BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kemuridan yang Tidak Terbelah
Sabtu, 12 September 2026. Hari Biasa Pekan XXIII. 1 Korintus 10:14-22a; Lukas 6:39-42
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARA dan saudari, ada seorang bapak yang setiap kali mengikuti Misa selalu duduk di bangku paling depan. Ia mengikuti perayaan dengan sangat khidmat dan menunjukkan sikap yang sangat religius.
Namun banyak orang mengetahui bahwa dalam usahanya ia sering menghalalkan segala cara demi keuntungan, menyuap untuk mendapatkan tender, bahkan menekan karyawannya demi memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Di sini terlihat sebuah ketidakutuhan hidup.
Yesus hari ini menegaskan, “Setiap pohon dikenal dari buahnya.” Pohon tidak perlu memasang iklan untuk meyakinkan orang bahwa dirinya baik. Ketika musim berbuah tiba, buahnya sendiri akan menunjukkan kualitas pohon itu.
Demikian pula kehidupan kita. Buahnya terlihat dalam keseharian, dalam kejujuran, tanggung jawab, kesetiaan, dan kasih kepada sesama. Sebab yang diucapkan mulut meluap dari apa yang tersimpan dalam hati.
Baca jugaLBUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Menuntun Tanpa Tersesat
Karena itu, sia-sialah kita berseru “Tuhan, Tuhan” jika yang kita lakukan justru menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lain yang lebih menguasai hati kita daripada Tuhan.
Persoalan inilah yang juga diperingatkan Paulus kepada jemaat di Korintus. “Jauhilah penyembahan berhala.” Berhala tidak selalu berupa patung yang disembah. Apa pun yang mulai mengambil tempat Tuhan dan menguasai hidup kita dapat menjadi berhala, entah uang, jabatan, popularitas, kenyamanan, kepentingan diri, maupun keinginan untuk selalu dipuji.
Paulus kemudian mengingatkan bahwa piala yang kita syukuri adalah persekutuan dengan darah Kristus dan roti yang kita bagi adalah persekutuan dengan tubuh Kristus. Karena roti itu satu, kita yang banyak dipersatukan menjadi satu tubuh. Artinya, persekutuan dengan Kristus bukan sekadar tindakan yang berlangsung di altar, tetapi sebuah ikatan yang menentukan kepada siapa hidup kita diserahkan.
Kita tidak dapat mengambil bagian dalam perjamuan Kristus, tetapi pada saat yang sama membiarkan hidup dikuasai oleh nilai yang bertentangan dengan-Nya. Apa yang kita rayakan di altar harus menjadi nyata dalam cara kita hidup setelah meninggalkan altar.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Ukuran yang Kita Pakai, Itu juga yang Kita Terima
Maka hari ini, periksalah dengan jujur apa yang paling menguasai hati kita. Apakah kenyamanan, gengsi, uang, ambisi, atau keinginan untuk selalu dipuji? Jangan biarkan semua itu mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Tuhan.
Beranilah menempatkannya kembali di bawah Tuhan. Jadilah pribadi yang berintegritas, pribadi yang utuh, sehingga apa yang kita yakini dalam hati, kita ucapkan dengan mulut, dan kita lakukan dalam kehidupan berjalan ke arah yang sama.
Sebab tidak cukup kita berseru “Tuhan, Tuhan” jika kita tidak melakukan apa yang dikatakan-Nya. Persekutuan dengan Kristus menuntut hati yang tidak terbagi, dan hati yang sungguh berpaut kepada Kristus akan dikenali dari buah kehidupan.
Itulah kemuridan yang utuh. Apa yang kita rayakan di altar, kita bawa ke dalam kehidupan. Apa yang kita dengarkan dari Sabda, kita wujudkan dalam tindakan. Utuh dalam hati, utuh dalam kata, utuh pula dalam tindakan. Sebab pohon yang baik tidak perlu banyak bicara, buahnya sendiri akan menjadi kesaksian.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kebahagiaan Sejati, Memiliki Tanpa Dimiliki
Saya mengakhiri renungan ini dengan sebuah pantun:
Burung bernyanyi di atas dahan,
Terbang kembali menjelang petang.
Jangan terbagi hati kepada sesembahan,
Pilihlah Kristus dalam setiap tindakan.
Petikan BUSA-H #12/09/2026
“Pohon tidak perlu memasang iklan untuk meyakinkan orang bahwa dirinya baik, sebab musim berbuah akan membuktikannya.”
”Berhala tidak selalu berbentuk patung, ia bisa berwujud apa saja yang mengambil tempat Tuhan di hati kita.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dari Maria, Kita Belajar Menjadi Berkat
”Apa yang kita rayakan di altar harus menjadi nyata dalam cara kita hidup setelah meninggalkan altar.”
”Sia-sia berseru “Tuhan, Tuhan”, jika hati masih terbagi kepada sesembahan yang lain.”
Tuhan memberkati kita#rd.fd@





