia dalam kasih, dialah yang menjaga wajah Allah tetap tampak di tengah perpecahan.”
Tuhan memberkati kita.






