60 Tahun Lalu Jenderal Ahmad Yani Ceramah di STFK Ledalero, Lima Hari Sebelum Dibunuh PKI
MAUMERE,dewadet.com-Akhir bulan September! Ingatan selalu kembali kepada tragedi berdarah Gerakan 30 September 1965 yang dikenal G30 S/PKI.
Partai Komunis Indonesia (PKI) memotori kudeta, menculik dan membunuh para jenderal TNI AD lalu membuangnya ke Lubang Buaya. Gerakan yang dipimpin oleh DN Aidit ingin menggulingkan pemerintahan yang sah mengganti menjadi negara komunis.
Enam orang perwira tinggi TNI AD menjadi korban. Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal Raden Soeprapto, Mayor Jenderal Mas Tirto Darmo Haryono. Mayor Jenderal Siswondo Parman, Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan, dan Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo.
Selain enam jenderal, ajudan Menhankam/Kasad Jenderal Abdul Haris Nasution, Letnan Satu Andreas Pierre Tendean, dan Pengawal Wakil Perdana Menteri II Dr. J. Leimena, Brigadir Polisi Karel Sasuit Tubun turut jadi korban pembunuhan. Jenderal Nasution selamat dari pembunuhan, tapi putrinya Ade Ira Suryani Nasution menjadi korban.
Baca juga:Satu Abad Watu Gamba, Pesan Perempuan Cantik dari Titik Nol Pulau Flores di Km 17 Ende-Maumere
Lima hari sebelum tragedi berdarah itu, 25 September 1965, Ahmad Yani, menjabat Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi mengunjungi Kampus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Katolik (STFK) (kini Institut Filsafat dan Teknologi Katolik (IFTK) Ledalero. Dia datang menyampaikan ceramah kepada para pastor dan frater.
Kunjungan Ahmad Yani bersama beberapa orang perwira tinggi TNI AD, tak lepas dari situasi negara. Gerakan PKI ingin melakukan kudeta dan mengubah dasar negara Pancasila.
Saksi kedatangan Ahmad Yani, Frater Yohanes Hamboer, SVD. Kala itu, dia di tingkat satu filsafat. Meski tak ingat lagi semua cerita, Pater Yan, masih ingat kunjungan itu.
Ahmad Yani, dikatakan Pater Yan, sebagai perwira tinggi angkatan darat yang gagah perkasa dan sangat nasionalis. Ceramahnya membangitkan semangat nasionalis.
Baca juga:Megawati Nostalgia Masa Muda Jadi Paskibraka, Purna Paskibraka Masuk Duta Pancasila
Sebelum memulai ceramah, Ahmad Yani sempat mengunjungi Museum Ledalero kemudian beranjak ke aula menyampaikan ceramah.
Pernyataan Ahmad Yani diingat Pater Yan menyatakan membawa 11 bintang emas (perwira pangkat jenderal). Tapi hanya dua orang yang diperkenalkan. Salah satunya Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan.
Ia menyampaikan tentang peran intelijen yang disebutnya sebagai mata dan telingannya.
Mengikuti ceramah Jenderal Yani, Pater Yan menyatakan tak terlihat tanda apapun bahwa Jenderal Yani akan menjadi korban, diculik dan dibunuh oleh PKI. Pater Yan mengetahui kematian Jendral Yani beberapa hari kemudian diberitahu oleh para pastor.
Baca juga: PDIP Respon Surat Pemakzulan Wapres Gibran Rakabuming Raka Dibawa ke Paripurna DPR
“Waktu itu hanya ada radio. Yang dengar radio juga hanya para pastor tertentu di STFK ini. Kami diberitahu ketika dikumpulkan oleh pimpinan kami,” kenang Pater Yan.
“Mereka hadir di Ledalero, mereka sangat senang waktu itu. Tapi, mereka tidak tahu bahwa mereka akan dibunuh,” kenang Pater Yan.
Wafatnya Jenderal Yani, diakui Pater Yan membawa duka bagi para pastor dan frater di Ledalero. Kenangan lima hari sebelum dibunuh, Jenderal Yani hadir di Ledalero.
Dikutip dari blog dipandjaitan.blogspot.co.id, Ahmad Yani dan rombongan tiba di Ledalero disambut bapa keluarga (Pastor Jozef Bouman SVD) beserta anggota keluarganya. Pekikan spontan: “Hidup Pak Yani” menyambut kedatanganya.
Baca juga:Megawati Percayakan Hasto Sekjen PDI Perjuangan
Rombongan Ahmad Yani berjumlah sekitar 20 orang tiba sekitar pukul 11.30 Wita. Diantaranya ada 11 orang berpangkat brigadir jenderal dan mayor jenderal, antara lain Brigjen DI Panjaitan.
Sebelum memulai ceramahnya tentang kondisi bangsa saat itu, Ahmad Yani menceritakan kedekatannya dengan para pastor.
Ahmad Yani memulai cerita perkenalannya dengan dua orang pastor yang kemudian menjadi sahabat kental beliau. Pastor yang pertama adalah pastor tentara Amerika Serikat ketika ia mendapat pendidikan perwira tinggi di Arkansas, Amerika. Perteman keduanya hanya berlangsung sebentar.
Pastor yang kedua adalah pastor tentara Ahmad Yani ketika operasi di Padang. Dari pastor ini Pak Yani belajar banyak dan sebaliknya pastor ini mendapat pelajaran banyak dari Pak Yani.
Baca juga: Satu Setengah Abad SVD, Tidak Hanya Bangun Gereja Tetapi Peradaban
Saat memberikan ceramah, Ahmad Yani menyampaikan tentang ancaman perpecahan Indonesia pada 1965 dan bagaimana seminari dan Gereja Katolik dapat berperan.
“Mengapa kita berkonfrontasi? Demikian Pak Yani masuk ke inti ceramahnya. Lalu beliau menjawab sendiri. “Karena kita ingin merdeka penuh. Merdeka dalam segala lapangan.Dalam bidang politik,ekonomi maupun dalam bidang militer”.
“Kini seluruh Asia sedang bergolak. Masing-masing dengan caranya sendiri, namun semua bertemu pada poros yang sama: “Ingin merdeka dan merdeka penuh !”.
Selanjutnya Ahmad Yani memberi kemungkinan-kemungkinan yang bisa dijalankan musuh dalam penggempuran Indonesia.
Baca juga:Mantan Bupati Sikka, Aleks Longginus Beberkan Alasan Pembentukan DOB Kota Madya Maumere
Di akhir ceramahnya, Pak Yani masih berkata kepada Rektor STFK, Pater Jozef Bouman, SVD, “saya akan kembali lagi.”
Ternyata, Pak Yani kembali ke STFK dalam rupa yang lain. Tanggal 30 September 1965 malam, peluru menerjang tubuh dan jasadnya dibuang ke Lubang Buaya. Menghormati jasanya kepada negara, pangkatnya naik setingkat menjadi Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani. *




