BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Terlalu Lama di Kolam yang Sama
Selasa, 17 Maret 2026. Hari Biasa Pekan IV Prapaskah. Nubuat Yehezkiel 47:1-9.12; Yohanes 5:1-16.
Oleh: Rd.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara yang terkasih. Ada satu hal yang sering tidak kita sadari dalam hidup rohani, yakni kita terbiasa tinggal terlalu lama di tempat yang salah. Bukan karena kita tidak tahu jalan keluar, tetapi karena kita sudah terlanjur merasa “nyaman” dengan keadaan itu.
Luka lama, kekecewaan, rasa tidak berdaya, atau kebiasaan buruk sering menjadi semacam kolam tempat kita duduk bertahun-tahun. Kita tahu hidup bisa berubah, tetapi entah mengapa kita tetap tinggal di sana.
Dalam Injil hari ini, Yesus datang kepada seorang yang sudah sakit selama tiga puluh delapan tahun di Kolam Betesda. Menariknya, Yesus tidak langsung menyembuhkan dia. Yesus terlebih dahulu bertanya sesuatu yang tampaknya sederhana, tetapi sebenarnya sangat dalam: “Maukah engkau sembuh?”
Pertanyaan ini terasa aneh. Bukankah jelas orang itu ingin sembuh? Tetapi Yesus tahu, tidak semua orang benar-benar siap untuk sembuh.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tuhan Selalu Memberi yang Baru
Kadang-kadang kita lebih terbiasa dengan penderitaan daripada dengan perubahan. Orang yang lama hidup dalam luka bisa saja takut menghadapi hidup yang baru. Karena sembuh berarti harus bangkit. Sembuh berarti harus berjalan lagi. Sembuh berarti tidak bisa lagi bersembunyi di balik alasan-alasan lama.
Orang yang sakit itu menjawab dengan cara yang menarik: ia tidak menjawab “ya”. Ia justru menceritakan alasannya mengapa ia tidak bisa masuk ke kolam. Ia menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain yang selalu lebih cepat darinya. Ia sudah terlalu lama hidup dalam logika ketidakberdayaan. Hidupnya seolah berhenti pada kalimat: “Tidak ada orang yang menolong saya.”
Namun Yesus tidak memperdebatkan alasan itu. Yesus tidak membawa dia ke kolam. Justru Yesus mematahkan seluruh cara berpikirnya dengan satu perintah sederhana: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.”
Ini menarik. Selama tiga puluh delapan tahun, tilam itu menjadi simbol kelemahannya. Tempat ia berbaring, tempat ia menunggu nasib. Tetapi ketika Yesus menyembuhkannya, tilam itu tidak ditinggalkan. Ia diminta untuk mengangkatnya. Artinya, masa lalu tidak dihapus, tetapi diubah maknanya. Yang dulu menjadi tanda kelemahan kini menjadi tanda kesaksian.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dunia Tidak Berubah Tanpa Perubahan Hati
Saudari dan saudara terkasih, bacaan pertama dari Yehezkiel memberi gambaran yang indah: air yang keluar dari Bait Allah makin lama makin dalam, dan di mana pun air itu mengalir, di situ ada kehidupan. Pohon-pohon tumbuh, buah tidak pernah habis, dan daun menjadi obat.
Air itu melambangkan rahmat Allah yang diam-diam mengalir. Ia tidak selalu datang dalam cara yang spektakuler. Kadang hanya seperti aliran kecil dari ambang pintu Bait Allah. Tetapi bila kita berani melangkah masuk, kita akan menemukan bahwa rahmat itu semakin dalam, semakin menyembuhkan, dan semakin memberi hidup.
Masalahnya sering bukan pada kurangnya rahmat Allah, tetapi pada kebiasaan kita duduk terlalu lama di “kolam-kolam lama” kehidupan kita. Kita menunggu situasi berubah, menunggu orang lain berubah, menunggu kesempatan yang tepat.
Padahal mungkin Yesus sudah berdiri sangat dekat dengan kita hari ini dan bertanya pelan: “Maukah engkau sembuh?” Pertanyaan itu bukan tentang kemampuan kita, tetapi tentang keberanian kita. Keberanian untuk bangkit dari kebiasaan lama, dari pola pikir lama, dari cara hidup yang selama ini membuat kita tetap terbaring.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Bukan Kesombongan Melainkan Kerendahan Hati
Saudari dan saudara yang terkasih, Masa Prapaskah adalah waktu ketika Tuhan tidak hanya ingin menghibur kita, tetapi membangunkan kita. Ia tidak hanya ingin membuat kita merasa lebih baik, tetapi membuat kita berjalan kembali.
Dan mungkin mukjizat terbesar bukan hanya ketika kita disembuhkan, tetapi ketika suatu hari kita bisa berjalan sambil “mengangkat tilam” kita sendiri, membawa cerita lama yang dulu penuh luka, tetapi sekarang menjadi bukti bahwa Tuhan pernah menyentuh hidup kita.
Petikan BUSA-H ini:
”Kadang yang menahan kita bukan luka masa lalu, tetapi kenyamanan kita untuk terus tinggal di dalamnya.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Menata Hati, Menghidupi Kasih
”Kesembuhan sejati dimulai ketika kita berani bangkit, bukan ketika semua alasan kita selesai.”
”Tuhan tidak selalu menghapus masa lalu kita, tetapi Ia mengubahnya menjadi kesaksian tentang bagaimana rahmat-Nya memulihkan hidup kita.”
Tuhan memberkati kita.#rd.fd@





