BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian), Rabu 14 Mei 2025

Pesta St. Matias, Rasul

Kisah Para Rasul 1:15-17.20-26; Yohanes 15:9-17

Oleh: Rd.Fidelis Dua

MAUMERE,dewadet.com- Saudari dan saudara terkasih dalam Kristus, “Tuhan tak pernah bekerja dalam kesempurnaan manusia, tetapi dalam kesetiaan-Nya yang tak pernah gagal.”

Sering kali Allah justru bekerja lewat celah, lewat kekosongan, bahkan lewat kegagalan manusia.

Itulah yang kita lihat dalam kisah pemilihan Santo Matias sebagai pengganti Yudas Iskariot.

Peristiwa ini bukan sekadar tindakan administratif, melainkan tindakan teologis: pemulihan kelengkapan Gereja apostolik sebagai simbol otoritas ilahi yang utuh. Juga menegaskan bahwa misi Allah tidak pernah berhenti hanya karena kegagalan satu pribadi. Allah mau menggantinya.

Dari Reruntuhan Menjadi Jalan untuk Melangkah dalam Suara dan Bertahan dalam Cinta

Lantas, mengapa jumlah para rasul tidak boleh sebelas dan harus ada pengganti supaya tetap dua belas?

Angka dua belas, sebagaimana kita tahu dari dua belas putra Yakub yang membentuk dua belas suku Israel, melambangkan kepenuhan, kesatuan, dan keutuhan rencana Allah atas umat-Nya. Maka dengan terpilihnya Matias, Gereja awal sedang menyatakan bahwa kendati manusia bisa gagal, misi Allah tidak akan pernah terhenti. Misi keselamatan harus tetap berjalan dalam keutuhan Gereja.

Bacaan pertama memperlihatkan bahwa para murid memilih Matias bukan karena dia paling menonjol, tetapi karena dia setia mengikuti Yesus dari awal hingga kebangkitan-Nya.

Kesetiaan inilah yang membuatnya layak menjadi rasul. Ia memang tidak dipanggil secara langsung oleh Yesus, tetapi ia dipilih oleh Gereja yang menyerahkan keputusan kepada Roh Kudus.

Baca Juga: Paus Leo XIV Telepon Presiden Zelensky Bahas Ribuan Anak Ukraina Dideportasi ke Rusia

Ini menunjukkan bahwa Kristus tetap memimpin Gereja-Nya melalui iman, doa, dan persekutuan yang taat kepada Roh.

Dalam Injil, Yesus menegaskan kebenaran mendasar panggilan: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.”

Panggilan bukan soal prestasi, tapi tentang kesediaan hati untuk dikasihi, diutus, dan menghasilkan buah.

Yesus menghendaki agar setiap murid tinggal dalam kasih-Nya dan membagikan kasih itu lewat hidup yang berbuah: bukan sekadar sukses, tetapi setia; bukan hanya mengabdi, tetapi juga mengasihi.

Baca Juga: Kenali Ordo Agustinian, Ordo Paus Leo XIV

Hari ini, kita diajak melihat hidup seperti Matias: mungkin tidak selalu menonjol, mungkin terasa sebagai “pengganti”saja, tetapi tetap penting dalam rencana keselamatan Tuhan.

Dalam dunia yang sering mengukur makna dari pencapaian, Injil hari ini mengingatkan: yang terpenting bukan siapa yang pertama dipilih, tetapi siapa yang tetap setia sampai akhir. Maka marilah kita bersyukur, sebab Gereja berdiri bukan karena kekuatan manusia, tetapi karena kesetiaan Kristus.

Dan kita semua, entah di keluarga, di tempat kerja, di lingkungan dan di paroki, kita diminta untuk menjawab panggilan itu: tinggal dalam kasih, dan menghasilkan buah yang tetap.

Baca Juga: Paus Leo XIV Akan Terima Cincin Nelayan, Simbol Penerus Santo Petrus

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

“Dalam kekosongan yang ditinggalkan manusia, Tuhan selalu menemukan pribadi yang setia untuk meneruskan karya-Nya.”

“Panggilan bukan soal panggung yang terang, tetapi tentang hati yang mau tetap tinggal dalam kasih saat tak ada yang melihat.”

“Tuhan tidak menuntut kita menjadi yang pertama, tapi menjadi yang setia sampai akhir.”

Tuhan memberkati kita.*

Penulis: Eginius Moa

Editor: Eginius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan