Rabu, 18 Februari 2026.Hari Rabu Abu, Pantang dan Puasa.Yoel 2:12-18; 2 Korintus 5:20-6:2; Matius 6:1-6.16-18
Oleh: Rd.Fidelis Dua
SAUDARI-saudara yang terkasih, Paus Fransiskus pernah berkata bahwa dosa tidak meledak tiba-tiba seperti bom besar, melainkan tumbuh pelan-pelan dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita biarkan hidup dalam hati kita.
Manusia jatuh bukan karena sekali tersandung, tetapi karena berkali-kali berdamai dengan yang salah sampai yang salah terasa normal. Dari situlah hati menjadi tumpul, nurani menjadi senyap, dan kebenaran terasa jauh.
Maka, hari ini Tuhan berseru, “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan mengaduh. Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, sebab Aku pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.”
Seruan ini adalah undangan sekaligus teriakan cinta Allah kepada setiap orang berdosa. Seruan ini kini terwujud dalam tanda yang kelihatan pada tubuh kita, yakni abu yang akan kita terima.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Ragi Kecil yang Menumpulkan Hati
Abu yang dioleskan pada dahi kita bukan untuk mengotori, apalagi mempermalukan, melainkan untuk menandai bahwa sekaranglah saatnya kita menentukan arus balik. Abu itu seperti alarm rohani yang berkata, “Ingatlah engkau rapuh, tetapi engkau dicintai.
Ingatlah engkau bisa jatuh, tetapi engkau bisa bangkit.” Abu itu menampar keangkuhan dan sekaligus memeluk harapan, sebab Tuhan tidak sedang menghitung seberapa dalam kita jatuh, melainkan sedang membuka jalan pulang. Ia tidak berkata, “Rapikan pakaianmu,” tetapi Ia berkata, “Koyakkanlah hatimu.” Sebab bukan tampilan luar yang Ia cari, melainkan hati yang jujur, nurani yang insaf, dan kehendak yang mau berbalik untuk berubah.
Itulah pertobatan. Dahi kita yang diberi tanda Salib hari ini bukan sekadar ditandai, melainkan dikuatkan untuk bertobat sungguh-sungguh dan diutus menjadi tanda harapan di tengah jeritan orang miskin yang sengsara serta jeritan bumi yang menderita.
Dalam semangat Aksi Puasa Pembangunan 2026 dengan tema “Gerakan Misioner Gereja dalam Menghadirkan Pengharapan,” kita bertekad untuk berkata dan berbuat, berpikir dan bertindak, menulis dan merilis segala sesuatu yang menumbuhkan pengharapan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Meminta Tanda, Bukti Iman yang Mendua
Rasul Paulus mengguncang pengharapan kita dengan kalimat yang keras dan penuh rahmat, “Janganlah kamu membuat sia-sia kasih karunia Allah.” Seakan Paulus berteriak, “Jangan permainkan kesempatan ini. Jangan anggap enteng hari ini. Jangan menunda perubahan. Sebab inilah saat perkenan, hari inilah hari penyelamatan.” Artinya, ada kemendesakan pertobatan.
Pertobatan yang ditunda adalah pertobatan yang masih dininabobokan oleh kebiasaan lama. Hati yang berkata nanti, besok, kelak sering kali sedang bernegosiasi dengan dosa. Semua ini harus diakhiri, sebab Injil menuntut jawaban sekarang, hari ini, detik ini, tanpa menunggu apa pun.
Di balik tembok, di balik jeruji, bahkan di dalam zona nyaman diri sendiri, rahmat Allah menembus masuk. Rahmat itu tidak bisa dipenjara. Rahmat itu mengetuk hati yang mau membuka pintu pertobatan dan segera berbalik.
Kemendesakan untuk bertobat hari ini ditegaskan oleh Yesus sendiri dengan membuka topeng religiositas yang palsu.
Yesus menelanjangi kemunafikan rohani dengan jujur dan tajam, “Jangan melakukan kewajiban agamamu supaya dilihat orang. Jangan memberi sedekah agar dipuji. Jangan berdoa agar dikagumi. Jangan berpuasa agar dikira suci.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dari Jejak Digital Menuju Jejak Kekudusan dalam Kerajaan Allah
Sebab semua itu bisa menjadi topeng. Kesalehan bisa berubah menjadi sandiwara. Iman bisa menjadi panggung. Tetapi Bapa melihat yang tersembunyi. Tuhan menatap ruang paling gelap dalam hati kita. Di sana Ia bertanya, “Apakah engkau sungguh menyesal atau hanya menyesuaikan diri? Apakah engkau sungguh mau berubah atau hanya ingin tampak baik dan bebas?”
Pertobatan sejati terjadi bukan di hadapan kamera dan tontonan, melainkan di hadapan Allah yang melihat air mata yang jatuh diam-diam.
Saudari dan saudara yang terkasih, kita semua tidak pernah sepenuhnya luput dari manipulasi, kebohongan, penipuan, bahkan korupsi dalam berbagai bentuknya. Namun, marilah kita jujur mengakui bahwa semua itu hampir selalu berawal dari kompromi-kompromi kecil yang kita biarkan hidup dalam setiap kesempitan dan kesempatan. Dosa besar lahir dari pembiaran kecil.
Tetapi kabar baiknya, pertobatan besar pun lahir dari keputusan kecil hari ini. Satu kejujuran kecil hari ini mampu merobohkan tembok kebohongan lama. Satu doa tulus hari ini sanggup memutus rantai yang membelenggu bertahun-tahun. Tuhan tidak menunggu kita sempurna. Tuhan menunggu kita jujur. Ia tidak menunggu kita bersih. Ia menunggu kita mau dibersihkan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dari Berhala ke Belas Kasih
Maka, mulai hari ini, jangan berpura-pura lagi. Jangan sembunyikan beban dan pergumulan kita di hadapan Tuhan. Datanglah dengan abu di dahi dan pertobatan di hati. Datanglah dengan masa lalu yang berat, tanpa malu, dan bukalah mata menatap masa depan yang Tuhan sediakan. Sebab Bapa yang melihat yang tersembunyi akan memulihkan yang hancur, menguatkan yang letih lesu, dan menyalakan kembali harapan yang selama ini meredup.
Prapaskah adalah saat untuk berani berdiri di hadapan Tuhan tanpa topeng kesalehan. Abu di dahi mengingatkan kita bahwa kita lemah dan rapuh, fana dan terbatas, diciptakan oleh Tuhan dan bergantung sepenuhnya pada rahmat-Nya. Di hadapan Allah, prestasi dan harta tidak menyelamatkan, yang menyelamatkan adalah hati yang rendah dan mau dibentuk.
Justru ketika kita mengakui bahwa kita hanyalah abu, Tuhan mulai bekerja. Ia mengangkat kita dari kefanaan menuju kehidupan baru. Ia memulihkan kemanusiaan kita yang rapuh dengan kasih penyelamatan-Nya. Ia menepati janji-Nya kepada hati yang sungguh berbalik. Percayalah, tidak ada hidup yang terlalu hancur untuk dipulihkan oleh Tuhan.
Selamat memasuki Masa Prapaskah, saat rahmat yang dianugerahkan Allah bagi kita. Pada masa yang istimewa ini, Gereja mengajak kita memperbarui diri melalui doa, puasa, dan amal kasih, bukan hanya untuk membenahi dosa pribadi, tetapi juga untuk menatap jujur realitas sosial yang kita hidupi dan menata kembali pilihan-pilihan hidup kita sebagai murid-murid Kristus yang berani berbalik dan berjalan di jalan Tuhan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Effata untuk Hidup yang Terbelenggu
Petikan BUSA-H pada hari ini:
” Abu di dahi bukan tanda kehinaan, melainkan panggilan untuk pulang, karena Tuhan tidak menilai seberapa jatuh kita, tetapi seberapa jujur hati kita mau berbalik.”
”Rahmat Allah tidak menunggu besok, Ia mengetuk hari ini, sebab pintu yang dibuka sekarang lebih menyelamatkan daripada penyesalan yang ditunda.”
”Pertobatan sejati lahir bukan dalam topeng kesalehan, melainkan di ruang sunyi hati yang berani jujur di hadapan Allah yang melihat yang tersembunyi.”
”Prapaskah adalah waktu untuk mengaku bahwa kita hanyalah abu, agar oleh kasih Tuhan kita dibentuk kembali menjadi manusia baru dalam terang Paskah.”
Tuhan memberkati kita. #fd_monanoa@






