Kamis, 14 Agustus 2025. Peringatan Wajib St. Maximilianus Maria Kolbe, Imam – Martir
Kitab Yosua 3:7-10a.11.13-17; Matius 18:21 – 19:1.
Oleh: RD Fidelis Dua.
SAUDARI dan saudara terkasih. hari ini, kita merayakan peringatan St. Maximilianus Maria Kolbe, yang pernah mengungkapkan, “Tanpa pengorbanan, tidak ada cinta.” Ia membuktikan kata-kata itu dengan keberanian luar biasa, mengorbankan diri demi sesama dan meneladani kasih Tuhan hingga menyerahkan seluruh hidupnya.
Sebagaimana Paus Fransiskus mengingatkan, “Berani melangkah maju bukan berarti kita sendiri, tetapi karena Tuhan selalu mendahului kita dan menuntun langkah kita.” Hal ini menguatkan kita untuk meneladani iman dan keberanian St. Maximilianus dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam bacaan pertama, kita melihat umat Israel bersiap menyeberangi Sungai Yordan menuju Tanah Perjanjian. Tuhan menegaskan bahwa Tabut Perjanjian-Nya akan mendahului mereka, menuntun langkah mereka. Tuhan selalu hadir dan membuka jalan bagi setiap langkah yang berani.
Demikian pula dalam setiap perjalanan hidup: apakah dalam pekerjaan, belajar, atau kegiatan-kegiatan lain dalam relasi dengan sesama, Tuhan senantiasa hadir menyertai, menuntun, dan meneguhkan kita. Kita tidak perlu takut menghadapi tantangan, karena Tuhan yang mahakuasa selalu ada di depan, membuka jalan bagi kita, sehingga kita berani melangkah menghadapi setiap tantangan dengan iman dan keyakinan kuat.
Baca Juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Melangkah dengan Iman dan Kebersamaan
Sementara itu, dalam Injil, Yesus mengingatkan kita untuk mengampuni tanpa batas, menunjukkan bahwa keberanian sejati juga menuntut hati yang lembut dan kasih yang tulus terhadap sesama. Yesus menegaskan pentingnya mengampuni “tujuh puluh kali tujuh kali” .
Mengampuni bukan sekadar kata-kata, melainkan tindakan hati yang nyata. Di zaman sekarang, ketika konflik, kesalahpahaman, dan perselisihan bisa terjadi di mana saja: di keluarga, sekolah, atau pekerjaan, Injil mengingatkan kita untuk menghapus dendam dan membangun kedamaian. Hati yang mampu mengampuni akan membawa harmoni, persaudaraan, dan kedewasaan rohani.
Dengan demikian, iman, keberanian, dan kasih yang berkorban berjalan beriringan, menuntun kita untuk melangkah dalam kehidupan dengan keyakinan dan kesetiaan kepada Tuhan.
Saudari dan saudara terkasih. Ada sebuah cerita kecil: Seorang anak SD secara tidak sengaja merusak lukisan teman sekelasnya. Awalnya ia takut dan ingin lari dari tanggung jawab. Namun, temannya memaafkannya dengan tulus, sehingga ia dengan jujur mengakui kesalahannya. Secuil kisah ini menegaskan bahwa kesalahan bisa menjadi kesempatan untuk bertumbuh, dan pengampunan menumbuhkan persahabatan yang lebih indah sekaligus menyembuhkan hati dan membangun komunitas yang harmonis.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Berani Melangkah dengan Bersedia Mengasihi yang Kecil
Saudari dan saudara. St. Maximilianus Maria Kolbe adalah teladan keberanian dan kasih yang tiada tara. Ia rela menempatkan diri demi keselamatan orang lain, bahkan hingga mengorbankan hidupnya. Dari hidupnya, kita belajar untuk berani meneladani kasih Kristus: mengampuni tanpa pamrih, melangkah maju dengan iman, dan melayani sesama dengan tulus. Marilah kita menjadikan setiap langkah kita saksi kasih Tuhan, dan setiap pengampunan yang kita berikan menumbuhkan kedamaian dan persaudaraan di sekitar kita.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Keberanian sejati bukan hanya mampu menghadapi tantangan, tetapi juga membuka hati untuk mengampuni dan melayani dengan kasih tanpa pamrih.”
”Setiap langkah yang dilandasi iman dan setiap pengampunan yang tulus menumbuhkan kedamaian dan membangun komunitas yang harmonis, sebagaimana teladan St. Maximilianus Maria Kolbe mengajarkan.”
Tuhan memberkati kita.






