Senin, 15 Juni 2026. Hari Biasa Pekan XI. Kitab Pertama Raja-Raja 21:1-16; Matius 5:38-42

Oleh: RD>Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara terkasih, tidak setiap hal yang menarik mata layak menjadi milik kita; ada batas suci yang menjaga hati tetap bersih dan syukur tetap hidup.

Inilah yang menjadi pokok pewartaan yang dapat kita simak dari Ahab merebut kebun anggur Nebot. Ahab memandang kebun anggur Nabot sebagai sebidang tanah yang dapat memperluas kenyamanannya. Nabot memandangnya sebagai warisan suci yang harus dijaga dengan setia di hadapan Allah.

Dari perbedaan cara pandang inilah lahir tragedi. Keinginan yang tidak dikendalikan berubah menjadi keserakahan, lalu menyeret banyak pihak ke dalam ketidakadilan.

Bacaan pertama mengingatkan bahwa hati dapat menjadi begitu lapar hingga tidak lagi mensyukuri apa yang sudah dimiliki. Ada banyak orang yang kehilangan damai bukan karena kekurangan, melainkan karena terus menginginkan apa yang berada di tangan sesamanya.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Melihat dengan Hati dan Tergerak dengan Kasih

Sabda Yesus dalam Injil hari ini terasa lebih mengejutkan lagi: “Bila orang menampar pipi kananmu, berikanlah juga pipi kirimu.” Banyak orang mengira bahwa Yesus sedang mengajarkan kelemahan. Padahal Ia sedang menunjukkan kekuatan yang jauh lebih besar daripada balas dendam.

Menampar balik adalah reaksi yang mudah. Tetap tenang tanpa kehilangan kasih adalah kemenangan yang jauh lebih sulit. Yesus mengajak para murid-Nya untuk tidak membiarkan kejahatan orang lain menentukan arah hati dan cara hidup kita.

Saudari dan saudara terkasih, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berusaha menghindari apa pun yang menyakitkan: difitnah, diremehkan, tidak dihargai, atau diperlakukan tidak adil. Namun, justru di situlah kematangan iman diuji.

Ada saat di mana pembelaan terbaik bukanlah kata-kata yang keras, melainkan keteguhan hati yang tetap jernih. Ada saat di mana kemenangan terbesar bukanlah membuat orang lain kalah, melainkan menjaga agar kasih tidak kalah di dalam diri kita. Orang yang menyakiti kita mungkin dapat melukai perasaan kita, tetapi ia pernah akan bisa menguasai jiwa kita.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Hati yang Tetap Percaya Meski Belum Mengerti

Nabot kehilangan kebunnya, tetapi tidak kehilangan integritasnya. Yesus kehilangan hidup-Nya di salib, tetapi tidak kehilangan kasih-Nya. Inilah jalan yang ditawarkan Injil: bukan jalan yang mudah, melainkan jalan yang memerdekakan.

Kejahatan selalu berusaha merebut sesuatu dari diri kita, namun jangan biarkan ia merampas kelembutan hati, kedamaian batin, dan kemampuan untuk tetap mengasihi. Harta terbesar seorang beriman bukanlah apa yang dimiliki, melainkan hati yang tetap tinggal dalam kasih Allah untuk sesama.

Petikan BUSA-H untuk kita #15/06/26@:

” Keserakahan tidak selalu berawal dari tangan yang mengambil, melainkan dari hati yang berhenti bersyukur.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Hati yang Tidak Pernah Menyerah

”Orang lain mungkin dapat merebut milikmu, melukai perasaanmu, bahkan mencemarkan namamu, namun mereka tidak akan pernah mampu merampas jiwamu yang tetap berakar dalam kasih Allah.”

”Membalas luka adalah dorongan yang spontan, tetapi tetap mengasihi di tengah luka adalah karya rahmat yang memancarkan keindahan Injil.”

”Harta terbesar seorang beriman bukanlah apa yang tersimpan di tangannya, melainkan damai yang tetap tinggal di hatinya dan kasih yang tetap mengalir kepada sesamanya.”

Tuhan memberkati kita. #rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan