Jumat, 10 Oktober 2025. Hari Biasa Pekan XXVII. Nubuat Yoel 1:13-15;2:1-2; Lukas 11:15-26.

Oleh: Rd.Fidelis Dua.

SAUDARA-saudari terkasih, kita hidup di zaman di mana kesibukan menjadi alasan baru untuk meninggalkan Tuhan. Banyak orang merasa tak lagi perlu datang ke rumah Allah, karena doa bisa dilakukan “nanti”, ibadah bisa “diganti”, dan kurban syukur bisa “ditunda”.

Namun perlahan, hati manusia menjadi dingin bukan karena Allah jauh, melainkan karena kita yang berhenti mendekat. Di saat manusia menganggap remeh ibadah, doa, dan kurban syukur, di situlah kemerosotan rohani dimulai.

Nabi Yoel berseru dengan suara yang mengguncang: “Wahai, hari itu! Sungguh, hari Tuhan sudah dekat.” (Yoel 1:15). Hari Tuhan yang dimaksud bukan sekadar hukuman, tetapi saat ketika manusia sadar bahwa hidup tanpa Allah adalah kegelapan yang sejati.

Yoel menggambarkan hari itu sebagai hari kelam dan gulita bukan karena matahari berhenti bersinar, melainkan karena hati manusia kehilangan terang kasih Allah. Ia mengundang umat untuk berbalik, mengenakan kain kabung, dan mempersembahkan kurban yang tulus di hadapan Tuhan. Artinya, pertobatan yang sejati tidak hanya berupa kata, tetapi tindakan nyata: kembali beribadah, kembali berdoa, kembali berkorban.

Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Allah Bukan Mesin Permintaan

Dalam Injil, Yesus menyingkapkan sisi lain dari hari Tuhan itu: pertempuran batin manusia. Ketika Ia mengusir setan, sebagian orang menuduh-Nya bekerja dengan kuasa Beelzebul. Ironis! Mereka melihat kuasa Allah bekerja, tetapi menuduhnya sebagai kuasa kegelapan.Di sinilah kemerosotan iman mencapai puncaknya, ketika hati manusia kehilangan kemampuan membedakan yang kudus dari yang jahat.

Yesus menjawab dengan tegas: “Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.” (Luk 11:20). Artinya, setiap kali kita mengizinkan Allah bekerja dalam diri kita, setiap kali kita bertobat dan menyingkirkan kejahatan dari hati, Kerajaan Allah hadir di tengah kita.

Saudara-saudari, “hari Tuhan” bukan hanya masa depan; ia bisa tiba hari ini, setiap kali kita menolak kasih, mengabaikan ibadah, atau menutup telinga terhadap suara Sabda Allah.

Namun kabar baiknya bahwa hari Tuhan juga adalah hari rahmat, ketika kita berani berbalik dan membuka hati kepada-Nya. Gereja-gereja yang terbuka adalah rahmat besar; doa bersama adalah kekuatan umat; dan ibadah yang tulus adalah benteng melawan kuasa kegelapan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Doa Bapa Kami: Hati Bertemu Hati

Maka hari ini, marilah kita mempersembahkan diri kita sendiri sebagai kurban yang hidup. Jangan biarkan rumah Tuhan sunyi, jangan biarkan iman kita redup. Sebab di tengah dunia yang gelap oleh kesibukan dan keacuhan, Tuhan masih berbisik: “Jika kamu mengetuk pintu-Ku dengan hati yang tulus, Aku akan masuk dan menyembuhkanmu.”

Petikan Butiran Sabda Hari Ini:

“Kesibukan tanpa ibadah dan doa hanya melahirkan kekosongan; sebab hati yang tak berdoa perlahan kehilangan arah.”

“Hari Tuhan tiba bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membangunkan hati yang terlalu lama tertidur dalam rutinitas dunia.”

Tuhan memberkati kita.

Editor: Eugenius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan