Sabtu, 17 Mei 2025. Hari Biasa Pekan IV Paskah. Bacaan Kisah Para Rasul 13:44-52; Yohanes 14:7-14

Oleh: Rd.Fidelis Dua

MAUMERE,dewadet.com-Saudari dan saudara terkasih dalam Kristus, sering kali dalam hidup kita merasa kecewa dan marah ketika kebaikan yang kita lakukan ditolak atau dicurigai.  Kita merasa tak dimengerti, bahkan ditentang oleh orang-orang yang seharusnya menjadi sahabat dan saudara.

Pengalaman ini juga dialami oleh Paulus dan Barnabas dalam bacaan pertama hari ini. Ketika firman Allah diberitakan dengan semangat yang menyala ditengah kerinduan banyak orang, justru sebagian pemimpin komunitas Yahudi diliputi kecemburuan. Mereka menolak Injil bukan karena keburukannya, tetapi karena hati mereka tertutup oleh rasa iri yang melumpuhkan.

Paulus dengan tegas berkata, “Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu! Tetapi kamu menolaknya… karena itu, kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain.” (Kis 13:46).

Ini adalah momen yang penuh luka, tetapi juga penuh terang. Ketika satu pintu tertutup karena kedegilan dan kecemburuan, Roh Kudus membuka jalan baru. Paulus dan Barnabas tidak menyerah. Justru dari penolakan itulah, pewartaan keselamatan menjangkau bangsa-bangsa lain.

Baca Juga: Dari Retakan Terpenuhi Rencana Besar Allah

Inilah pengingat bagi kita: penolakan bukanlah akhir, tetapi bisa menjadi awal dari karya yang lebih besar, asal kita tidak larut dalam luka dan tetap bersandar pada Tuhan.

Kecemburuan adalah salah satu emosi paling tua dan paling berbahaya. Ia lahir dari rasa kehilangan, padahal sering kali bukan karena kita dirampas, tetapi karena kita membandingkan diri secara keliru. Kecemburuan bisa membuat kita mengutuki terang hanya karena kita tidak berdiri di pusatnya.

Ketika kita menyerah pada iri hati, kita tidak hanya menyakiti sesama, tapi menutup jalan Allah dalam hidup kita sendiri. Maka, panggilan kita bukan untuk menyaingi terang, tetapi menjadi pantulan kecil dari terang itu, menjadi cahaya yang menyambung terang Kristus ke sudut-sudut dunia yang gelap.

Saudari dan saudara terkasih dalam Kristus, Injil hari ini memperdalam makna perutusan itu. Filipus bertanya, “ Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami,” dan Yesus menjawab dengan nada yang getir namun penuh kasih: “Telah sekian lama Aku bersama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku?” (Yoh 14:9).

Baca Juga: Kesetiaan dalam Sunyi, Pelayanan dalam Kasih

Ini bukan hanya teguran kepada Filipus, tetapi juga kepada kita yang mengaku percaya, tetapi sering gagal mengenal dan mengandalkan Kristus.

Yesus adalah wajah Bapa: dalam kelembutan-Nya, dalam kerendahan-Nya, dalam sabda dan karya kasih-Nya. Dan lebih dari itu, Yesus memberi janji yang luar biasa: “Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan yang lebih besar daripada itu.”

Saudara-saudari terkasih, janji ini bukan ilusi. Ketika kita bersatu dengan Kristus, bukan hanya mengenal secara intelektual, tetapi menghidupi sabda-Nya, maka setiap hal kecil yang kita lakukan akan menjadi saluran kasih Allah.

Dunia tidak membutuhkan orang-orang hebat dengan kekuatan besar, melainkan pribadi-pribadi sederhana yang mau menjadi terang di tengah gelap, menjadi damai di tengah kecemburuan, menjadi kasih di tengah pertentangan. Dan kita tidak sendirian, sebab Yesus berkata, “Jika kamu meminta sesuatu dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yoh 14:14).

Dari Reruntuhan Menjadi Jalan untuk Melangkah dalam Suara dan Bertahan dalam Cinta

Maka marilah kita memohon satu rahmat: agar hati kita tidak diisi oleh iri, tetapi oleh iman yang teguh. Agar lidah kita tidak dipakai untuk menyulut kebencian, tetapi untuk mewartakan kasih dan pengampunan. Dan agar hidup kita tidak diarahkan untuk menguasai, tetapi untuk melayani dalam nama Dia yang telah lebih dahulu melayani kita sampai wafat dan bangkit demi hidup yang kekal.

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

“Jangan iri pada terang kebaikan orang lain, sebab kita pun dipanggil menjadi cahaya kebaikan yang sama dalam ruang yang belum tersentuh kasih.”

“Penolakan bisa menutup pintu di hadapan kita, tapi tidak akan pernah menutup jalan Tuhan untuk menggenapi karya-Nya.”

“Dalam dunia yang mudah dilukai oleh kecemburuan, kita dipanggil bukan untuk bersaing dalam cahaya kebaikan, melainkan memantulkannya dengan setia dalam pelayanan.”

 

Penulis: Eginius Moa

Editor: Eginius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan