Jejak Sang Pejuang yang Tak Pernah Hilang

Bapak Andreas Bi. (dok keluarga).

Oleh: RD.Fidel Dua

ADA pribadi-pribadi yang hidupnya tidak selalu ditulis dalam kisah besar, tetapi kehadirannya diam-diam membentuk dunia kecil di sekelilingnya. Mereka tidak mencari sorotan, tidak mengejar panggung kehormatan, dan tidak banyak berbicara tentang jasa.

Namun, hidup mereka seperti akar yang tersembunyi: tidak tampak di permukaan, tetapi menguatkan, menopang, dan memberi kehidupan. Bapak Andreas Bi, yang akrab disapa Bapa Ande, adalah salah satu dari pribadi-pribadi seperti itu.

Bapak Andreas Bi lahir pada 1 Juli 1949 di Ganamboro-Kamubheka, dari pasangan almarhum Opa Antonius Bena dan almarhumah Oma Maria Weta. Ia lahir dan bertumbuh dalam keluarga petani yang sederhana, ulet, dan dekat dengan tanah.

Dari kesederhanaan hidup itulah ia belajar bahwa rezeki tidak datang tanpa kerja keras, bahwa tanggung jawab harus dipikul dengan setia, dan bahwa cinta tidak selalu diucapkan dengan kata-kata, tetapi dibuktikan melalui pengorbanan.

Pendidikan formalnya memang hanya sampai tingkat sekolah dasar. Namun, hidup telah menjadi sekolah yang luas baginya. Ia belajar dari ladang yang digarapnya, dari kebun yang dirawatnya, dari ternak yang dijaganya, dari hutan yang dijelajahinya, dari keluarga yang dicintainya, dan dari masyarakat tempat ia mengabdi.

Ia bukan orang yang suka menonjolkan diri, tetapi hidupnya sendiri telah menjadi sebuah pelajaran. Dalam ketekunan, ia mengajarkan kerja keras. Dalam kesederhanaan, ia mengajarkan kejujuran. Dalam tanggung jawab, ia mengajarkan kesetiaan.

Sebagai seorang petani, Bapak Andreas bekerja tanpa banyak keluhan. Ia mengenal panas matahari, lelah tubuh, jalan jauh, dan beratnya perjuangan mencari nafkah. Tidak ada kebun yang dianggap terlalu jauh, tidak ada pekerjaan yang dianggap terlalu berat, selama semua itu dilakukan demi keluarga.

Ia sering mengingatkan anak-anaknya dengan ungkapan yang membekas: “Mona Noa”, hidup ini tidak gampang. Kalau ingin makan nasi, orang harus bekerja. Kalau ingin hidup baik, orang harus berjuang. Ungkapan sederhana itu kini menjadi warisan batin yang jauh lebih berharga daripada harta apa pun.

Sebagai suami dan ayah, Bapak Andreas mencintai keluarganya dengan caranya sendiri. Ia tidak selalu banyak bicara, tetapi kehadirannya memberi rasa aman. Ia tidak selalu mengungkapkan kasih dengan kata-kata manis, tetapi ia menunjukkan cinta melalui kerja, tanggung jawab, dan pengorbanan.

Baginya, semua anak adalah titipan Tuhan yang harus dirawat, dididik, dibesarkan, dan diarahkan. Cintanya tidak pilih kasih. Ia bukan hanya membesarkan anak-anak kandungnya, tetapi juga merangkul orang-orang lain yang hidup bersama dalam rumah dan keluarganya.

Dalam kehidupan iman, Bapak Andreas adalah pribadi yang disiplin dan bersahaja. Ia membimbing keluarga bukan terutama dengan banyak nasihat, melainkan dengan teladan hidup. Ia setia berdoa pagi dan malam.Dalam kesederhanaan doa itu, ia menanamkan iman yang kuat dalam hati anak-anaknya.

Ada kenangan yang tetap hidup: seorang anak duduk di samping ayahnya, ikut berdoa, belajar menyapa Tuhan dari ketekunan seorang ayah. Dari pancaran hidup religius yang telaten dan sederhana itulah tumbuh benih panggilan untuk menjawab suara Tuhan.

Salah satu kenangan yang sangat membekas ialah ketika sang anak bertanya tentang nama “Dua.” Mengapa nama itu diberikan, sementara tidak ada anggota keluarga lain yang memakai nama tersebut?

Bapak Andreas menjawab bahwa nama itu diberikan oleh kakek karena anak itu kelak akan menjadi orang kedua dari kampung yang dipanggil untuk bekerja di ladang Tuhan. Jawaban itu sederhana, tetapi penuh makna. Dan waktu membuktikan bahwa kata-kata itu bukan sekadar cerita keluarga, melainkan seperti sebuah isyarat iman yang perlahan menjadi nyata.

Kenangan tentang Bapak Andreas tidak hanya hidup dalam peristiwa-peristiwa besar, tetapi juga dalam momen-momen kecil yang hangat. Ada kenangan berjalan bersamanya ke kebun untuk menuai padi. Di bawah langit terbuka, ia mengajarkan ketekunan tanpa harus menggurui. Ia mengajak anak-anaknya memetik padi dengan rapi, teliti, dan tidak membiarkan hasil kerja tercecer begitu saja. Di ladang dan kebun itulah relasi ayah dan anak terjalin dalam diam, dalam kerja bersama, dalam pelajaran hidup yang tidak tertulis, tetapi tertanam dalam hati.

Pada masa kecil, anak-anak sering mengikutinya ke kebun. Mereka mungkin belum sepenuhnya mengerti arti perjuangan, tetapi perlahan belajar bahwa hidup menuntut kerja keras, keberanian, kesabaran, dan tanggung jawab.

Perjalanan ke kebun bukan sekadar perjalanan untuk bekerja, melainkan perjalanan memahami hidup dari langkah-langkah seorang ayah. Ketika jalan menanjak dan mendaki, Bapak Andreas biasa memikul anaknya di pundak. Di situ, seorang anak tidak hanya merasakan kuatnya bahu seorang ayah, tetapi juga hangatnya cinta yang tidak banyak diucapkan.

Bapak Andreas juga mendidik anak-anaknya dengan tegas. Ia sangat menekankan persaudaraan, kerja sama, dan saling menghormati. Ia tidak ingin anak-anaknya hidup dalam pertengkaran. Ada kenangan ketika anak-anaknya bertengkar saat menyiangi rumput di ladang. Mereka diberi sanksi berdiri dengan satu kaki menghadap matahari. Bahkan pernah tangan keduanya dimasukkan ke sarang semut merah.

Cara didik itu mungkin terasa keras, tetapi di baliknya ada pesan yang dalam: kakak dan adik harus hidup damai, saling menjaga, dan tetap bersaudara. Dari pengalaman itulah tumbuh kesadaran bahwa persaudaraan adalah warisan yang harus dijaga sampai kapan pun.

Ada pula malam-malam yang dihabiskan di kebun, di pondok yang dibangunnya dengan kokoh dan megah menurut ukuran kehidupan mereka saat itu. Dalam sunyi yang jauh dari keramaian kampung, Bapak Andreas memasak makanan sederhana. Tidak selalu nasi, tetapi selalu ada kehangatan. Api dari kayu bakar menyala, mematangkan makanan keluarga. Aroma masakan sederhana memenuhi ruang pondok, dan kehidupan terasa begitu bersahaja, tetapi penuh makna.

Di sana, dalam kesunyian kebun, cinta keluarga hadir tanpa banyak kata. Kebersamaan terasa utuh, bukan karena banyaknya ucapan, melainkan karena kedekatan yang lahir dari hidup yang dijalani bersama.

Sebagai petani, Bapak Andreas juga pandai berburu di hutan. Ia masuk hutan, menelusuri jalan-jalan sunyi, dan membawa pulang hasil buruan seperti babi hutan, rusa, monyet, biawak, landak, atau ayam hutan. Setiap kali pulang dari berburu, terutama ketika mendapat babi hutan, ada bagian yang selalu dinanti anak-anaknya: daging hati yang dibakar dengan garam, lalu diberikan kepada mereka.

Hal kecil itu kini menjadi kenangan yang sangat dalam. Di dalam sepotong daging hati hasil buruan itu, tersimpan kasih seorang ayah yang selalu ingin membawa pulang sesuatu bagi anak-anaknya.

Bapak Andreas juga seorang pencerita yang fasih. Sebelum anak-anak tidur, entah di pondok kebun maupun di rumah, ia sering membawakan dongeng-dongeng daerah yang dalam bahasa setempat disebut “Nunange.”

Ia bercerita sampai anak-anak tertidur lelap dalam dekapannya. Dongeng-dongeng itu bukan sekadar hiburan sebelum tidur, tetapi jendela kecil untuk mengenal nilai hidup, kebijaksanaan leluhur, keberanian, dan kebaikan hati. Suaranya menjadi pengantar tidur, tetapi pesannya tinggal lebih lama daripada malam itu sendiri.

Di tengah kehidupan masyarakat, Bapak Andreas juga dikenal sebagai seorang pemain bola kaki yang handal. Ia bermain sebagai pemain belakang, seorang back yang tangguh. Dalam lapangan, ia bukan tipe pemain yang mencari sorak-sorai dengan mencetak banyak gol, tetapi ia berdiri di garis pertahanan, membaca arah serangan, menjaga wilayahnya, dan melindungi gawang timnya.

Kebolehannya dalam bermain bola sering mengantar Klub PSK, Persatuan Sepak Bola Kamubheka, meraih kemenangan dalam berbagai pertandingan di wilayah utara. Dari sosoknya sebagai pemain belakang, ada nilai hidup yang dalam: tidak semua orang harus tampil di depan, tetapi setiap orang dipanggil untuk menjaga, menopang, dan melindungi.

Seorang pemain belakang harus kuat, sabar, setia, rela bekerja keras, dan bekerja sama dengan semua orang, apa lagi dalam satu tim. Namun, dengan jujur dan sedikit senyum, harus diakui bahwa bakat bermain bola itu rupanya tidak turun dalam diri anak-anaknya.

Selain sebagai ayah, petani, pemburu, dan pencerita, Bapak Andreas juga memiliki jiwa seni yang kuat. Ia dikenal sebagai seorang musisi yang menjadi idola pada masanya. Ia bergabung dalam grup band Pancar Nada dan memainkan alat musik bas dengan tangan kidalnya. Masih terkenang setiap Selasa malam dan malam Minggu, ia bersama teman-temannya berlatih.

Sebagai seorang anak, menyaksikan ayah bermain musik dan bernyanyi dengan alat sederhana adalah kebahagiaan tersendiri. Lagu-lagu seperti “Mississippi,” “Lancang Kuning,” “Nusantara,” “Wula Ja Jero,” dan banyak lagu lainnya menjadi bagian dari kenangan yang hidup.

Musik baginya bukan hanya hiburan, tetapi juga pelayanan. Bersama kelompok bandnya, ia turut mengiringi lagu-lagu koor dan paduan suara di Gereja, terutama ketika ada tanggungan liturgi di Paroki St. Eduardus Nangapanda.

Dari sanalah tampak bahwa bakat seni dapat menjadi sarana pengabdian. Nada-nada yang ia mainkan bukan sekadar bunyi, tetapi bagian dari doa, pelayanan, dan cinta kepada Gereja. Bakat musik itu pun, dalam kadar tertentu, diwariskan kepada anak-anaknya.

Bapak Andreas juga menciptakan lagu-lagu daerah dalam bahasa Nga’o, antara lain “Naya” dan “Tei Manu Tau Kata.” Dua lagu itu mengandung pesan tentang pentingnya menjaga kebersamaan sebagai saudara dan saudari, serta tidak saling menyangkal satu sama lain.

Melalui lagu-lagu itu, sebagian dari dirinya tetap hidup. Suaranya mungkin telah berhenti, tetapi karyanya masih dapat dinyanyikan. Langkahnya mungkin telah usai, tetapi jejaknya tetap bergaung dalam nada, dalam ingatan, dan dalam hati banyak orang.

Kini, Bapak Andreas tidak lagi duduk bersama keluarga. Ia tidak lagi berjalan ke kebun. Ia tidak lagi memanggul anaknya di pundak ketika jalan mendaki. Ia tidak lagi menyalakan api di pondok kebun, tidak lagi membawa pulang hasil buruan, tidak lagi memainkan bas, dan tidak lagi membawakan Nunange sebelum tidur. Ia telah pergi. Namun, kepergiannya tidak menghapus jejaknya. Justru dalam kepergiannya, semua kenangan itu kembali menyala, satu demi satu, seperti pelita kecil yang menerangi hati keluarga.

Ia hidup dalam nilai-nilai yang ia tinggalkan: kerja keras, kejujuran, kesederhanaan, tanggung jawab, iman, persaudaraan, dan cinta yang nyata. Warisan itu tidak dapat dikuburkan oleh waktu, sebab warisan sejati dari seorang ayah bukan hanya harta, melainkan teladan hidup. Apa yang ia tanamkan tidak berhenti pada kata-kata, tetapi tumbuh dalam sikap, pilihan, dan cara hidup anak-anaknya.

Bapak Andreas Bi telah pergi, tetapi jejak sang pejuang itu tidak pernah hilang. Ia tetap hidup dalam doa-doa keluarga, dalam cerita dan narasi yang terus dikenang, dalam kisah umat, dalam lagu-lagu yang ia ciptakan, dan dalam setiap hati yang pernah merasakan kebaikannya. Dari Tuhan ia datang, dan kepada Tuhan ia kembali. Semoga ia beristirahat dalam damai abadi di rumah Bapa, tempat tidak ada lagi air mata, lelah, dan penderitaan, melainkan sukacita kekal bersama Kristus, Sang Kebangkitan dan Hidup.

Jejak Sang Petualang yang Tak Pernah Hilang

Oleh: Rd.Fidelis Dua

Satu purnama lebih telah berlalu dalam sunyi,
namun kenanganmu tak pernah beranjak dari lubuk hati.
Wajahmu hadir dalam hening doa,
namamu hidup dalam air mata kasih kami.

Engkau adalah sang pejuang yang sederhana,
bekerja tanpa banyak kata, mencintai tanpa meminta balasan.
Dalam lelahmu, kami belajar arti tanggung jawab;
dalam tabahmu, kami menemukan wajah cinta yang nyata.

Saat tubuhmu melemah karena sakit yang melelahkan,
engkau tidak sekadar menanggung derita.
Engkau sedang menyiapkan hati untuk pulang,
melepaskan dunia menuju pelukan Allah yang abadi.

Pada saat yang tepat engkau berpulang,
seakan langit membuka pintu kasih-Nya.
Tanganmu mungkin kosong di hadapan Tuhan,
tetapi hatimu penuh oleh iman, cinta, dan penyerahan.

Kini engkau tidak lagi duduk bersama kami,
tetapi jejakmu tetap menyala dalam hidup kami.
Kerja keras, kejujuran, kesederhanaan, dan pengorbananmu
menjadi warisan yang tak pernah dapat dikuburkan waktu.

Beristirahatlah dalam damai, sang pejuang tercinta,
jejakmu tak pernah hilang di telan waktu.
Doa kami mengiringimu menuju damai abadi,
sampai kelak kita berjumpa kembali dalam rumah Bapa. *

Editor: Eginius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan