Senin, 14 September 2026. Pesta Pemuliaan Salib Suci. Kitab Bilangan 21:4-9; Filipi 2:6-11; Yohanes 3:13-17.
Oleh: RD.Fidelis Dua.
SAUDARA dan saudari yang terkasih. Hidup kadang membawa kita melewati jalan yang tidak kita pilih. Ada penyakit yang tidak kunjung sembuh, ekonomi keluarga yang semakin berat, pekerjaan yang hilang, relasi yang retak, kegagalan yang menyakitkan, atau pergumulan batin yang nyaris tak tertanggungkan.
Dalam keadaan seperti itu kita dapat bertanya, mengapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi? Bangsa Israel di padang gurun pun mengalami penderitaan dan kehilangan kesabaran. Di tengah ancaman kematian, Tuhan memerintahkan Musa meninggikan ular tembaga dan siapa yang memandangnya akan tetap hidup.
Yesus memakai gambaran itu untuk menunjuk kepada diri-Nya sendiri yang akan ditinggikan di salib, “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Yesus tidak mengatakan bahwa orang beriman tidak akan mengalami penderitaan.
Ia justru menunjukkan ke mana kita harus memandang di tengah penderitaan. Memandang salib berarti percaya bahwa dalam keadaan paling gelap sekalipun, Allah tidak meninggalkan kita. Salib tidak selalu menjawab mengapa kita harus menderita, tetapi salib menunjukkan siapa yang tetap bersama kita dalam penderitaan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Berhentilah Menghitung, Mulailah Mengampuni
Dan, Dia yang bersama kita itu adalah Kristus yang terlebih dahulu menempuh jalan salib. Paulus berkata bahwa Kristus mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, merendahkan diri, dan taat sampai wafat di kayu salib.
Karena itu, penderitaan kita tidak otomatis menjadi baik hanya karena kita menanggungnya. Kita juga tidak perlu mencari penderitaan atau pasrah terhadap ketidakadilan yang masih dapat diperbaiki.
Namun ada beban yang setelah segala usaha dilakukan tetap harus kita jalani. Dalam kondisi seperti itu, salib Kristus memberi kita cara baru untuk memikulnya. Penyakit dapat dijalani tanpa kehilangan kepercayaan kepada Tuhan. Kegagalan dapat diterima tanpa menganggap hidup telah berakhir. Kekecewaan dapat dilewati tanpa membiarkan kepahitan menguasai hati. Air mata dapat jatuh tanpa membuat kita berhenti berharap.
Kristus tidak memuliakan penderitaan. Ia mengubah salib, tanda kehinaan dan kematian, menjadi jalan kasih, ketaatan, dan kehidupan. Karena itu, tetaplah berharap akan pertolongan Tuhan, sambil setia menjalani apa yang masih harus kita pikul setiap hari.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kemuridan yang Tidak Terbelah
Maka, jika hari ini hidup terasa berat, pandanglah Kristus yang tersalib. Bawalah kepada-Nya penyakit yang melemahkan tubuh, persoalan keluarga yang menguras hati, kegagalan yang menghancurkan rencana, kehilangan yang meninggalkan kehampaan, dan beban yang masih kita tanggung dalam diam.
Percayakan kepada Tuhan apa yang tidak dapat kita kendalikan, dan kerjakan dengan setia apa yang masih dapat kita lakukan. Salib mengajarkan bahwa penderitaan bukan kata terakhir atas kehidupan kita.
Sesudah Kristus merendahkan diri dan taat sampai wafat, Allah meninggikan Dia dan menganugerahkan kepada-Nya nama di atas segala nama. Inilah harapan yang kita genggam. Kita mungkin belum melihat jalan keluar, tetapi kita tahu kepada siapa kita memandang. Kita mungkin belum terbebas dari beban, tetapi kita tidak memikulnya sendirian.
Pandanglah salib. Di sana kita menemukan bahwa penderitaan bukan akhir perjalanan, sebab bersama Kristus, bahkan jalan yang paling berat pun dapat menjadi jalan menuju kehidupan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Menuntun Tanpa Tersesat
Saya mengakhiri renungan dengan sebuah pantun berikut:
Perahu berlayar menuju seberang,
Bintang bersinar menerangi malam.
Meski salib terasa menghadang,
Harapan pada Tuhan jangan tenggelam.
Petikan BUSA-H #14/09/2026
“Salib tidak selalu menjawab mengapa kita harus menderita, tetapi salib menunjukkan siapa yang tetap bersama kita dalam penderitaan.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Ukuran yang Kita Pakai, Itu juga yang Kita Terima
“Iman tidak selalu membuat beban segera terangkat, tetapi membuat kita mampu memikulnya tanpa kehilangan harapan.”
“Kita mungkin belum melihat jalan keluar, tetapi kita tahu kepada siapa kita harus memandang.”
“Penderitaan bukan kata terakhir atas hidup kita, sebab bersama Kristus, bahkan jalan yang paling berat pun dapat menjadi jalan menuju kehidupan.”
Tuhan memberkati kita#rd.fd@






