Air Sumur untuk Proyek Puskesmas Tuanggeo Rp 6,5 Miliar Sudah Uji Laboratorium

Kepala Kejaksaan Negeri Sikka, Henderina Mallo, dan Plt Kepala Dinas Kesehatan Sikka, Petrus Herlemus memperlihatkan nota kesepakatan bersama penanganan masalah hukum di bidang perdata dan tata usaha negara di Aula Laboratorium Dinkes Sikka, Rabu 11 Juni 2025. (dewadet.com/eginius moa).

MAUMERE,dewadet.com-Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pembangunan Puskesmas Tuanggeo di Kecamatan Palue, Petrus Herlemus membeberkan alasan pemilihan air sumur di Malariwu dan Pospol Palue untuk pembangunan Puskesmas senilai Rp 6,5  miliar yang sedang berlangsung saat ini berdasarkan pemeriksaan laboratorium. Air sumur pada dua titik itu memenuhi syarat untuk digunakan.

“Sampel air dari dua sumur itu sudah diperiksa dan penuhi syarat. Tapi hanya sumur di Malariwu yang dipakai, karena sumur bor di Pospol Palue untuk kebutuhan di Pospol,” kata Herlemus, Sabtu siang 23 Agustus 2025.

Herlemus menanggapi polemik digrup-grup WhatsApp dan media sosial mempersoalkan pengunaan air sumur untuk proyek Puskesmas. Dia menyarankan pihak yang protes mengajukan dengan data-data yang bisa dipertanggungjawabkan bukan berdasarkan asumsi.

Petrus bahkan menyilakan mengadukan kepada tim Kejaksaan Negeri Maumere, karena proyek Puskesmas Palue, dan Puskemas Nanga di Kecamatan Lela, pihakya melibatkan Kejaksaan dalam pengawasanya. Hari Rabu,20 Agustus 2025, tim Kejaksaan Negeri Maumere, tim teknis dan tim pendukung datang ke Palue memantau proyek ini. Sehari sebelumnya, tim juga datang ke proyek Puskesmas Nanga.

Baca Juga: Drone dan CCTV Dikerahkan Awasi Proyek Puskesmas Tuanggeo dan Puskesmas Nanga Rp 12,6 Miliar

Dalam pemantauan proyek ke Palue, kata Petrus, tim Kejaksaan juga melakukan dialog dengan warga dan pemangku kepentingan. Pengunaan air sumur, demikian Petrus juga disampaikan dalam dialog dan telah dijelaskan alasan penggunaan air sumur tersebut.

“Saya ambil peran jadi PPK , karena saya tidak mau main-main dengan proyek ini. Pekerjaan ini harus berhasil dan bermanfaat bagu masyarakat di Palue,” tegas Petrus.

Ia bahkan menyilahkan kepada elemen warga yang menemukan dugaan penyimpangan melampirkan dengan bukti-bukti bisa menyampaikan kepada Kejaksaan.

Petrus menjabat Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka mengatakan, proyek Puskesmas Palue juga menerapkan konsep pemberdayaan masyarakat. Pengadaan batako semula direncanakan dikerjakan di Palue, tetapi belajar dari kasus protes pengunaan air sumur, memunculkan pro dan kontra antarwarga sehingga pengadaan batako dialihkan ke Maumere. *

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan