BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Satu Mati untuk Semua: Bukan Karena Kalah Tetapi Karena Kasih
Sabtu, 28 Maret 2026. Hari Biasa Pekan V Prapaskah. Yehezkiel 37:21-28; Yohanes 11:45-56.
Oleh: Rd.Fidelis Dua.
SAUDARI dan saudara yang terkasih, ada satu kalimat dalam Injil hari ini yang terdengar logis, bahkan masuk akal: “lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa.”
Kalimat ini diucapkan oleh Kayafas, imam besar. Sekilas, ini tampak seperti kebijaksanaan politik dengan mengorbankan satu orang demi kepentingan banyak orang. Namun sesungguhnya, kalimat ini menyimpan sebuah paradoks yang menyingkapkan cara manusia sering memperlakukan sesamanya.
Kayafas berbicara dari logika kekuasaan untuk menjaga stabilitas, melindungi kepentingan umum, dan menghindari risiko. Dalam cara berpikir seperti ini, manusia mudah direduksi menjadi alat. Satu orang dapat “dikorbankan” demi sistem yang lebih besar, entah dengan disingkirkan, disalahkan, atau dikambinghitamkan demi kenyamanan bersama.
Namun, tanpa disadari, Kayafas berkata lebih dari yang ia mengerti. Benar, satu orang akan mati untuk semua tetapi bukan sebagai korban dari permainan kuasa manusia, melainkan sebagai pemberian diri Allah sendiri demi keselamatan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kebenaran Selalu Mengganggu: Bertahan atau Menyerah
Di sinilah makna terdalam dibalik sebuah cara radikal bahwa Yesus tidak sekadar “dikorbankan”, tetapi dengan bebas menyerahkan diri-Nya.
Dalam logika dunia, pengorbanan dipaksakan kepada yang lemah tetapi dalam logika Allah, pengorbanan lahir dari kasih yang total. Yesus tidak mati karena kalah, melainkan karena memilih untuk mengasihi sampai tuntas. Dan justru karena itulah, kematian berubah menjadi jalan kehidupan.
Bacaan dari Nabi Yehezkiel menegaskan arah ini. Allah berjanji mempersatukan umat-Nya, membersihkan mereka dari dosa, dan tinggal di tengah mereka. Janji ini tidak digenapi melalui kekuatan manusia, tetapi melalui kasih yang memulihkan dari dalam diri. Allah tidak menyelamatkan dengan mengorbankan orang lain, melainkan dengan memberikan diri-Nya sendiri.
Saudari dan saudara, Sabda Allah hari ini menjadi sangat dekat dengan kehidupan kita. Tanpa sadar, kita pun sering hidup dengan “logika Kayafas” yakni mengorbankan sesama demi kepentingan diri.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Janji Tuhan dan Rapuhnya Kesetiaan Kita
Dalam situasi seperti ini, kita diingatkan oleh mendiang Paus Fransiskus: “Salib Kristus mengundang kita untuk membiarkan diri kita tersentuh oleh kasih yang total dan belajar memandang orang lain dengan belas kasih, terutama mereka yang menderita.”
Pertanyaannya menjadi sangat konkret: apakah kita melihat orang lain sebagai beban, atau sebagai saudara yang harus dikasihi?
Dalam keluarga dan dalam komunitas, kita sering secara diam-diam bertanya, “siapa yang harus dikorbankan supaya aku aman?”
Sabda hari ini mengajak kita mengubah pertanyaan itu menjadi: “apa yang harus aku lepaskan supaya orang lain hidup?”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kabar Sukacita yang Mengusik Kenyamanan
Di sinilah kita mulai masuk ke dalam cara berpikir Kristus, bukan mengorbankan orang lain, tetapi berani berkorban demi sesama dengan kasih yang sejati. Sebab pada akhirnya, keselamatan tidak lahir dari mengorbankan sesama, tetapi dari keberanian untuk mengasihi sampai tuntas, seperti Kristus.
Petikan BUSA-H untuk kita:
“Ketika kita memilih mengorbankan sesama demi diri sendiri, Kristus justru menyerahkan diri-Nya demi menyelamatkan kita.”
“Salib bukan tanda kekalahan, melainkan bukti bahwa kasih lebih kuat daripada segala bentuk pengorbanan yang dipaksakan.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dari Ular ke Salib: Jalan Pulang kepada Keselamatan
“Keselamatan tidak lahir dari siapa yang kita korbankan, tetapi dari apa yang berani kita lepaskan demi mengasihi.”
Tuhan memberkati kita.#rd.fd@





