Minggu, 12 April 2026. Hari Minggu Paskah II Minggu Kerahiman Ilahi. Kisah Para Rasul 2:42-47; 1 Petrus 1: 3-9; Yohanes 20:19-31.

Oleh: Rd.Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara terkasih dalam Kristus, selamat merayakan Hari Minggu Paskah Kedua, Minggu Kerahiman Ilahi. Hari ini Gereja mengajak kita merenungkan wajah Allah yang penuh belas kasih, kasih yang tidak hanya mengampuni tetapi juga memulihkan dan menghidupkan kembali.

Perayaan ini ditetapkan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 2000, bertepatan dengan kanonisasi Santa Faustina Kowalska. Dari pengalaman rohani Santa Faustina inilah Gereja semakin menyadari bahwa Minggu Paskah Kedua adalah mahkota dari perayaan Paskah, puncak dari pewartaan kasih Allah yang bangkit dan bekerja dalam hidup manusia.

Namun ketika kita merayakan kerahiman ini, kita tidak hidup dalam dunia yang tenang. Dunia kita hari-hari ini diwarnai oleh konflik dan ketegangan. Kita menyaksikan bagaimana perang dan kekerasan terus terjadi, bagaimana manusia mudah jatuh dalam logika saling melukai.

Ketegangan antara Iran, Israel-Amerika Serikat mengingatkan kita bahwa perdamaian masih rapuh. Perang membawa ketakutan, duka, kecemasan, dan penderitaan terutama bagi mereka yang tidak bersalah.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dibasuh untuk Mengasihi: Jalan Ekaristi yang Mengubah Hidup

Di tengah situasi seperti ini, Gereja melalui Paus Leo XIV mengajak dunia untuk memilih jalan lain, yaitu menghentikan kekerasan, membuka dialog, dan mengupayakan damai. Maka Sabda Tuhan hari ini menjadi sangat relevan, karena berbicara tepat ke dalam situasi dunia kita.

Kita kemudian dibawa masuk ke dalam Injil Yohanes. Para murid berada dalam situasi yang tidak jauh berbeda dengan dunia saat ini. Mereka diliputi ketakutan dan trauma. Pintu-pintu terkunci rapat. Tetapi kunci itu bukan hanya pada pintu rumah, melainkan juga pada hati mereka. Hati yang terluka, iman yang goyah, dan komunitas yang tercerai-berai.

Di tengah keadaan seperti itu, Yesus yang bangkit hadir dan berdiri di tengah mereka. Kehadiran ini sangat penting. Ia tidak terhalang oleh pintu yang terkunci. Artinya kebangkitan Kristus tidak pernah terhalang oleh ketakutan, dosa, atau kegagalan manusia.

Dan kata pertama yang Ia ucapkan adalah ’damai sejahtera bagi kamu.’ Damai yang Ia berikan bukan sekadar tidak adanya konflik, tetapi damai yang memulihkan, yang menyatukan kembali, yang mengembalikan manusia pada relasi yang benar dengan Allah dan sesama.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Rabu Mata-Mata: Setia Tanpa Tawar, Mengasihi Tanpa Syarat

Dari sini kita melihat inti dari Kerahiman Ilahi. Allah selalu mengambil inisiatif lebih dahulu. Ia datang bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memulihkan. Ia tidak menunggu manusia menjadi sempurna, tetapi Ia mendatangi manusia dalam kelemahannya.

Lalu Yesus menunjukkan luka-luka-Nya. Ini menjadi tanda yang sangat dalam. Luka tidak dihapus dalam kebangkitan, tetapi diubah maknanya. Luka yang dahulu menjadi tanda kekerasan kini menjadi tanda kasih. Luka yang dahulu melukai, kini menjadi sumber pengampunan. Artinya dalam terang Paskah, luka tidak lagi menjadi alasan untuk membalas, tetapi menjadi jalan untuk mengasihi.

Dari pengalaman ini kita diajak melangkah lebih jauh. Yesus menghembusi para murid dan memberikan Roh Kudus. Ini mengingatkan kita pada kisah penciptaan ketika Allah menghembuskan napas kehidupan kepada manusia. Maka yang terjadi di sini adalah penciptaan baru.

Para murid yang tadinya takut kini diubah menjadi komunitas yang diutus. Mereka menerima kuasa, tetapi bukan untuk menghukum atau menguasai, melainkan untuk mengampuni dan memulihkan.
Pada titik ini kita melihat bahwa Gereja sejati adalah Gereja yang menghadirkan kerahiman.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Antara Yudas dan Petrus, Ke Mana Arah Hati Kita

Hal ini ditegaskan dalam Kisah Para Rasul. Umat perdana hidup dalam kesatuan, bertekun dalam pengajaran, dalam persekutuan, dalam doa, dan dalam pemecahan roti. Mereka saling berbagi dan saling memperhatikan. Tidak ada yang berkekurangan di antara mereka. Mengapa demikian? Karena kerahiman yang mereka terima dari Tuhan tidak mereka simpan, tetapi mereka bagikan dalam hidup sehari-hari.

Pengalaman yang sama ditegaskan oleh Rasul Petrus. Ia berbicara tentang harapan yang hidup karena kebangkitan Kristus. Harapan ini bukan sekadar angan-angan, tetapi kekuatan yang membuat orang mampu bertahan dalam pencobaan. Harapan ini menyalakan terang di tengah kegelapan dan memberi daya untuk tetap setia di tengah kesulitan.

Dalam semua pangalaman para murid dalam Injil yang ditegaskan dalam Kisah Para Rasul dan oleh Rasul Petrus, kita diajak melihat sosok Tomas. Ia sering disebut sebagai orang yang ragu, tetapi sebenarnya ia mewakili banyak dari kita. Ia ingin bukti, ia ingin kepastian, ia ingin mengalami sendiri.

Dan yang menarik, Yesus tidak menolak dia. Yesus justru datang kembali dan menjumpainya secara pribadi. Dari perjumpaan itu lahirlah pengakuan iman yang paling dalam, ’ya Tuhanku dan Allahku.’ Dalam pengakuan ini, iman bukanlah hasil paksaan, tetapi buah dari perjumpaan dengan Kristus yang hidup. Tuhan tidak menjauh dari keraguan kita, tetapi masuk ke dalamnya dan menuntun kita menuju iman yang sejati.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Di Antara Maria dan Yudas: Memurnikan Hati Tanpa Topeng

Saudari dan saudara terkasih, Sabda Tuhan hari ini menjadi cermin bagi hidup kita. Kita hidup di dunia yang sering kali diwarnai oleh logika balas dendam. Luka dibalas luka, kebencian dibalas kebencian. Tetapi kebangkitan Kristus menawarkan cara hidup yang berbeda. Luka diubah menjadi kasih, ketakutan diubah menjadi damai.

Pertanyaannya kemudian menjadi sangat personal bagi kita, yakni: ”bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan keluarga kita? Dalam relasi sehari-hari, berapa banyak luka yang kita simpan? Berapa banyak kata yang melukai? Berapa banyak sikap diam yang menyakitkan? Berapa banyak kecurigaan dan gosip yang merusak relasi?

Maka cahaya kerahiman hari ini menerangi langkah kita untuk berani mengatakan damai sejahtera bagi siapa saja melalui tindakan nyata. Mungkin dengan meminta maaf, mungkin dengan mengampuni, mungkin dengan berhenti menyebarkan kebencian terutama di dunia digital yang sering kali menjadi ruang tanpa belas kasih.

Kita juga diajak untuk jujur melihat diri kita. Ada di antara kita yang masih membawa rasa bersalah, kegagalan, dan kecemasan. Ada yang merasa tidak layak di hadapan Tuhan. Tetapi hari ini kita diingatkan bahwa tidak ada dosa yang lebih besar daripada kerahiman Tuhan. Tidak ada luka yang tidak dapat disentuh oleh kasih-Nya. Tidak ada kegelapan yang tidak dapat diterangi oleh terang kebangkitan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tuhan Memerlukannya

Karena itu devosi kepada Kerahiman Ilahi tidak boleh berhenti pada doa saja. Devosi harus menjadi gerakan hidup. Devosi harus mengalir dalam kepedulian. Devosi harus tampak dalam tindakan nyata. Mengampuni, berbagi, dan hadir bagi sesama.

Sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk menjadi tanda kerahiman itu. Kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai di tengah konflik, menjadi pengharapan di tengah keputusasaan, dan menjadi kasih di tengah dunia yang terluka.

Akhirnya saudari dan saudara terkasih, kita semua adalah orang-orang yang telah mengalami kerahiman Tuhan. Kita pernah jatuh dan Tuhan mengangkat kita. Kita pernah ragu dan Tuhan meneguhkan kita. Kita pernah lemah dan Tuhan menguatkan kita.

Sekarang kita diutus untuk membawa kerahiman itu ke dalam dunia. Supaya melalui hidup kita, orang lain dapat merasakan bahwa Tuhan sungguh hidup, Tuhan sungguh mengasihi, dan Tuhan sungguh berbelas kasih.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Satu Mati untuk Semua: Bukan Karena Kalah Tetapi Karena Kasih

Petikan BUSA-H untuk kita:

”Luka yang diserahkan kepada Tuhan tidak lagi menjadi sumber balas dendam, melainkan berubah menjadi jalan lahirnya kasih yang memulihkan.”

”Damai sejati tidak dimulai dari dunia yang tenang, tetapi dari hati yang berani mengampuni di tengah badai kehidupan.”

”Kerahiman Tuhan yang kita terima menemukan maknanya yang paling utuh ketika kita berani membagikannya kepada sesama yang terluka.”

Tuhan memberkati kita.#rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan