BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Sampai Mendapat Segalanya, Tetapi Kehilangan Kristus
Minggu, 26 Juli 2026. Hari Minggu Biasa XVII. Hari Orangtua, Kakek dan Nenek Sedunia
1 Raja-Raja 3:5.7-12; Roma 8:28-30; Matius 13:44-52.
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih. Setiap hari kita dihadapkan pada begitu banyak pilihan. Ada pilihan yang sederhana, tetapi ada pula yang menentukan arah seluruh hidup.
Kita memilih pekerjaan, membangun keluarga, mendidik anak, mengelola usaha, mengambil keputusan dalam pelayanan, bahkan menentukan nilai apa yang hendak kita pegang ketika berhadapan dengan godaan untuk mencari keuntungan yang mudah.
Ironisnya, tidak sedikit orang lebih sibuk mengejar apa yang bernilai sementara daripada menemukan apa yang sungguh bernilai abadi. Kesibukan sering membuat kita kehilangan kemampuan membedakan antara yang penting dan yang terutama.
Di sinilah letak persoalan terdalam kehidupan beriman. Hidup bukan pertama-tama ditentukan oleh banyaknya pilihan yang kita miliki, melainkan oleh kemampuan memilih apa yang paling berharga.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Celaka karena Mukjizat yang Gagal Dikenali
Inilah benang merah yang mempersatukan ketiga bacaan, yaitu hikmat untuk mengenali dan memilih harta yang paling bernilai, yakni Allah sendiri, sehingga seluruh kehidupan diarahkan kepada Kerajaan-Nya.
Dari kesadaran akan pentingnya memilih yang paling bernilai, kita diajak memasuki pengalaman Raja Salomo yang masih muda ketika menerima tanggung jawab besar memimpin bangsa Israel.
Allah memberinya kesempatan untuk meminta apa saja. Salomo dapat meminta umur panjang, kekayaan, kemenangan atas musuh, atau kemasyhuran.
Namun ia justru memohon hati yang penuh pengertian agar mampu membedakan yang baik dan yang jahat. Permohonan itu berkenan kepada Allah, sebab Salomo tidak mencari apa yang menguntungkan dirinya, melainkan apa yang berguna bagi orang banyak.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Pedang yang Menyelamatkan
Hikmat dalam Kitab Suci bukan sekadar kecerdasan intelektual, melainkan kemampuan melihat kehidupan dengan mata Allah.
Santo Agustinus pernah mengatakan bahwa hati manusia tidak akan pernah menemukan ketenangan sampai beristirahat di dalam Allah. Karena itu, hikmat bukanlah mengetahui segala sesuatu, melainkan mengetahui apa yang harus didahulukan.
Mendiang Paus Fransiskus juga sering mengingatkan bahwa kebijaksanaan lahir dari hati yang mampu mendengarkan. Seorang pemimpin, orang tua, pendidik, imam, maupun setiap orang beriman tidak pertama-tama membutuhkan jawaban untuk semua persoalan, tetapi hati yang peka untuk menangkap kehendak Allah dalam setiap keputusan yang diambil.
Dari hati yang dipenuhi hikmat, pandangan kita beralih kepada Yesus yang berbicara tentang harta terpendam, mutiara yang sangat berharga, dan jala yang menangkap berbagai jenis ikan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Menjadi Serupa dengan Guru Agung
Ketiga perumpamaan ini mengajarkan satu kebenaran yang sama. Kerajaan Allah hanya dapat dimiliki oleh mereka yang berani melepaskan sesuatu demi memperoleh yang jauh lebih bernilai. Orang yang menemukan harta terpendam menjual segala miliknya dengan sukacita, bukan dengan keterpaksaan.
Pedagang mutiara meninggalkan semua koleksinya demi satu mutiara yang sempurna. Mengapa mereka rela kehilangan begitu banyak? Karena mereka telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga. Maka, ketika seseorang sungguh mengalami keindahan Allah, segala sesuatu yang lain menemukan tempatnya yang benar.
Itulah sebabnya menjadi murid Kristus bukanlah soal kehilangan, melainkan menemukan. Orang yang sungguh mengenal Kristus tidak merasa miskin karena memberi, tidak merasa rugi karena mengampuni, dan tidak merasa kalah karena melayani. Sebaliknya, ia menemukan kebebasan yang tidak dapat dibeli oleh apa pun.
Dari penemuan akan harta sejati itulah kita semakin memahami keyakinan Rasul Paulus bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya.
Baca juga:BUSA-H ( Butiran Sabda Allah-Harian) Tulus Tanpa Menjadi Lugu, Cerdik Tanpa Kehilangan Iman
Kalimat ini bukan berarti setiap peristiwa selalu mudah dipahami atau langsung membawa sukacita. Paulus mengajarkan bahwa di tangan Allah, bahkan pengalaman yang paling berat sekalipun dapat diubah menjadi jalan menuju keselamatan.
Inilah buah dari hikmat yang sejati. Orang yang telah menemukan Kristus sebagai harta terbesar tidak lagi menilai hidup hanya berdasarkan keberhasilan atau kegagalan, melainkan berdasarkan kesetiaannya kepada Allah.
Dengan demikian, siapa yang menemukan makna hidup akan mampu bertahan menghadapi hampir setiap keadaan, sekalipun dalam kondisi yang paling buruk. Bagi orang beriman, makna itu bukan sekadar sebuah gagasan, melainkan pribadi Yesus Kristus sendiri.
Ketika Kristus menjadi pusat kehidupan, pekerjaan menjadi pelayanan, keluarga menjadi tempat bertumbuh dalam kasih, penderitaan menjadi kesempatan untuk berharap, dan setiap keputusan menjadi ungkapan iman kepada Allah yang selalu menyertai.
Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kasih yang Diterima Harus Menjadi Kasih yang Dibagikan
Dari keyakinan itulah kita diutus untuk menjalani kehidupan dengan hati yang berhikmat dan mata yang mampu mengenali harta yang sesungguhnya. Jangan sampai kita memperoleh banyak hal tetapi kehilangan Kristus. Jangan sampai kita berhasil mengumpulkan kekayaan, kedudukan, atau penghargaan, tetapi gagal memiliki hati yang bijaksana, penuh belas kasih, dan terbuka terhadap kehendak Allah.
Mohonlah seperti Salomo agar Allah menganugerahkan hati yang mampu membedakan yang baik dan yang benar. Carilah seperti pedagang mutiara yang rela melepaskan segala sesuatu demi memperoleh harta yang tidak pernah binasa.
Percayalah seperti Rasul Paulus bahwa Allah tidak pernah berhenti bekerja dalam seluruh perjalanan hidup kita. Jika Kristus sungguh menjadi harta yang paling berharga, maka seluruh hidup akan berubah menjadi kesaksian yang memancarkan harapan, kebijaksanaan, dan kasih.
Itulah kekayaan yang tidak akan pernah habis, sebab berasal dari Allah dan akan membawa kita kepada sukacita yang kekal.
Baca jiga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Mukjizat yang Membuka Mata Batin
Petikan BUSA-H #26/07/2026
”Banyak orang sibuk mengejar yang berharga, tetapi lupa mencari Yang Mahaberharga. Ketika Kristus menjadi harta terbesar, segala sesuatu yang lain menemukan tempatnya yang benar.”
”Hikmat bukanlah mengetahui segala sesuatu, melainkan memiliki keberanian untuk memilih apa yang paling penting. Hati yang dekat dengan Allah tidak mudah tertipu oleh gemerlap yang sementara.”
”Jangan sampai kita berhasil mengumpulkan kekayaan, kedudukan, dan penghargaan, tetapi gagal memiliki Kristus. Sebab siapa menemukan Kristus, sesungguhnya telah menemukan segalanya.”
”Allah tidak selalu menambah apa yang kita inginkan, tetapi Ia selalu mengubah hidup orang yang memilih-Nya sebagai harta yang paling berharga. Di situlah lahir sukacita yang tidak dapat dirampas oleh apa pun.”
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@





