Pengrajin Gerabah Wolokoli Cemas Hilangnya Generasi ‘Tutu Unu’ Diangkat ke Layar Lebar
MAUMERE,dewadet.com-Sukses mengarap film dokumenter Sie (memanggil kambing) meraih penghargaan dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2026, sutradara film asal Sikka, Yosef Levi kembali menggarap dokumenter pengrajin gerabah atau ‘tutu unu,’ Wolokoli di Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Penggarapan film didukung Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dapat terealisasi melalui riset lanjutan pada tahun 2026.
Gagasan Yosef Levi mengangkat pengrajin gerabah dalam ke layar lebar bermula dia bertemu para pengrajin di Desa Wolokoli. Kepadanya, mereka mengungkapkan kegelisahan tentang hilangnya generasi penerus pembuat gerabah atau ‘tutu unu’.
“Dari sinilah muncul ketertarikan saya untuk memproduksi sebuah dokumenter untuk menyuarakan kecemasan tersebut,” ungkap Yosef Levi, Selasa 4 Agustus 2026.
Baca juga:Sie, Memanggil Kambing Hilang di Gunung Gai Kabupaten Sikka Meraih Piala Citra FFI 2025
Levi melanjutkan,“saya merasa seperti sedang menggali tanah menembus lapisan demi lapisan. Pada lapisan atas, saya menemukan sebuah ekosistem kehidupan yang mandiri.”
Kampung Dire, digambarkan Yosef Levi, sebagai hilir pengolahan tanah liat. Di lokasi itu, ia bertemu dua orang perempuan lanjut usia (Lansia) pengrajin gerabah, Nenek Bernadet dan Nenek Ana.
Kepada Yosef Levi, keduanya mengatakan mungkin tahun ini menjadi tahun terakhir mereka membentuk tanah liat.
Sementara Kampung Gedo sebagai hulu penyedia tanah liat, Yosef Levi, bersua Mama Wiske, perempuan yang merawat tanah untuk pertanian.
Baca juga:Sie, Cerita Lokal Rasa Global, Refleksi Relasi Manusia, Alam dan Pencipta Alam Semesta
“Melalui jaringan persaudaraan Mama Wiske pula, penjelajahan ini menuntun saya ke sebuah ruang pemijatan tradisional. Relasi timbal-balik antar-kampung dan warga ini adalah wujud nyata dari kemandirian masyarakat Wolokoli,” kata Yosef Levi.
Pada lapisan menengah, Yosef Levi menangkap kegelisahan pengrajin terhadap hilangnya generasi penerus gerabah. Sedangkan pada lapisan terdalam, film ini menyelam ke dasar tanah Wolokoli, yakni mitos dan sejarah.
Almunium Lebih Praktis
Menurut Yosef Levi, hilangnya generasi penerus pembuat gerabah dan hadirnya kepraktisan aluminium di dapur adalah pilihan adaptif zaman.
Baca juga:Wakil Bupati Sikka Apresiasi Film Sie Raih Piala Citra FFI 2025, Bukti Kita Bisa
“Kesabaran dan ketangguhan para pengrajin dan petani mengolah tanah adalah pelajaran berharga yang saya peroleh selama merekam aktivitas mereka. Pengalaman ini kemudian melahirkan kegelisahaan; bagaimana jika kepraktisan aluminium mempengaruhi cara berpikir kita di zaman sekarang. Itulah sebabnya, saya memilih pendekatan ‘slow cinema’ untuk membawa penonton merasakan ritme hidup mereka, sekaligus menguji kesabaran masyarakat modern yang terbiasa tergesa-gesa,” kata Yosef Levi.
“Pada akhirnya, film ini tidak hadir sebagai sebuah arsip kepunahan yang meratap. Tapi, film ini menjadi bentuk penghormatan saya terhadap dedikasi para perempuan pengrajin gerabah yang tersisa di Desa Wolokoli, sekaligus ruang kontemplasi yang mempertemukan isu gender, ekonomi, ekologi, sejarah, dan modernitas,” ujar Yosef Levi.*



