BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Menuntun Tanpa Tersesat
Jumat, 11 September 2026. Hari Biasa Pekan XXIII. 1 Korintus 9:16-19.22b-27; Lukas 6:39-42.
Oleh: RD. Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara yang terkasih. Setiap hari kita melintasi jalan yang sama, tetapi jarang kita berhenti sejenak untuk bertanya, jangan-jangan kaki kita sendiri pernah tersesat di jalan itu.
Pola yang sama juga terjadi pada orang yang begitu ramah dan bijak ketika berada di luar rumah atau di luar komunitasnya, namun begitu pintu rumah atau komunitas tertutup, wajahnya berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda, tidak sabar, mudah marah, bahkan kasar kepada orang-orang yang paling dekat dengannya.
Kebutaan yang sesungguhnya bukanlah ketidaktahuan akan jalan yang benar, melainkan ketidaksadaran bahwa diri sendiri sedang tersesat sementara mulut masih sibuk menunjukkan arah kepada orang lain.
Situasi inilah yang disentil tajam oleh Yesus ketika Ia bertanya, mungkinkah seorang buta membimbing orang buta, bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang yang sama?
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Ukuran yang Kita Pakai, Itu juga yang Kita Terima
Maka, lebih baik kita berhenti sejenak memeriksa mata kita sendiri sebelum berani menunjuk jalan bagi orang lain, yakni melihat balok di mata kita lebih dahulu, baru kemudian melihat selumbar di mata orang lain.
Inilah rupanya yang juga disadari Rasul Paulus. Ia tidak menjadikan pewartaan Injil sebagai alasan untuk memegahkan diri. Baginya, mewartakan adalah tugas yang dipercayakan Tuhan kepadanya.
Bahkan Paulus tidak hanya berbicara tentang Injil. Ia melatih dan menguasai dirinya seperti seorang pelari yang mengejar mahkota, supaya jangan sampai sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, ia sendiri gagal menghidupinya.
Di sinilah kedua bacaan hari ini bertemu. Tuhan tidak mencari orang yang hanya pandai menunjukkan jalan kepada orang lain, tetapi orang yang terlebih dahulu bersedia dibentuk oleh jalan yang ditunjukkannya.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kebahagiaan Sejati, Memiliki Tanpa Dimiliki
Maka sebelum kita memberi senyum dan berkata ramah kepada orang lain, berikanlah keramahan itu terlebih dahulu kepada orang-orang di dalam rumah atau komunitas kita.
Sebab kasih yang sungguh tidak dimulai dari panggung, melainkan dari ruang kehidupan yang paling dekat dan tersembunyi.
Saudari dan saudara yang terkasih, satu ajakan untuk kita bawa pulang, sebelum kita menasihati, mengajar, atau menunjukkan jalan kepada siapa pun hari ini, baik kepada anak, pasangan, rekan kerja, atau sesama yang lain, berhentilah sejenak dan tanyakan pada diri sendiri, sudahkah aku lebih dulu hidup dari apa yang hendak kukatakan?
Sebab hanya murid yang berani dibentuk oleh ajaran gurunya sendiri, yang sungguh layak disebut tamat belajar. Dengan demikian, kita memang tidak akan pernah melebihi Sang Guru yang penuh kuasa, tetapi perlahan kita sedang dibentuk untuk menjadi semakin serupa dengan-Nya.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dari Maria, Kita Belajar Menjadi Berkat
Saya mengakhiri renungan ini dengan pantun berikut:
Pergi ke ladang menanam padi,
Menunggu panen dengan gembira.
Periksa hati sebelum menasihati,
Benahi diri sebelum bicara.
Petikan BUSA-H #11/09/2026
“Kebutaan yang sesungguhnya bukan ketidaktahuan akan jalan yang benar, melainkan ketidaksadaran bahwa diri sendiri sedang tersesat.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Membiarkan yang Salah Menjadi Biasa
“Sebelum menunjuk jalan bagi orang lain, pastikan dulu kaki sendiri tidak sedang tersesat.”
“Kasih yang sungguh tidak pernah dimulai dari panggung, melainkan dari ruang yang paling sunyi dan tersembunyi.”
“Kita memang tidak akan pernah melebihi Sang Guru, tetapi perlahan kita sedang dibentuk untuk menjadi semakin serupa dengan-Nya.”
Tuhan memberkati kita#rd.fd@





