Selasa, 16 Juni 2026. Hari Biasa Pekan XI. Kitab Pertama Raja-Raja 21:17-29; Matius 5:43-48
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih, dalam kehidupan saat ini, tidak sedikit orang yang begitu sibuk mengejar kedudukan, keuntungan, pengaruh, atau pengakuan hingga tanpa sadar mengorbankan kejujuran, persaudaraan, dan suara hati.
Demi mencapai apa yang diinginkan, ada yang menyingkirkan sesama dengan fitnah, membangun tembok persaingan yang tidak sehat, bahkan merasa senang saat orang lain kehilangan apa yang dimilikinya. Di tengah kenyataan seperti inilah Sabda Tuhan hari ini mengajak kita memeriksa kembali arah hati kita.
Bacaan pertama menghadirkan sebuah pemandangan yang menggetarkan. Setelah kematian Nabot, Ahab turun ke kebun anggur yang telah berhasil ia kuasai. Ia memperoleh tanah yang diinginkannya, tetapi kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga, yakni kejernihan hati.
Di tengah kebun yang direbut itu, Elia datang membawa suara Allah. Menariknya, Allah tidak hanya melihat tindakan Ahab, tetapi juga melihat apa yang terjadi di dalam batinnya. Dosa tidak berhenti pada perbuatan yang tampak; dosa perlahan mengubah cara seseorang memandang sesama.
Baca juga; BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Memiliki Tanpa Merampas, Mengasihi Tanpa Membalas
Orang lain tidak lagi dilihat sebagai saudara, melainkan sebagai penghalang yang harus disingkirkan. Itulah kemiskinan terdalam: memiliki banyak hal, tetapi kehilangan hati yang mampu menghormati kehidupan.
Dalam Injil, Yesus melangkah jauh melampaui ukuran kasih yang biasa, yakni kasih yang menghormati kehidupan. “Kasihilah musuh-musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kalian.”
Sabda ini bukan ajakan untuk menyukai atau menyetujui kejahatan dengan membenarkan perlakuan yang salah. Yesus mengungkapkan identitas terdalam seorang murid. Mengasihi musuh berarti menolak membiarkan kebencian bertumbuh di dalam hati.
Musuh dapat melukai nama baik, melukai perasaan, bahkan merampas hak-hak tertentu, tetapi seorang murid Kristus tidak menyerahkan hatinya untuk dikuasai kepahitan. Ia tetap mendoakan, bukan karena lawannya pantas menerima kasih itu, melainkan karena dirinya telah lebih dahulu menerima kasih dari Allah.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Melihat dengan Hati dan Tergerak dengan Kasih
Di sinilah kita menemukan makna yang sangat indah dari sabda Yesus: “Dengan demikian kalian menjadi anak-anak Bapamu di surga.” Menjadi anak Allah bukan pertama-tama soal status, melainkan keserupaan.
Seorang anak dikenali dari wajah, sikap, dan cara hidup ayahnya. Allah menerbitkan matahari bagi yang baik maupun yang jahat. Allah tetap membuka pintu pertobatan bahkan bagi Ahab yang telah jatuh begitu dalam. Allah tidak berhenti berharap meskipun sering ditolak.
Maka, saat seorang murid Yesus tetap memilih mengasihi di tengah luka, tetap mendoakan di tengah penolakan, tetap memberkati di tengah penghinaan, saat itulah wajah Bapa di surga menjadi tampak melalui hidupnya. Ia tidak hanya berbicara mengenai Allah, tetapi juga menghadirkan wajah dan cara Allah mengasihi.
Saudari dan saudara terkasih, dunia menganggap kemenangan lahir dari keberhasilan mengalahkan musuh. Tetapi Injil menunjukkan kemenangan yang lebih agung, yaitu tidak berubah menjadi serupa dengan musuh itu sendiri. Kebencian mudah menular, tetapi kasih yang bertahan di tengah luka adalah tanda hadirnya Kerajaan Allah.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Hati yang Tetap Percaya Meski Belum Mengerti
Ahab diubah oleh keserakahannya hingga kehilangan kedalaman jiwanya. Sebaliknya, para murid Kristus dipanggil untuk diubah oleh kasih hingga semakin menyerupai Bapa. Harta terbesar orang beriman bukanlah kemenangan atas orang lain, melainkan hati yang tetap luas untuk mengampuni, tetap jernih untuk mendoakan, dan tetap hangat untuk mengasihi.
Satu pertanyaan refleksi hari ini: Apakah aku masih menyimpan nama seseorang yang sulit aku doakan di hadapan Allah?
Petikan BUSA-H untuk kita #16/06/26@:
”Mengampuni bukan berarti melupakan luka, melainkan menolak membiarkan luka menguasai arah hidup dan kedalaman jiwa.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Hati yang Tidak Pernah Menyerah
”Kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan orang yang menyakiti kita, melainkan menjaga agar hati tetap dipenuhi kasih meskipun terluka.”
“Setiap kali kita mendoakan orang yang melukai kita, pada saat itulah wajah Bapa yang penuh belas kasih mulai tampak semakin jelas dalam hidup kita.”
”Anak-anak Bapa bukan dikenali dari besarnya popularitas yang dimiliki, melainkan dari luasnya kasih yang tetap diberikan kepada mereka yang sulit dikasihi.”
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@





