Senin, 4 Agustus 2025. Peringatan Wajib St. Yohanes Maria Vianney, Imam.
Kitab Bilangan 11:4b-15; Matius 14:13-21.
Oleh: RD.Fidelis Dua
MENDIANG Paus Fransiskus pernah mengatakan: “Seorang gembala harus mencium bau domba-dombanya, tetapi juga membawa aroma Kristus.”
Ungkapan ini menyatukan semangat dua bacaan hari ini, yakni pergulatan Musa yang memikul umat yang terus mengeluh, dan belaskasihan Yesus yang memberi makan ribuan orang dengan lima roti dan dua ikan. Keduanya menunjukkan bahwa pelayanan bukan perkara kekuatan manusia, tetapi ketulusan hati yang terarah kepada Allah.
Saudari dan saudara yang terkasih. Dalam bacaan pertama dari Kitab Bilangan, Musa berada di titik letih. Ia menghadapi umat yang terus bersungut-sungut, merindukan kenikmatan Mesir ketimbang kesetiaan di padang gurun. Musa merasa sendirian dan tak sanggup lagi menanggung beban umat. Keluhan Musa ini jujur dan manusiawi: seorang pemimpin rohani pun bisa lelah dan merasa terbeban.
Namun justru dalam keluhannya, Musa tidak melarikan diri, tetapi berdialog dengan Allah. Inilah pengingat kuat bagi kita, khususnya para imam dan pelayan umat, bahwa saat kita kelelahan, Tuhan bukan hanya pendengar yang sabar, tetapi sumber kekuatan yang baru.Dalam keheningan doa dan kejujuran hati, kita menemukan tangan-Nya yang memikul bersama, bukan membiarkan kita memikul sendiri.
Baca Juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Ketika Kristus Bertanya: Di Mana Hartamu?
Saudari dan saudara yang terkasih Setelah kita merenungkan keluh kesah Musa dan beban pelayanan yang tampak begitu berat, dalam Injil Matius, kita melihat Yesus yang lelah karena duka atas Yohanes Pembaptis, namun tetap tergerak oleh belas kasih melihat orang banyak yang mengikuti-Nya. Ia tidak menolak mereka, melainkan menyembuhkan, memberkati, dan memberi makan mereka. Dalam tindakan-Nya, Yesus mengajarkan bahwa kasih sejati selalu mencari cara bukan menyerah pada kenyataan untuk memberi. Lima roti dan dua ikan bukan soal jumlah, tetapi soal iman yang dibawa ke dalam tangan-Nya. Ia memberkati yang sedikit dan menjadikannya cukup bagi semua.
Saudari dan saudara yang terkasih. Pada hari ini kita peringati St. Yohanes Maria Vianney, pelindung para imam paroki. Pada peringatan ini, kita diajak untuk merenungkan bagaimana St. Yohanes Maria Vianney menjalani pelayanan dalam kesederhanaan, doa, dan pengorbanan, meski sering merasa tidak layak, terbatas, dan lemah. Seperti Musa, ia mengenal keletihan. Namun seperti Yesus, ia tetap memberi. Hidupnya adalah roti yang dibagi habis demi mengenyangkan jiwa-jiwa yang lapar akan kasih dan kebenaran.
Hari ini, mari kita belajar dari Musa, belajar dari Yesus, dan St. Yohanes Maria Vianney. Ketika merasa letih oleh tuntutan hidup atau pelayanan, mari datang kepada Tuhan dan bukan menjauh dari-Nya. Ketika melihat kebutuhan sesama, jangan hitung apa yang kurang, tapi serahkan yang ada kepada tangan Tuhan. Karena dalam tangan-Nya, yang sedikit pun bisa menjadi berkat yang melimpah. Sebab Tuhan tidak menuntut kita menjadi cukup kuat, hanya cukup berserah untuk membiarkan Dia yang bekerja bersama kita.
Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Berani Pulang, Berani Tegar: Jejak Yobel dan Yohanes
Petikan Sabda Tuhan hari ini untuk kita:
”Ketulusan dalam pelayanan bukan terletak pada memiliki segalanya, tetapi pada keberanian mempersembahkan yang sedikit ke tangan Tuhan, sebab dalam kelemahan manusiawi, Tuhan justru membuka ruang bagi karya ilahi.”
”Seorang pelayan sejati mungkin tidak selalu kuat, tetapi selalu datang kepada Tuhan saat letih, sebab justru dalam keletihan Tuhan membakar semangat dengan kasih-Nya supaya menemukan cara untuk memberi, meski hanya dengan lima roti dan dua ikan.”
Tuhan memberkati kita.
Editor: Eginius Moa






