BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Terang yang Tidak Padam: Berlajar Berharap dari para Martir Aceh
Senin, 1 Desember 2025. Peringatan Wajib Beato Dionisius dan Redemptus, Martir Indonesia.Kitab Yesaya 2:1-5; Matius 8:5-11.
Oleh: Rd.Fidelis Dua.
SAUDARI-saudara terkasih, kita sering terperangkap oleh begitu banyak tawaran yang tampak menggiurkan di sekitar kita, seperti persaingan yang tidak sehat, relasi yang dangkal dan sarat ego, serta pencarian yang tidak menentu arahnya.
Di tengah suasana batin seperti itu, Gereja menghadirkan dua martir agung, Beato Dionisius dan Beato Redemptus, yang melalui hidup dan wafat mereka menunjukkan arah ketika banyak hal tidak lagi mampu menjadi pegangan.
Dionisius, yang lahir di Honfleur, Perancis pada 1600, dan Redemptus dari Portugis pada 1598, datang ke tanah air Indonesia bukan untuk mencari nama, melainkan untuk menghadirkan kasih Kristus. Mereka menempuh perjalanan panjang, berkarya di Goa, di Sumatra, hingga akhirnya memberikan hidup sampai tetes darah terakhir di Aceh.
Kepalanya dipukul dengan gada hingga pecah lalu leher digorok pada 27 November 1638. Tubuh mereka dihancurkan, tetapi hati mereka tidak terkalahkan. Keberanian mereka lahir dari keyakinan bahwa iman bukan sekadar pengakuan, tetapi arah hidup.
Maka hari ini, ketika kita mendengar seruan Nabi Yesaya: “Mari kita berjalan dalam terang Tuhan!” kita menemukan gema yang sama dari hidup kedua martir ini. Yesaya berbicara tentang sebuah gunung tempat manusia menimba hikmat, tempat pedang ditempa menjadi mata bajak, tempat hidup diarahkan ulang kepada kedamaian. Pesannya jelas bagi kita bahwa hidup berubah bukan ketika keadaan membaik, tetapi ketika hati kembali diarahkan kepada Tuhan.
Itulah yang dilakukan Dionisius dan Redemptus. Mereka menjadi saksi bahwa terang Tuhan tidak padam oleh ancaman. Mereka percaya seperti perwira dalam Injil hari ini yang dengan kerendahan hati berseru, “Tuan, aku tidak layak…” tetapi sekaligus penuh iman, “…katakan saja sepatah kata, maka hambaku akan sembuh.” Iman yang jujur, rendah hati, dan bersandar pada kuasa Tuhan inilah yang memindahkan gunung ketakutan dan menumbuhkan keberanian.
Saudari-saudara terkasih, Masa Adven adalah masa membangunkan kembali kerinduan itu: kerinduan untuk menata arah hidup, kerinduan untuk membiarkan Allah menerangi langkah kita.
Mendiang Paus Fransiskus pernah mengingatkan, “Iman yang tidak bergerak adalah iman yang membeku; tetapi iman yang keluar dari dirinya adalah iman yang hidup.” Adven bukan untuk membekukan diri dalam rutinitas, tetapi untuk bergerak menuju Dia yang datang membawa damai.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Keteguhan Hati di Tengah Tekanan dan Kegelisahan
Marilah kita belajar dari kedua martir hari ini: Keberanian mereka mengalahkan ketakutan. Kesetiaan mereka menyingkirkan keraguan. Keteguhan mereka menuntun kita untuk tidak menyerah pada keadaan.
Dalam suasana Adven ini, kita diajak: menempa pedang kekhawatiran menjadi mata bajak pengharapan; mengubah tombak kejengkelan menjadi pisau pemangkas kasih; meninggalkan kegelapan dan berjalan dalam terang-Nya.
Semoga seperti Dionisius dan Redemptus, kita pun memiliki iman yang teguh, hati yang menyala, dan langkah yang setia. Dan semoga masa Adven ini menjadi perjalanan menuju gunung Tuhan, tempat kita dituntun, dibentuk, dan diperbarui.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Yang Tak Berubah di Tengah Segala yang Berubah
“Keberanian para martir mengajarkan bahwa hidup tidak diukur dari panjangnya usia, tetapi dari arah jelas yang dituju.”
“Adven menjadi nyata ketika kita berani bergerak dari diri sendiri menuju Dia yang sanggup menyalakan kembali hidup kita.”
Tuhan memberkati kita.
Editor: Eginius Moa





