Perginya Pater Bombon: Terima Kasih telah Mengajarkan tentang Bagaimana Seorang Menjadi Imam
PATER Nikolaus Neumann, SVD, telah pergi selamanya pada pukul 15.20 Waktu Jerman atau atau 23.20 Wita, Kamis 24Juli 2025.
Pater Kluas, nama yang tidak asing bagi kebanyakan warga Kabupaten Sikka dulu, dan Keuskupan Maumere di Pulau Flores. Dia telah pergi selamanya, namun karya tak terlupakan.
Umat Paroki Reinha Rosari Kewapante, 7 Km arah timur Kota Maumere tentu paling merasakan karya dan kehilangan imam asal Jerman ini. Selain juga mereka-mereka yang dekat dengannya.
Pater Adrianus Mai, SVD, kini melanjutkan studi Filsafat di Universitas Gajah Mada Yogyakarta, salah satunya. Empat tahun merasakan kebersamaan dengan Pater Klaus di Pastoran Kewapante.
Baca juga: Paus Leo XIV Mengirim Pesan Melalui Kata dan Perbuatan
Kembali dari studinya di Australia, Pater Adrianus menjejakan kaki di Kewapante, 4 April 2021, Kebersamaan selama itu memberinya banyak pengalaman. Suka dan duka dituangkan Pater Adrianus dalam goresan berikut.
Empat tahun hidup bersama Opa—Pater Klaus Naumann, SVD—bukan sekadar kenangan, tetapi anugerah yang membentuk jiwaku. Ia bukan hanya seorang imam misionaris asal Jerman yang tinggal di Kewapante dan melayani umat Maumere. Bagi saya, ia adalah rumah: seorang opa yang mencintai dalam diam, menegur dengan keras namun penuh kasih, dan selalu hadir tanpa syarat.
Dari luar, orang mengenalnya sebagai pastor bombon, karena selalu membawa permen untuk anak-anak dan pasien di rumah sakit. Tapi di dalam rumah, di balik dinding yang tenang dan sunyi, saya mengenalnya sebagai pribadi yang lembut sekaligus kuat. Ia jarang mengungkapkan kasih lewat kata-kata, tetapi saya merasakannya dalam setiap gerak, setiap teguran, dan setiap diamnya yang penuh perhatian.
Saya ingat betul—saat saya berbuat salah atau bertindak sembrono, ia akan berkata, “Kau bodoh!” Kata yang terdengar kasar, tapi justru dari sanalah saya merasa disayang. Dan yang paling menggetarkan hati: setelah menegur, ia akan ikut diam. Ia merasa bersalah karena sudah memarahi saya. Ia tidak pernah membiarkan saya menanggung kesalahan sendirian. Ia hadir… bahkan dalam tegurannya, ada cinta yang tak bisa saya balas dengan cukup.
Baca juga:Juara Liga Italia Napoli Bertemu Paus Leo XIV
Selama empat tahun bersamanya, saya merasa sangat dicintai dan dijaga. Opa mengajarkan saya bahwa menjadi imam bukan soal hebat di altar, bukan soal homili yang memukau atau liturgi yang sempurna—melainkan soal hati. Hati yang mau hadir. Hati yang tahu kapan harus menegur dan kapan harus diam. Hati yang terbuka bagi siapa saja, tanpa pamrih.
Opa telah membantu ribuan orang sepanjang hidupnya, hingga ia sendiri tak lagi mengingat siapa saja yang pernah ia tolong. Tapi yang tidak pernah hilang dari dirinya adalah semangat memberi tanpa syarat, kasih yang tak memilih-milih. Ia adalah imam yang benar-benar menjadi—manusia yang utuh, hamba yang rendah hati, dan sahabat sejati bagi mereka yang terluka.
Opa, terima kasih. Empat tahun bersamamu adalah sekolah kasih yang paling nyata. Kau telah mengajarkan bagaimana seorang imam menjadi—dalam cinta yang keras namun hangat, dalam diam yang penuh makna, dalam hidup yang terus memberi tanpa pernah meminta untuk dikenang.
Baca juga: Paus Leo XIV Akan Terima Cincin Nelayan, Simbol Penerus Santo Petrus
Kau memang telah pergi terlalu jauh—dan tidak pernah pulang.
Amplop kecil berisi uang rokok itu tak ada lagi.
Langkahmu di pagi hari telah sunyi.
Tapi bagiku, kau tidak pernah benar-benar pergi.
Kau tinggal dalam setiap permen yang dibagikan, dalam teguran yang keras namun lembut, dalam hidup imam yang kini aku jalani—dengan setia, dengan diam, dengan cinta.
Terima kasih, Opa.
Kau telah mengajarkanku menjadi imam—bukan dengan ceramah, tetapi dengan hidupmu sendiri.
Dan kini, dalam setiap langkah pelayananku, aku bawa jejakmu bersamaku.
Selamat Jalan Opa Klaus Naumann, SVD
Namamu akan Kekal di hati umatmu
Jogja, 24 Juli 2025.
Editor: Eginius Moa





