BUSA-H ( Butiran Sabda Allah-Harian) Puasa dengan Hati, Menggerakan Tangan, Berbuah dalam Kasih
Jumat, 20 Febuari 2026. Hari Jumat sesudah Rabu Abu (Hari Pantang). Kitab Yesaya 58:1-9a; Matius 9:14-15.
Oleh: Rd.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih, puasa yang sejati tidak lahir dari kebisingan ritual atau kesibukan rutinitas yang kosong, melainkan dari jeritan hati yang rindu akan kebenaran dan belas kasih.
Hari ini Sabda Tuhan memanggil kita untuk bersuara lantang terhadap dosa dan kepalsuan hidup, sembari mengajak kita bertanya jujur tentang makna puasa yang kita jalani.
Kita disadarkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar atau berpantang dari kelekatan dunia, tetapi gerak hati yang mau berbenah dan berubah oleh doa yang mendalam, lalu berbuah dalam sedekah agar hidup kita sungguh selaras dengan kehendak Allah.
Dari jeritan hati yang rindu akan kebenaran dan belas kasih itu, Tuhan menegur umat yang rajin beribadah tetapi membiarkan ketidakadilan dan kepalsuan leluasa terjadi di sekitar mereka, sebab puasa yang berkenan kepada-Nya adalah membuka belenggu kelaliman dan memerdekakan yang tertindas.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Di Persimpangan Hati, Ada Jalan Salib Kehidupan
Ibadah yang tidak melahirkan belas kasih hanyalah tubuh tanpa jiwa, tampak hidup namun sesungguhnya kosong dan kehilangan daya ubah.
Maka pantang dan puasa kita menemukan maknanya ketika menumbuhkan kepekaan untuk berbagi, memulihkan relasi yang retak, dan melawan kebiasaan yang menindas sesama, sebab penindasan hari ini bukanlah rantai besi di kaki orang kecil, melainkan upah yang ditahan, kata-kata yang merendahkan martabat, sikap masa bodoh terhadap penderitaan tetangga, dan kebiasaan memanfaatkan kelemahan orang lain demi keuntungan diri sendiri.
Injil mengingatkan bahwa puasa bukan soal pamer kesalehan, melainkan tanggapan kasih pada kehadiran dan ketiadaan Sang Mempelai. Selama Kristus hadir, hati bersukacita, namun ketika Ia terasa jauh, puasa menjadi bahasa rindu yang memurnikan cinta. Di sini puasa berubah menjadi doa tubuh yang merindukan Tuhan, membentuk kita agar tidak terikat pada kepuasan sesaat, melainkan pada relasi yang hidup dengan Tuhan.
Maka pada Hari Pantang ini, marilah kita berpuasa dengan hati yang jujur dan tangan yang terbuka bagi yang terluka. Biarlah pengorbanan kecil kita menjadi pintu bagi keadilan, damai, dan belas kasih Allah mengalir melalui hidup kita.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Abu di Dahi, Koyakkan Hatimu Bukan Topeng
Ketika puasa menyentuh sesama dan menyalakan kembali rindu akan Kristus, di situlah Sabda Tuhan hari ini sungguh menjadi daging dalam keseharian kita.
Petikan BUSA-H pada hari ini:
”Puasa sejati bukan menahan perut yang lapar, melainkan hati yang diubahkan hingga berani bersuara bagi kebenaran dan berbuah dalam kasih.”
”Ibadah tanpa belas kasih hanyalah tubuh tanpa jiwa, dan puasa yang berkenan kepada Tuhan selalu mematahkan belenggu ketidakadilan di sekitar kita.”
”Puasa bukan pamer kesalehan, melainkan bahasa rindu dari hati yang merindukan Tuhan hingga cinta dimurnikan dan hidup diarahkan kembali kepada-Nya.”
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@





