Demam Babi Afrika Merajalela di Sikka, Babi Mati Dijual Papalele di Pasar
MAUMERE,dewadet.com-Virus Demam Babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) yang semakin merajalela lebih kepada ulah manusia. Di Pasar Alok, Kota Maumere, Pulau Flores, Selasa 29 April 2025, para papalele membuat babi mati bercampur babi-babi hidup.
Disaksikan di Pasar Alok, sebuah pikap cat hitam diparkir pada sisi jalan sebelah barat pasar memuat belasan ekor babi ukuran kecil, sedang dan besar. Diantara babi-babi tersebut, terdapat seekor babi besar putih telah mati dikerubungi lalat.
Babi-babi ukuran kecil, sedang dan besar ditawarkan dengan harga murah meriah ratusan ribu rupiah. Meski tak ada yang pembeli yang berminat membelinya.
Selain dua pikap memuat babi mati dan hidup, dua pikap lainya yang diparkir di seberang jalan juga memuat belasan ekor babi sedang ditawarkan harga ratusan ribu rupiah dari harga normal sekitar Rp 3-5 juta perekor. Itupun tak pembeli yang berminat.
Baca juga:Romanus Woga Ibaratkan Koperasi Desa Merah Putih, Matahari Tenggelam Sebelum Terbit
“Untung Rp 100.000-Rp 200.000 perekor juga tidak masalah. Kami juga beli murah saja di kampung,” kata pria paruh bayah enggan sebutkan identitasnya.
Papalele lainya menjual enam ekor babi meletakan di tanah di sisi jalan, seekor babi mati dipisahkan dengan babi yang masih hidup.
Pria ini mengaku membeli babi di kampung-kampung dengan harga murah kemudian menjualnya kembali. Bila babi-babi tersebut mati sebelum laku, dia mengatakan sudah resiko baginya.
Kejadian serupa terjadi bulan yang lalu di Pasar Nita yang berlangsung setiap hari Kamis, tiga ekor babi dijual papalele mati di pasar itu. Babi mati diletakan bercampur dengan babi hidup yang diduga terjangkit virus demam babi.
Baca juga: Mulailah dari Pendidikan, Saran Romanus Woga untuk Koperasi Desa Merah Putih
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Yohanes Emil Satriawan mengatakan sosialisasi dan edukasi pencegahan penyakit virus babi hanya dipahami oleh segelintir warga. Lebih banyak orang yang tidak peduli dengan penyakit yang mewabah di semua kabupaten dan kota di Pulau Flores.
Ia mengatakan larangan pemerintah melalui surat edaran mengatasi penyakit demam babi sudah disebarluaskan dan disosialisasikan. Usaha ini rupanya tidak berdampak bagis mencegah meluasnya penyakit demam babi.
“Perlu ada terobosan yang lebih tegas lagi dengan sanksi hukum supaya bikin orang jerah. Kalau tidak, keadaan ini terus berlangsung dan semua orang rugi, karena ulah segelintir orang,” tegas Jemi Sadipun, sapaan Yohanes Satriawan.
Sampai akhir bulan Maret, babi mati terjangkit demam babi Afrika mencapai 2.026 ekor. Menurut Jemi, selama masyarakat tidak partisipasi mencegahnya maka selama itu virus ini akan terus merajalela. *
Penulis: Eginius Moa
Editor: Eginius Moa





