Besok Pagi, Film Sie Tayang untuk ASN di Maumere
MAUMERE,dewadet.com-Film Sie akhirnya ditayangkan perdana bagi aparatur sipil negara (ASN) di Kota Maumere, Jumat pagi 6 November 2025, setelah dua pekan lalu sutradara Yosef Levi menyabet penghargaan Piala Citra 2025 untuk kategori Film Dokumenter Pendek Terbaik dalam Festival Film Indonesia.
Film berdurasi 30 menit ditayang di Aula Kampus Unipa Maumere sebelum kegiatan pembinaan rohani bagi ASN Kabupaten Sikka.
“Tadi sore, saya sudah cek persiapan aula untuk penayangan film besok. Sekitar 750 ASN akan hadir bersama Bupati dan Wakil Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, dan Simon Subandi,” kata Kepala Dinas Infokom Kabupaten Sikka, Veri Awales, Jumat sore 5 Desmber 2025.
Sehari sebelumnya dalam pertemuan dengan Bupati dan Wakil Bupati Sikka, Levi mengaku senang film yang disutradarainya bisa disaksikan penanyangan perdana di Maumere.
Baca juga:Sie, Memanggil Kambing Hilang di Gunung Gai Kabupaten Sikka Meraih Piala Citra FFI 2025
“Saya tentu senang film ini disaksikan oleh masyarakat Kabupaten Sikka,” kata Levi.
Inspirasi dari Kambing Hilang
Film Sie bercerita tentang pencarian tiga ekor kambing hilang di utara Gunung (Ili, dalam Bahasa Sikka) Gai, di wilayah Kecamatan Nelle, Pulau Flores di tahun 2023, seringkali terdengar dialami para petani dalam keseharian di pedesaan.
Musibah itu juga pernah menimpa Nong Titus, ayah Yosef Levi sekembalinya ia dari kampung di Nelle Urung menjenguk istrinya, Maria. Nong Titus tinggal di pondok kebun menggantikan peran yang semula diemban saudari perempuanya Veronika Nona.
Baca juga:Sie, Cerita Lokal Rasa Global, Refleksi Relasi Manusia, Alam dan Pencipta Alam Semesta
Dari lahir hingga usia renta, Veronika berdiam di kebun sampai ia pindah ke kampung di tahun 2022. Selama itu, dia merawat dan menjaga tanaman dan menjaganya dari pencurian.
Musibah hilangnya tiga ekor kambing menjadi bahan riset bagi Yosef Levi. Dua kali, Yosef menemani sang ayah berkeliling hutan mencari kambing. Sie…Sie, begitulah cara warga setempat memanggil kambing. Kambing yang dicari tak kunjjung didapat. Yosef menyerah dan pulang ke pondok.
Di waktu sore, Nong Titus kembali mencari kambing.Dia menemukanya di sekitar kebun. Dia percaya, tiga ekor kambing itu disembunyikan makluk gaib.
Yosef, semula ingin menjadikan musibah itu sebagai dokumen atau arsip keluarga tentang cerita generasi tua yang bisa diwariskan kepada anak cucu. Yosef yang malang melintang dalam pembuatan dokumenter “Jayapura 79 Menit” mengubah haluanya. Cerita kambing hilang menginspirasinya membuat film dokumenter.
Baca juga:Wakil Bupati Sikka Apresiasi Film Sie Raih Piala Citra FFI 2025, Bukti Kita Bisa
Film ini merupakan bagian dari pengalaman dan proses belajar Levi dengan ayahnya Nong Titus dan tanta Veronika Nona. Terutama ketika Levi dan ayahnya mencari tiga ekor kambing yang hilang.
Nong Titus menceritakan kambing telah dicuri karena di utara Gunung Gai sering terjadi pencurian. Dari ekspresinya, ia sangat terpukul karena kehilangan kambing yang selalu dia rawat..
Hilangnya kambing adalah hilangnya hak kebersamaan dan kelimpahan. Mungkin karena tidak puas, Nong Titus melanjutkan pencarian sore hari dan menemukan kambing-kambing tersebut.
Lokasinya berada di sekitar kebun, tempat ia dan anaknya cari sebelumnya. Sejak saat itu bahkan sampai sekarang, Nong Titus berpikir kambing-kambing tersebut disembunyikan oleh makluk gaib.
Baca juga:Pemkab Sikka Beri Apresiasi Yosef Levi, Sutradara Film Sie Pemenang Piala Citra
Yosef bercerita pula, secara historis, mereka adalah komunitas yang direlokasi sejak jaman Belanda sekitar tahun 1920-an.
Setelah relokasi tersebut, kakek dan nenek Levi kembali ke daerah utara Gunung Gai karena di sanalah dapur mereka berada. Veronika Nona adalah satu-satunya orang yang setia menetap di utara Gunung Gai. Dari waktu ke waktu. Ia merawat dan menjaga hasil kebun dari pencuri.
Veronika Nona yang sudah uzur akhirnya Kembali ke kampung pada 2022. Peranya digantikan oleh Nong Titus.
“Masyarakat kami seperti tercabut dari akarnya yang menyebabkan hilangnya pandangan hidup. Kami seperti berada di ruang gelap. Masing-masing berjuang untuk dirinya sendiri dan memunculkan berbagai kekacauan sosial. Seperti pencurian. Para pencuri ini terus berkeliaran di utara Gunung Gai yang sepi hingga saat ini,” kata Levi.
Baca juga:Sukses Film Sie Raih Piala Citra, Yosef Levi Garap Film Nusa Nipa
Di tengah sepinya utara Gunung Gai juga tesimpan cerita mistis. Salah satunya adalah tentang hantu yang diyakini memiliki hubungan kerabat dengan mereka.. Dia muncul dalam kabut setelah hujan. Ia menjaga sekaligus menghukum manusia. Ia bisa menjelma menjadi seseorang yang kami kenal.
“Kadang saya merasa kisah ini irasional. Tetapi dari kisah irasional tersebut saya dapat memetik pesan atau nilai,” ujar Levi.
Dari proses belajar bersama bapak dan tanta, saya percaya bahwa komunitas akan tumbuh jika setiap orang meninggalkan ambisi dan hasrat untuk berkuasa dan menyadari tanggungjawab untuk berbuat baik kepada sesama
Kebersamaan manusia dengan ternak peliharaan yang hilang itu ditemukan kembali melukiskan relasi manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Sang Pencipta.*



