MAUMERE,dewadet.com-Pencarian tiga ekor kambing hilang di utara Gunung (Ili, dalam Bahasa Sikka) Gai, di wilayah Kecamatan Nelle, Pulau Flores di tahun 2023 seringkali terdengar dialami para petani dalam keseharian di pedesaan.

Kejadian itu juga pernah menimpa Nong Titus, ayah Yosef Levi sekembalinya ia dari kampung di Nelle Urung menjenguk istrinya, Maria. Nong Titus tinggal di pondok kebun menggantikan peran yang semula diemban saudari perempuanya Veronika Nona.

Dari lahir hingga usia renta, Veronika berdiam di kebun sampai ia pindah ke kampung di tahun 2022. Selama itu, dia merawat dan menjaga tanaman dan menjaganya dari pencurian.

Musibah hilangnya tiga ekor kambing menjadi bahan riset bagi Yosef Levi. Dua kali, Yosef menemani sang ayah berkeliling hutan mencari kambing. Sie…Sie, begitulah cara warga setempat memanggil kambing. Kambing yang dicari tak kunjjung didapat. Yosef menyerah dan pulang ke pondok.

Baca juga:Sie, Memanggil Kambing Hilang di Gunung Gai Kabupaten Sikka Meraih Piala Citra FFI 2025

Di waktu sore, Nong Titus kembali mencari kambing.Dia menemukanya di sekitar kebun. Dia percaya, tiga ekor kambing itu disembunyikan makluk gaib.

Yosef, semula ingin menjadikan musibah itu sebagai dokumen atau arsip keluarga tentang cerita generasi tua yang bisa diwariskan kepada anak cucuk. Yosef yang malang melintang dalam pembuatan dokumenter Jayapura 79 Menit mengubah haluanya.  Cerita kambing hilang menginspirasinya membuat film dokumenter.

Berikut tanggapan Yosef tentang Sie, film dokumenter yang mengantarnya meraih nominasi Piala Citra Festival Film Indonesia ( FFI) 2025 untuk kategori Fillm Dokumenter Pendek Terbaik.

Film ini merupakan bagian dari pengalaman dan proses belajar saya dengan bapak saya Nong Titus dan tanta saya Veronika Nona. Terutama ketika saya dan bapak mencari tiga ekor kambing yang hilang.

Baca juga: “Ria Rago” Film Kawin Paksa di Flores dan Niat Gubernur NTT Bangun Monumen Film di Ndona

Bapak menceritakan kambing telah dicuri karena di utara Gunung Gai sering terjadi pencurian. Dari ekspresinya bapa merasa sangat terpukul karena kehilangan. Kambing itu selalu dia rawat..

Hak kebersamaan dan kelimpahanya hilang. Mungkin karena tidak puas, bapak melanjutkan pencarian sore hari dan menemukan kambing-kambing tersebut.

Lokasinya berada di sekitar kebun, tempat kami cari sebelumnya. Sejak saat itu bahkan sampai sekarang, bapak berpikir kambing-kambing tersebut disembunyikan oleh makluk gaib.

Yosef bercerita pula, secara historis, mereka adalah komunitas yang direlokasi sejak jaman Belanda sekitar tahun 1920-an.

Setelah relokasi tersebut, kakek dan nenek saya kembali ke daerah utara Gunung Gai karena di sanalah dapur kami berada. Tanta saya, Veronika Nona adalah satu-satunya orang yang setia menetap di utara Gunung Gai. Dari waktu ke waktu. Ia merawat dan menjaga hasil kebun dari pencuri.

Baca juga:Bupati Sikka Ingatkan Makna Wini Ronan, Pesan Hidup Hemat Selalu Ada Persediaan di Hari Selanjutnya

Ia baru meninggalkan utara Gunung Gai tahun 2022. Peranya digantikan oleh  bapak saya Nong Titus.

Masyarakat kami seperti tercabut dari akarnya yang menyebabkan hilangnya pandangan hidup. Kami seperti berada di ruang gelap. Masing-masing berjuang untuk dirinya sendiri dan memunculkan berbagai kekacauan sosial. Seperti pencurian. Para pencuri ini terus berkeliaran di utara Gunung Gai yang sepi hingga saat ini.

Di tengah sepinya utara Gunung Gai juga tesimpan cerita mistis. Salah satunya adalah tentang hantu yang  kami yakini memiliki hubungan kerabat dengan kami. Dia muncul dalam kabut setelah hujan. Ia menjaga sekaligus menghukum manusia. Ia bisa menjelma menjadi seseorang yang kami kenal.

Kadang saya merasa kisah ini irasional. Tetapi dari kisah irasional tersebut saya dapat memetik pesan atau nilai.

Baca juga:Siap-Siap!Festival Jelajah Maumere Usung Tema Wini Ronan, Lumbung Benih

Dari proses belajar bersama bapak dan tanta, saya percaya bahwa komunitas akan tumbuh jika setiap orang meninggalkan ambisi dan hasrat untuk berkuasa dan menyadari tanggungjawab untuk berbuat baik kepada sesama

Kebersamaan manusia dengan ternak peliharaan yang hilang itu ditemukan kembali melukiskan relasi manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Sang Pencipta.

Sie, cara warga memanggil kambing merebut nominasi Piala Citra di arena FFI 2025 untuk kategori Film Dokumeter Pendek Terbaik,menjadi Piala Citra pertama bagi sutradara Yosef Levi, dan produser Elsyn Puka.

Dibalik sukses Sie merebut Piala Citra terkandung pesan besar tentang relasi manusia dengan manusia. Manusia dengan alam, dan manusia dengan Pencipta Langit dan Bumi. Kerusakan lingkungan, perubahan iklim global, korupsi, bencana dalam dan perang menjadi refleksi. Sie, cerita lokal  rasa global. *

Penulis: Eginius Moa

Editor: Eginius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan